Home / Dasar-Dasar Islam / Tazkiyatun Nufus / Merindukan Hujan

Merindukan Hujan

Perbuatan Manusia dan Peringatan Allah

Sebenarnya dalam kondisi musim kering sekali pun Allah tetap memberikan hamba-hamba-Nya buah-buahan yang banyak mengandung air seperti kelapa jambu, melon, semangka, dan lain-lain. Namun begitu hujan ini Allah tahan untuk beberapa waktu lamanya di suatu wilayah maka daerah tersebut menjerit karena mengalami berbagai kesulitan hidup. Musim kemarau panjang kini tengah melanda negeri kita. Pada saat kemarau seperti ini, datanglah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab membakari hutan baik secara sengaja atau tidak yang mengakibatkan bermunculannya kabut asap yang tidak terkendali. Banyak daerah tertimpa bencana kabut asap. Pekan Baru, Bengkulu, Palembang Jambi, dan sebagian besar Pulau Sumatera diselimuti asap yang sangat mengganggu kegiatan dan merusak kesehatan demikian juga di sebagian Pulau Kalimantan seperti di Banjarmasin dan Palangka Raya kabut asap sangat mengganggu aktivitas masyarakat.

Akibat kabut asap ini muncul berbagai penyakit yang payah seperti gangguan saluran pernafasan, paru-paru, penyakit mata dan lain sebagainya. Penyakit akibat asap sudah merenggut beberapa nyawa, dan akibat penyakit ada yang menahun terutama pada anak-anak sehingga dampaknya merusak jaringan sel dan syaraf setelah mereka dewasa nanti.

Kemarau panjang di suatu wilayah atau kurangnya hujan di daerah lain bukan peristiwa biasa, namun merupakan peringatan dari Allah Taala agar manusia kembali mengingat nikmat Allah berupa air. Kelalaian dan kesombongan manusia yang melampaui batas terkadang melupakan bahwa Allah mampu berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Allah telah memberi peringatan:

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (Al-Mulk: 30)

Kekurangan air hujan boleh jadi disebabkan karena banyaknya perbuatan maksiat kepada Allah di wilayah atau di negeri tersebut. Karena itu, apabila kita menginginkan hujan segera turun dan kabut asap dapat ditanggulangi, seluruh rakyat hendaknya bertobat memohon ampunan Allah dan menghentikan perbuatan-perbuatan maksiat seperti zina, judi, miras, narkoba, kekerasan, perselisihan, dan hal-hal yang dimurkai Allah lainnya. Para pemimpin di daerah yang ditimpa bencana asap maupun di pusat sudah selayaknya menyadari kesalahan mereka yaitu membiarkan para perambah hutan membakari rumput atau mengambil kayu dengan cara membakar hutan. Kemudian para pemimpin dan rakyat yang sadar dimana pun yang tertimpa kekeringan hendaknya membuat kegiatan doa dan istighfar bersama. Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tidak akan menyia-nyiakan doa dan permohonan hamba-hamba-Nya yang mengaku kesalahan dan memohon ampunan kepada-Nya. Janji Allah akan berlaku sebagaimana dikatakan Nuh Alaihis Salaam kepada kaumnya,

maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh: 10-12)..

Mintalah Hujan Kepada Allah

Memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan di saat musim kemarau merupakan salah satu syariat Islam. Di suatu daerah yang dilanda kemarau berkepanjangan masyarakatnya dapat melakukan doa dan shalat bersama yang disebut dengan “shalat istisqa” (shalat minta hujan). Pemimpin hendaknya mengumumkan pelaksanaan shalat istisqa tersebut beberapa hari sebelumnya sambil mengajak orang-orang bertobat dari kemaksiatan, keluar dari kezhaliman, berpuasa sunnat dan meninggalkan perselisihan. Kemaksiatan merupakan penyebab datangnya paceklik sebagaimana ketaatan merupakan penyebab datangnya kebaikan dan keberkahan.

Saat mendatangi shalat istisqa jamaah shalat boleh membawa binatang-binatang ternak dan diwajibkan menunjukkan kesederhanaan di hadapan Allah dengan tidak menggunakan pakaian mewah. Shalat istisqa mirip dengan shalat dua hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha dan dikerjakan di waktu yang sama yaitu awal pagi sekitar Jam 6 hingga Jam 8 pagi. Pada rakaat pertama dibaca takbir tujuh kali dan rakaat kedua lima kali takbir. Imam juga berkhutbah dengan memperbanyak istighfar kepada Allah. Sebelum menyelesaikan khutbahnya Imam menghadap ke arah Kiblat dan membaca doa yang diaminkan oleh para jamaah dengan penuh khusyu dan tawadhu. Doa ini sebagaimana yang diajarkan Nabi Muhammad saw yang artinya,

Ya Allah berikanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, tidak mengandung bahaya, yang membawa akibat baik, menyegarkan, airnya melimpah, besar manfaatnya, merata, dalam waktu yang lama dan kuat curahannya terus menerus. Ya Allah siramkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, berkatilah para hamba-Mu, daerah-daerah, hewan-hewan ternak, dan para makhluk yang kelaparan, kesulitan dan kesempitan yang tidak kami keluhkan kecuali kepada-Mu, Ya Allah tumbuhkanlah tanaman kami jadikanlah sir susu ternak kami berlimpah ruah, siramilah kami dengan sebagian dari berkah langit, dan tumbuhkanlah bagi kami sebagian dari berkah bumi. Ya Allah hilangkanlah dari kami kepayahan, kelaparan, kurang sandang, dan lepaskanlah kami dari malapetaka yang tidak seorang pun dapat melepaskannya kecuali Engkau. Ya Allah sungguh Kami memohon ampun kepada-Mu karena sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengampun , kirimkanlah kepada kami hujan yang deras. Ya Allah siramilah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu curahkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah daerah-Mu yang mati. (aus/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Dilahirkan di Garut pada Juli 1961, aktif dalam kegiatan dakwah dan tulis-menulis sejak SMU dan Mahasiswa di Univ. Indonesia.

Lihat Juga

Kiat Menghafal Quran

Organization