Home / Narasi Islam / Sosial / Membebaskan Makna Kemerdekaan

Membebaskan Makna Kemerdekaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (komikmerdeka.deviantart.com)
Ilustrasi. (komikmerdeka.deviantart.com)

dakwatuna.com – Zaman tengah gelisah, begitu kata para penjelajah arus. Para penjelajah arus ini hanya bisa berhipotesa membaca kegelisahan zaman. Di beberapa puisi dan lagu yang bernuansa nasionalis juga bercerita tentang Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi yang di analogikan sebagai sebuah negeri indah nan subur di pojok Asia Tenggara. Negeri yang kaya, namun sumber daya alam potensialnya lebih banyak di kuasai dan di kelola oleh bangsa asing. Negeri yang selama puluhan tahun kebingungan dan bergulat mencari identitas Negara, sebab partai pemenang pemilihan umum dan pemilihan Presidenlah menjadi penentu ideologi mana yang akan di gunakan untuk mengelola Negara, apakah sosialis, komunis, liberal, sekuler, nasionalis, atau Islam dengan kelengkapan dan universalnya ajarannya dalam mengatur Negara, umat, dan pemerintahan.

Katanya, Ibu Pertiwi tengah menangis. Ibu pertiwi tengah di rundung duka. Duka yang mendalam karena problematika kebangsaan yang tak kunjung usai, tujuan kemerdekaan yang belum tercapai dan masih harus di lanjutkan. Sampai saat tulisan ini di tulis, Organisasi Masyarakat Islam Persyarikatan Muhammadiyah sedang bermusyawarah menentukan jajaran pimpinan untuk melanjutkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Persyarikatan Muhammadiyah yang melalui gerakan dakwahnya juga turut mengambil peran penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan sekali lagi melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang belum tercapai. Persyarikatan Muhammadiyah hanya salah satu contoh gerakan yang juga ingin turut menuntaskan problematika keumatan bangsa ini.

Satu hal yang menarik perhatian, orang selama ini lebih mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi yang fokus berjuang di bidang sosial. Sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah tersebar di mana-mana. Tapi di abad kedua usianya, Muhammadiyah mengukuhkan diri untuk berjuang melawan kebijakan yang dalam penilaiannya dapat menyengsarakan umat. Muhammadiyah hadir dan berdiri tegak di gedung Mahkamah Konstitusi. Sudah empat uji materi undang-undang yang di ajukan di kabulkan Mahkamah, yaitu Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kini ada tiga uji materi Muhammadiyah yang sedang di proses. Putusan Mahkamah Konstitusi tentang uji materi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi menjadi tonggak bersejarah bagi gerakan Muhammadiyah di abad ke-2. Putusan Nomor 36/PUU-X/2012 tertanggal 13 November 2012 tersebut adalah uji materi pertama Muhammadiyah yang menandai keberhasilan jalan baru perjuangan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini. Jalan ini disebut sebagai jihad konstitusi (Majalah Dakwah Tabligh Muhammadiyah Edisi No.10/XII Syawal-Dzulqa’dah 1436 H).

“Gerakan jihad konstitusi ini adalah amar makruf dan nahi mungkar,” kata Eks-Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (Tempo, 8 Juli 2015). Di Negeri yang tengah terombang-ambing oleh berbagai problematika ini butuh solusi yang konkret terkait perbaikan di setiap sektornya. Muhammadiyah yang gerakan dakwahnya hampir di seluruh sektor memberikan pelajaran kepada kita semua betapa universalnya ajaran Islam, betapa dakwah mengurusi semua hal, dengan gerakan jihad konstitusi yang dilakukannya. Sungguh bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi gerakan dakwah seperti Muhammadiyah yang mencerahkan bangsa ini, pada tataran prakteknya, dalam gerakan Dakwah Muhammadiyah juga menjaga keseimbangan purifikasi dan dinamisasi.

