Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Keteraturan Alam, Bencana, dan Refleksi Diri

Keteraturan Alam, Bencana, dan Refleksi Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (orgsc.com)
Ilustrasi. (orgsc.com)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang –orang berakal, (yaitu) orang –orang yang mengingat Allah sambi berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kam dari azab neraka’.” (QS Ali Imran[3]: 190-191)

Menyaksikan segala keteraturan yang terdapat di alam semesta, sudah barang tentu kita menyakini bahwa semua ini tidaklah terjadi hanya karena sebuah kebetulan belaka. Layaknya peristiwa pertukaran malam dan siang yang terjadi dalam keseharian kita, di sana terdapat sebuah tanda –tanda bagi mereka yang menggunakan akalnya bahwa ada sesuatu yang tidak diketahui yang mengendalikan mereka semua. Bahwasanya, di sana terdapat sebuah campur tangan kekuasaan yang tidak diketahui asal usulnya menurut ilmu pengetahuan, tetapi keyakinan kita telah mengatakan serta menegaskan bahwa Dia-lah Allah yang mengatur itu semua. Dialah Allah, sang Khaliq yang mahabaik, yang telah menetapkan segala hal di alam semesta ini termasuk diri kita sendiri. Sehingga, sudah selayaknya jika kita mengaku orang beriman untuk senantiasa mengikuti segala apa yang telah menjadi aturan main Sang Pencipta yang telah merancang dan menciptakan kita dan seluruh alam semesta.

Allah swt, tiada tuhan yang berhak disembah dan diagungkan selain Dia, telah memerintahkan jin dan manusia untuk senantiasa berbakti dan beribadah kepada-Nya. Dia pulalah yang telah memberikan wewenang kepada manusia untuk bertindak sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, agar mereka senantiasa taat berbakti, senantiasa melaksanakan dan menegakkan hukum-hukum syariat Allah sehingga keteraturan alam semesta ini dapat senantiasa terjaga. Keteraturan yang pada hakikatnya diberikan untuk kemaslahatan manusia sendiri selama ia singgah di bumi dunia ini. Sehingga, bukan hanya karena perintah sang mahadiraja untuk kita menjaga keteraturan alam semesta ini, tetapi dengan menjaga amanah ini pun adalah sebuah ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikanNya kepada kita, manusia. Rasa syukur yang insya Allah akan memberikan manusia nikmat yang jauh lebih besar dari sisi-Nya.

Menjaga keseimbangan alam semesta adalah sebuah kewajiban sekaligus kebutuhan yang nyata bagi manusia. Mereka bersyukur dengan melakukan penjagaan dan perbuatan –perbuatan baik, Allah sendiri menjanjikan akan menurunkan keberkahan dari langit dan bumi. Sementara, bagi mereka yang berlaku sebaliknya, orang –orang yang kufur atas nikmatNya serta berbuat kerusakan di muka bumi, maka azab Allah adalah sesuatu hal yang pasti terjadi. Layaknya keteraturan yang terganggu karena tangan manusia, itulah sebuah ketidakteraturan. Ketidakteraturan yang kemudian kita sebut sebagai sebuah bencana alam. Bencana yang pada hakikatnya adalah cara alam tersendiri untuk kembali kepada keteraturannya setelah terusik manusia.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghedaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Ruum[30]:41)

Bencana alam, bentuk sebuah teguran bagi orang –orang beriman agar mereka kembali pada jalan yang benar. Allah mengingatkan dengan tanda –tanda alam agar manusia kembali pada hakikatnya. Agar mereka kembali kepada aturan yang semestinya diikuti. Inilah cara indah Allah dalam mengembalikan sekaligus memberi pelajaran bagi orang –orang yang memiliki akal. Namun di sisi lain, bencana ini pun dapat pula berlaku sebagai sebuah azab. Azab bagi orang –orang yang tetap saja berlaku lalai dan kufur atas nikmatNya. Azab untuk menghukum orang –orang yang tetap keras kepala dan menghiraukan tanda –tanda kekuasanNya yang telah Ia banyak tunjukkan dihadapan mata mereka.

Hal –hal inilah yang perlu kita insyafi di dalam kehidupan kita, di negeri tercinta ini. Bencana yang datang silih berganti, mulai dari tsunami, tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga bencana kekeringan yang saat ini tengah mengancam beberapa daerah di negeri ini, adakah ini sebuah teguran untuk kita kembali ke jalan semestinya? Ataukah semua ini adalah sebuah bentuk azab yang diberikan oleh sang mahakuasa, dengan cara Ia mencabut keberkahan bumi dan langit tempat kita berpijak dan menjatuhkan bencana yang silih berganti karena kita senantiasa keras kepala, selalu lalai, dan tetap berbuat kekufuran serta dosa yang menyakiti alam semesta? Adakah ini semua kita sikapi dengan biasa saja ataukah kita untuk mulai bertaubat dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan pertama –tama bertaubat kepadaNya. Sebuah refleksi bersama untuk kita renungi dan sadari bersama, bahwa sejatinya karena perbuatan kita sendirilah alam berlaku demikian terhadap kita manusia.

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa Teknik Kimia ITB 2012.

Lihat Juga

Tujuh Kompleks Pengungsi Sulteng Diresmikan ACT

Figure
Organization