Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 7M Sebelum Ramadhan

7M Sebelum Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (mezoomar.deviantart.com)
Ilustrasi. (mezoomar.deviantart.com)

dakwatuna.com – Bulan istimewa sebentar lagi hadir di tengah-tengah kita; bulan agung tak lama lagi datang menghampiri; bulan besar sebentar lagi tiba menyapa kita. Sudahkah kita siap menyambut tamu agung yang setiap tahun menghampiri kita? Tidakkah kita rindu dengan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan, dan berkah? Tidakkah kita kangen dengan bulan yang di dalamnya Alquran diturunkan? Apakah pintu jiwa kita tak terketuk untuk menyambut bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan? Apakah hati kita tidak tertarik untuk mempersiapkan diri menyongsong kedatangan bulan yang amalan ibadah akan dilipatgandakan melebihi bulan-bulan biasa? Apakah diri kita siap menghadapi bulan perjuangan? Ya, bulan itu adalah bulan Ramadhan yang senantiasa kita tunggu-tunggu kedatangannya. Bulan yang merupakan waktu yang tepat untuk bekerja, beramal, berkontribusi sebagai ujian untuk amalan-amalan setelahnya; bulan yang merupan momen yang tepat bagi orang muslim untuk kembali merapatkan barisan dalam bingkai keislaman yang indah dan penuh rahmat; bulan yang mengilhami setiap muslim agar selalu semangat dan antusias dalam beribadah dimana pun dan kapan pun berada.

Karena begitu agung dan besarnya bulan Ramadhan, maka sebelum kedatangannya kita harus mempersiapkan diri agar ketika sudah masuk waktu Ramadhan, kita sudah siap menyambutnya. Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita memasuki bulan Ramadhan. Dalam judul tulisan di atas saya sebut sebagai: ‘7 M’ Sebelum Ramadhan. Maksudnya ialah tujuh hal yang perlu diperhatikan benar-benar sebelum kita memasuki bulan Ramadhan. Ketujuh hal tersebut ialah sebagai berikut:

Pertama: Memaknai Kembali Ramadhan

Yang dimaksud dengan memaknai kembali Ramadhan ialah kita berusaha menyegarkan kembali makna yang berkaitan dengan Ramadhan(tentunya dengan merujuk kembali kepada Alquran dan As-Sunnah). Selama ini kita menjumpai pada kebanyakan masyarakat muslim –pada sikap dan perilaku yang ditunjukkan- dalam memaknai Ramadhan ialah sebagai momen untuk melampiaskan segala amal yang dimampu. Di bulan Ramadhan banyak kita jumpai masjid-masjid menjadi penuh, orang berinfak kian menjamur, banyak sekali orang-orang yang tiba-tiba menjadi dermawan, banyak sekali orang yang jarang mengaji tiba-tiba mengaji. Kesan yang paling cepat ditangkap melihat fenomena tersebut memberikan gambaran seolah-olah Ramadhan adalah ‘pabrik pahala’ yang memacu seseorang untuk lembur sebulan penuh untuk meraup ‘keuntungan pahala’ sebesar-besarnya; seakan-akan Ramadhan menjadi semacam ‘perusahaan ampunan’ yang dikapitalisasikan sedemikian rupa untuk mendapatkan ampunan sebesar-besarnya, sehingga ketika keluar dari Ramadhan akan menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan. Meskipun keinginan untuk mendapat pahala dan ampunan sama sekali tidak salah, tapi kalau hal itu dijadikan fokus, maka akan berdampak negatif pada amalan-amalan sesudah Ramadhan. Akibatnya banyak sekali orang yang kembali seperti sedia kala, karena merasa sekeluarnya dari Ramadhan sudah terbebas dari dosa.

Ramadhan bukanlah ‘pasar kaget’ yang kelihatan ramai dan semarak tetapi hanya bersifat sementara. Ramadhan adalah bulan istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai semacam madrasah (sekolah) untuk menguji amal orang-orang beriman di bulan-bulan selanjutnya. Kalau kita merujuk pada ayat 183 dari surat Al-Baqarah, tujuan puasa ialah: la`allakum tattaqûn (agar kalian bertakwa). Artinya supaya amal-amal yang ada di dalamnya menjadikan kita orang bertakwa secara kontinu baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Kalau kita jeli membaca ayat-ayat yang senada dengan kata: la`allakum tattaqûn yang ada dalam Alquran, maka puasa Ramadhan hanya menjadi salah satu media untuk menjadikan manusia muslim bertakwa, media yang lebih luas untuk meraih takwa ialah dengan beribadah kepada Allah (Qs. Al-Baqarah: 21). Jadi merupakan pemahaman yang keliru jika kebanyakan orang menyangka hanya pada bulan Ramadhanlah waktu yang tepat mengaktualisasikan segenap amalan kebaikan, karena yang namanya ibadah –sebagai media untuk meraih ketakwaan- dilaksanakan bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga bulan-bulan sesudahnya. Jadi yang dimaksud dengan memaknai kembali ialah meluruskan kesalahpahaman kebanyakan orang yang menjadikan Ramadhan sebagai ajang ‘aji mumpung’ yang terbatas pada satu bulan.