Dari Muhammadiyah hendaknya kita belajar, bahwa ada banyak persoalan umat yang harus di tuntaskan daripada berdebat panjang tak ada habisnya. Lebih baik bekerja dan turun langsung ke lapangan membantu dan menjadi bagian dari solusi dibandingkan mengkafirkan sesama muslim. Janganlah engkau gentar dengan orang-orang yang ber-make up tebal lalu menolak dakwah yang engkau sampaikan. Janganlah engkau mundur menghadapi orang-orang yang sering berkata kepadamu, “urus saja dirimu sendiri, ngapain urus orang lain?”. Untuk orang-orang yang seperti ini jangan sekalipun engkau mundur selangkah pun, sebab engkau sedang menjalankan kewajiban yaitu berdakwah, dan ingatlah bahwa dakwah telah mengajarkan kepadamu bahwa hendaknya engkau lebih mencintai umat ini daripada dirimu sendiri.

Memahami persoalan umat dan bangsa ini tentunya di mulai dari memahami individu yang menyusun lapisan struktur sosial kemasyarakatan. Engkau tentunya akan menemukan banyak orang-orang yang tak ingin hidupnya di atur oleh agama ini dan menolak setiap ajakan dan seruanmu. Tetapi teruslah menyeru dan menyampaikan kebenaran sekalipun itu di depan penguasa zhalim. Di depan penguasa zhalim saja engkau diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran, apalagi di depan orang-orang yang akan menghinamu, mencaci maki dirimu, jangan sekalipun gentar menyampaikan tentang kebenaran. Sebab engkau adalah orang yang merdeka, meskipun engkau bukan pejuang kemerdekaan. Engkau akan selalu merdeka bila engkau merdeka dari penghambaan kepada sesama makhluk, lalu engkau mengabdikan dirimu pada Ilahi.

Bangsa yang sedang merayakan ulang tahun kemerdekaannya ke-70 ini sedang menanti tekad kuat melebihi kokohnya baja, tak takut di caci, tak gentar mati, demi bangsa, Negara, dan Tuhannya. Sebab dengan tekadlah engkau akan di perhitungkan. Dengan tekad melebihi kokohnya baja engkau akan sanggup mengubah kondisi umat dan bangsa ini, dengan karya-karya nyatamu, karya-karya nyata yang tak semuanya harus kau posting di sosial media, sebab bila semua karya kau posting di sosial media engkau akan tahu betapa sulitnya menyerap dan memahami makna ikhlas. Karya nyata serta kontribusi yang menggetar hati, membakar semangat juang, memicu jiwa yang rela berkorban, lalu mendorong orang-orang untuk berubah, berubah dari terlalu mementingkan diri sendiri menjadi mencintai umat ini lebih dari pada mencintai diri sendiri.

Marilah membebaskan makna kemerdekaan, agar merdeka tak sekedar kata-kata indah, namun memberi dampak kepada para penikmat kemerdekaan. Dampak yang mengubah pola pikir bangsa ini, bangsa yang terus menerus membenahi dirinya menjadi bangsa yang berpengaruh di dunia. Negeri indah khatulistiwa yang sedang menghadapi era gelombang ketiga peradaban.

Berhentilah sejenak, lalu pandanglah bangsa ini sejenak dari sudut pandang yang tidak biasa. Pandanglah dengan memapas segala ego dalam dirimu, pandanglah dengan mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan dirimu sendiri. Nusantara indah nan elok yang sebentar lagi akan berusia 70 tahun ini tengah menunggu kontribusi nyata dari para pemudanya. Pemuda yang cerdas, pemuda yang intelek yang tak mengedepankan otot daripada otaknya. Bangsa ini terus memanggil-manggil namamu, menuntut pengorbananmu untuk memajukannya, memakmurkannya, dan menyejahterakannya. Sebab itu adalah titah dari Rabb-mu yang memintamu terus bekerja dan berkontribusi untuk bangsa ini, dengan landasan iman yang kuat, pemahaman Islam yang benar dan komprehensif, sehingga mampu membawa NKRI menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Trainer Nasional Faktor Destruktif Remaja Kemenpora RI, Trainer Nasional Character Building Kemenpora RI, Aktif di KAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Mubarak Bebas, Raja Salman dan Pemimpin Arab Lainnya Berikan Selamat