Topic
Home / Pemuda / Essay / Si Tukang Chatting

Si Tukang Chatting

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

dakwatuna.com – Chatting, chatting, chatting!! Nampaknya kata chatting tak asing lagi didengar, terlebih semakin banyaknya jenis sosial media yang memfasilitasi kirim-kirim pesan secara singkat dengan harga murah dan terjangkau. Dunia teknologi semakin baru dan canggih saja, kalau dulu empat sampai tujuh hari ketika seseorang mengirim pesan, pesannya baru kebaca, lah sekarang mengirim dengan waktu dua detikpun sudah dapat dibaca. Bahkan foto-foto pribadi dan komunitas sudah bisa publish dan dilihat oleh banyak orang, dan di nikmati.

Seolah, dengan adanya media sosial yang banyak menawarkan kelebihan-kelebihan seseorang lupa pada penggunaan sebenarnya. Yang mungkin, ketika di dunia nyata seseorang ini selalu menjaga image baiknya, menundukkan pandangan ketika berbicara berlaku sopan dan selalu menjaga etika terhadap lawan jenis, terutama yang bergelar “Ikhwan” . Di luar sana, banyak yang mengagguminya, ketika seseorang baru mengenalnya, baru tau tentangnya, dengan kewibawaanya ketika berjalan, dengan kekonsistensiannya menundukkan pandangan dan sebagainya. Membuat banyak orang terkagum-kagum melihat penampilan langka seperti ini. Namun hal itu hanya tinggal episode lama ketika seorang yang bergelar ‘Ikhwan’ tadi sudah memasuki dunia sosial media, tak ada rasanya batasan-batasan yang menghalangi untuk berinteraksi. ‘toh, tidak bertatap muka juga, ngga papa dong!’ sebagian dari mereka berpikir demikian. Mungkin pikirannya ketika berbicara dengan lawan jenis, bercanda-canda, hanya ia dan lawannya lah manusia yang tahu, jadi bebas saja. Perlu ditekankan kembali, hal itu semua akan terungkap dengan bergulirnya waktu.

Pernah suatu ketika, ada seorang akhwat mengadu, perihal seorang ikhwan yang ngechat si akhwat, mulai dari hello hay, sampai candaannya pun muncul, hingga tiap hari candaan-candaan itu menghiasi kehidupannya. Yang anehnya, si akhwat mau-mau nya aja di ajak chat-chatan sebegitunya. Sedang orang yang sempat mengagumi si ikhwan ketika tahu bahwa si ikhwan bisa juga bercandaan di sosial media langsung dah, bagaikan durian jatuh mengenai kakinya yang tanpa menggunakan alas apapun. Hilang sudah kekaguman-kekaguman itu.

Sosial media merupakan media yang memfasilitas komunikasi yang berbahaya untuk seseorang. Bagaimana tidak, banyak yang tidak malu, chattingan dengan lawan jenis, sekadar mengomentari tulisan-tulisan yang tidak penting nongol di BBM. Hingga awalnya iseng mengomentari sampailah pada titik candaan. ‘tak ada manusia yang tau’ pikirnya jelas. Jadi seenaknya aja layangan-layangan guyonan itu muncul dengan sendirinya, tak tahu, jika setan ikut andil dalam urusan ini. Bahayanya jika sudah kebiasaan berinteraksi dengan lugas di sosial media, malah dunia nyatanya ngikut juga.

Awalnya sekadar iseng-iseng juga, punya teman seorang ikhwan yang nih orang selalu terbuka dan sering minta saran dan sebagainya tentang dirinya. Penulis yang seorang akwat jadi nggak enak juga. Usut punya usut, dan akhirnya ternyata nih orang tidak pernah yang namanya diberi masukkan sama teman seperjuangannya (seperjuangan?? Bukan sepertinya, buktinya tidak pernah memberi masukkan). Mungkin hal inilah yang membuat dia sering chattingan dengan lawan jenis, membicarakan hal-hal yang tentunya tidak penting, dan penulispun menyadari jika yang ia lakukan pada itu orang nggak begitu penting juga hanya sekadar pengen tahu kenapa jalan ini yang dipilihnya. Doakan saja semoga dia segera diluruskan kembali. (Termasuk juga penulis), dan semoga yang mengaku temannya juga peduli terhadapnya.

Pesan untuk mereka, yang mungkin sudah mendapat gelar ‘Ikhwan’ atau ‘Akhwat’ deh ya… antum-antum ini orang yang paham di antara orang-orang di luar sana yang memang belum paham, kurangi interaksi yang tidak penting terhadap lawan jenis. Antum ini ternanugi oleh lembaga dakwah, sudah selayaknya antum-antum tunjukkan pada mereka yang belum paham, jika menundukkan pandangan itu tidak hanya di dunia nyata, namun di sosial media pun juga perlu menundukkan pandangan.

 

 

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Reni Novita Lestari
Mahasiswi di Universitas Palangka Raya senang dengan dunia kepenulisan selalu ingin belajar menyampaikan kebaikan dengan tulisan

Lihat Juga

‘As-Sisi Umumkan Perang terhadap Internet’

Figure
Organization