Kedua: Membiasakan Diri dengan Amal

            Persepsi yang salah dengan Ramadhan berakibat negatif pada cara menyambut bulan Ramadhan. Banyak orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan persiapan-persiapan –yang sejatinya- lebih banyak bersifat materil daripada spirituil. Tak sedikit yang menyambutnya dengan mempersiapkan makanan sebanyak-banyaknya; membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan; bahkan ada yang sengaja membeli petasan atau yang semacamnya supaya Ramadhan terlihat meriah. Tentu saja ini sangat bertentangan dengan kandungan nilai Ramadhan, yang prinsip utamanya ialah menahan diri dan mengontrol jiwa. Artinya puasa bukan disambut dengan melampiaskan sesuatu secara materil. Puasa justru disambut dengan kesunyian, bukan keramaian. Puasa disambut dengan amalan-amalan yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Karena itulah jika kita melihat bagaimana para sahabat menyambutnya, ternyata bukan sambutan-sambutan yang menonjolkan perkara materil. Mereka menyambutnya dengan mepersiapkan diri pada enam bulan sebelum Ramadhan untuk membiasakan beramal. Sehingga ketika bulan Ramadhan datang –di samping sudah terbiasa beramal-, mereka semakin mudah untuk meningkatkan intensitas amal, sehingga ada peningkatan dari Ramadhan ke Ramadhan. Dengan membiasakan diri untuk beramal sebelum datangnya Ramadhan maka kita akan memasuki Ramadhon dengan penuh kesadaran, harapan dan siap menyambut ampunan Allah ta`âla sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallôhu `alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

Barangsiapa berpuasa Ramadhan (dengan penuh) iman dan harapan (meraih ridha Allah), (maka) dosa-dosanya yang telah berlalu (pasti) diampuni”(Hr. Bukhori Muslim). Masalahnya kemudian ialah: ungkinkah kita memiliki keimanan dan harapan maksimal, jika kita tidak membiasakan diri sebelum Ramadhan untuk beramal dan beramal?

Ketiga: Menanamkan Tekad yang Kuat

Yang tidak kalah pentingnya untuk dipersiapkan sebelum Ramadhan ialah: tekad yang kuat. Alquranmembahasakannya dengan kata ‘`azam’. Para Nabi dan Rasul punya yang memiliki tekad yang kuat dibanding dengan yang lainnya diistilahkan Alquran dengan istilah ‘ulul `azmi’ (yang mempunya tekad yang kuat). Tekad yang kuat akan lahir jika sebelum Ramadhan kita bisa mengetahui ilmu tentang puasa berikut keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya. Tekad yang kuat inilah yang nantinya akan menjadi energi dahsyat dalam berkarya dan berkontribusi dalam Ramadhan. Dengan tekad yang kuat, kita akan menghadapi Ramadhan dengan penuh kesadaran dan optimisme yang tinggi. Allah berfirman dalam Alquran:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Lalu apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(Qs. Ali Imron: 159). Kalau tekad sudah kuat dan bulat, maka upaya selanjutnya ialah segera merealisasikannya dengan amal-amalan nyata, sembari tetap menyerahkan atau mewakilkan hasilnya pada Allah ta`âla . Dengan tekad yang kuat dan disertai usaha dan menyerahkan hasil pada Allah ta`âla, bukan saja kita akan dimudahkan oleh Allah ta`âla, kita juga akan dicintai oleh Nya. Betapa bahagianya jika muslim mendapatkan cinta dari Allah subhanahu wata`ala. Kalau kita jumpai melalui litelatur sejarah bahwa para sahabat begitu semangatnya dalam menghidupkan amal dalam bulan Ramadhan, maka salah satu jawabannya ialah karena mereka mempunyai tekad yang kuat.

Keempat: Tazkiyatun Nafs (Mensucikan Jiwa)

Mensucikan jiwa (tazkiyatu al-nafsi) adalah hal yang mutlak untuk dipersiapkan sebelum Ramadhan, mengingat hanya dengan jiwa yang bersih seorang muslim bisa optimal dan maksimal dalam beribadah. Bahkan dalam Alqurandinyatakan salah satu perkara yang membuat beruntung ialah ketika manusia bisa mensucikan jiwanya. Allah ta`ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntung orang yang mensucikannya”(Qs. As-Syams: 9). Kenapa beruntung? Pada dasarnya, jika manusia mempunyai jiwa yang bersih, maka dia akan dengan ringan dan mudah untuk melakukan amalan kebaikan. Ibarat komputer, kalau bersih dari virus-virus dan didukung dengan ram yang bagus, maka kerja komputer akan lancar tanpa hambatan. Jiwa yang bersi inilah pada hakikatnya yang membantu orang mukmin bekerja dengan giat dan semangat.

Bagaimana agar jiwa kita berinteraksi dengan jiwa, agar senantiasa dalam kondisi yang prima? Imam Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam magnum opusnyaMinhâju al-Muslim’ mengatakan ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam berinteraksi dengan jiwa, diantaranya sebagai berikut:

  1. Taubat. Untuk mengembalikan jiwa pada kondisi primanya tentu saja kita harus mensucikannya dari noda kemaksiatan dan dosa. Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam meminta ampun dalam sehari sebanyak seratus kali. Orang yang sudah dijamin masuk surga saja seperti itu, lalu bagaimana dengan kita?

Allah berfirman dalam Alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(Qs. At-Tahrim: 8).

  1. Muhâsabah (evaluasi diri). Muhâsabah berarti berusaha menghitung-hitung kesalahan dan kelebihan diri untuk masa depan yang lebih baik. Allah berfirman dalam Alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Qs. Al-Hasyr: 18). Imam Abu Hamid Al-Ghozali dalam kitabnya yang berjudul: Ihyâ Ulumi al-Dîn menyitir perkataan Umar bin Khottob rodiyallohu `anhu:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا وزنوها قبل أن توزنوا وتهيئوا للعرض الأكبر

“Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat), timbanglah sebelum kalian ditimbang, serta persiapkanlah diri kalian untuk ‘pameran besar’(kehidupan akhirat). Bahkan Umar menulis surat pada Abu Musa Al-Asy`ari: “Evaluasilah dirimu keti dalam kondisi lapang, sebelum datangnya masa perhitungan di waktu susah (akhirat)”. Jadi evaluasi diri merupakan hal yang sangat penting untuk jiwa agar berada pada kondisi terbaiknya.

  1. Mujâhadah(bersungguh-sungguh). Untuk mendapatkan hasil terbaik, mau tidak mau seorang muslim harus bersungguh-sungguh. Apalagi dengan urusan yang berkaitan dengan pensucian jiwa untuk diorientasikan pada kehidupan akhirat. Allah berfirman dalam Alquran:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh pada(jalan) kami, maka sungguh akan kami tunjukkan pada jalan kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang yang muhsinin(berbuat baik)” (Qs. Al-`Ankabut: 69).

  1. Murôqobah(Merasa diawasi oleh Allah ta`ala)

Yang terakhir yang tidak kalah pentingnya ialah murôqobah yaitu sebuah kesadaran internal dari seorang mukmin bahwa Allah mengawasi segenap gerakgeriknya. Hatinya selalu on dengan Allah subhanahu wata`ala. Ia sadar betul dengan firman Allah ta`ala:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidaklah perkataan diucapkan melainkan padanya ada (malaikat) Roqib dan `Atid”(Qs. Qof: 18). Sehingga ia berusaha menjaga diri untuk tidak melakukan maksiyat dan dosa. Keimanan membuatnya sadar bahwa segala yang dilakukannya akan dipantau oleh malaikat yang bertugas mencatat amal. Ia juga ingat betul firman Allah ta`ala: “Sesungguhnya adalah Allah Maha Mengawasi kalian”(Qs. An-Nisa: 1). Itulah empat hal yang bisa membantu jiwa agar senantiasa bersih dan bisa berada dalam kondisi terbaiknya. Wallohu a`lam.

Kelima: Memanjatkan Doa

Manusia hanya bisa berusaha dan berikhtiar. Apapun hasilnya pasti Allah ta`ala yang menentukan. Hanya saja yang perlu diperhatikan dan cicamkan baik-baik ialah jangan sampai kita terlena dengan usaha yang akan kita kerahkan, khususnya jika kita mempersiapkan amal amal untuk menghadapi Ramadhan. Amal saja tidak cukup untuk mendapatkan hasil yang bagus, kita perlu ‘melibatkan Allah’ dengan cara berdo`a kepadanya. Berdoa merupakan hal sangat penting bagi mu`min. Imam tirmidzi meriwayatkan: “Berdoa adalah otak ibadah”. Artinya doa itu merupakan hal sangat penting dan inti dalam ibadah mukmin. Tetapi yang perlu ditekankan di sini ialah dalam berdoa kita harus optimis untuk dikabulkan. Nabi Muhammad shollallahu `alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdoa kecuali dikabulkannya. Bisa dengan dipercepat pemberiannya di dunia, bisa dijadikan tabungan baginya di akherat dan bisa juga dihapuskan dosa-dosanya setara dengan doanya selama ia tidak berdoa sambil berbuat dosa atau memutuskan silaturahmi atau meminta cepat-cepat dikabulkan.” (HR. At Tirmidzi dari Abu Hurairah). Hadits ini mengajarkan kita tetap optimis. Para sahabat dan ulama salaf tak henti-hentinya memanjatkan doa agar dipertemukan dengan Ramadhan. Sekali lagi, doa adalah hal sangat penting untuk dilakukan sebelum datangnya Ramadhan.

Keenam: Merencanakan Kegiatan

Ada ungkapan menarik berupa: Kebenaran yang tak terorganisir dengan baik, (pasti) akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik. Sangat benar ungkapan itu. Sebaik apapun i`tikad dan usaha kita dalam menyambut Ramadhan, tetapi tidak pernah kita rencanakan sebelumnya, maka akan kacau. Dengan manajemen waktu dan perencanaan yang baik, kegiatan di bulan Ramadhan akan berjalan dengan baik, terarah dan teratur. Dari sejarah para Nabi kita bisa mengambil pelajaran berharga betapa segenap urusannya sangat terencana dan teraratur dengan baik. Kegiatan rutin dan intens beliau setiap Ramadhan sudah terencana dengan baik. Di antara kegiatan beliau ialah: Membaca dan mendaras Alquran (langsung disimak Jibril), bersedekah dan berinfak melebihi hari-hari biasanya, beri`tikaf di sepuluh hari terakhir serta amalan-amalan lain yang terencana dengan baik oelh beliau. Bahkan dalam bulan Ramadhan beliau pernah mendapatkan kemenangan luar biasa dalam pertempuran Badar dan Fathu Makkah(Pembebasan Mekah). Ini tidak akan diraih –setelah izin Allah- tanpa ada perencanaan can strategi yang matang. Para sahabat pun demikian, mereka sudah punya rencana menyambut Ramadhan dengan amal jauh-jauh hari sebelum Ramadhan.

Ketujuh: Memilih Amal Unggulan

Yang terakhir dan perlu diperhatikan ialah kita harus memilih amalan unggulan apa yang kiranya nanti bisa kita laksanakan dengan baik sesuai dengan kemampuan kita. Tidak semua orang bisa melakukan segala amal; dan tidak semua orang bisa mendawami atau istiqomah dengan amalnya, maka memilih amalan yang paling bisa untuk dikerjakan dan didawami adalah perkara yang sangat penting. Dalam Alquran sendiri yang dijadikan acuan ialah bukan banyaknya amal tapi sebaik-baik amalan. Kita tidak akan mungkin mendapatkan amalan terbaik jika kita tidak mampu istiqomah dalam menjalankannya. Amalan sedikit tapi dawam lebih dicintai oleh Allah daripada banyak tapi tak dawam. Nabi bersabda:

أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amal yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling dawam(langgeng, istiqomah) meskipun sedikit”(Hr. Bukhari dan Muslim). Dengan memilih amalan unggulan, akan membantuh mengarahkan kita pada amal yang terbaik dan dicintai Allah ta`ala. Para sahabat pun tidak semua yang mampu mengerjakan segala amal. Ada yang spesialis beramal dalam sedekah, ada yang dalam belajar, ada juga yang beramal dalam bidang jihad perang dan lain sebagainya. Jadi menentukan sejak awal amal unggulan yang pas dengan kita akan membantuh kita dalam meraih amalan terbaik dan berkesinambungan dalam bulan Ramadhan.

Wallahu a`lam bi al-Showab.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Ramadhan yang Membekas

Organization