Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Islam Nusantara di Ujung Tanduk?

Islam Nusantara di Ujung Tanduk?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)
Ilustrasi. (tr.forwallpaper.com)

dakwatuna.com – Apakah kita masih berpikiran bahwa eksistensi Islam sebagai agama mayoritas di kawasan Asia Tenggara ini tidak akan berakhir, apalagi dalam waktu dekat? Secara kuantitas ada indikasi ke arah degradasi, secara kualitas pun juga bisa dikatakan demikian. Meski mayoritas, dari sisi politik, ekonomi dan berbagai bidang kehidupan, umat Islam menempati posisi marjinal. Mungkinkah Asia Tenggara akan menjadi Andalusia kedua, de-islamisasi dan kemusnahan tak lagi terjadi dalam proses yang pelan-pelan, tetapi ada momen pamungkas bahwa ia kemudian berlangsung drastis dan singkat?

Meneropong kemungkinan dari akhir entitas Islam di Asia Tenggara, baiklah kita mereview proses Islamisasi di kawasan ini. Ada sebuah artikel yang beredar di dunia maya beberapa waktu lalu terkait masalah ini, ‘Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur’. Sebenarnya Prambanan dan Borobudur adalah peradaban yang telah musnah 5 abad sebelum keberadaan Walisongo. Dari sisi ini memang tulisan tersebut bisa dikatakan parsial dan subyektif. Dari sisi konten juga bisa dikatakan demikian, hanya memandang keberhasilan proses Islamisasi dari sisi pendekatan dakwah yang bijak.

Akan tetapi ada sisi yang menarik dan urgen dari substansi tulisan tersebut, yaitu keberhasilan Islamisasi dalam waktu singkat setelah berabad-abad sebelumnya Islam tidak bisa diterima di kawasan ini. Selama 8 abad sebelumnya Islam sudah hadir tetapi tidak diterima, hanya dianut segelintir orang asing, terutama pendatang dari Timur Tengah dan Tiongkok, hampir-hampir penduduk pribumi tidak ada yang memeluk agama ini, padahal saat itu Islam adalah kekuatan Super Power yang sedang menguasai belahan dunia lain. Tetapi kemudian hanya kurang dari 50 tahun Islam telah menjadi mayoritas yang mengakar.

Sebagaimana penyebaran Islam di berbagai belahan dunia lain, kita tidak mengatakan selama 8 abad tersebut Islam tidak didakwahkan secara bijak. Artinya, pendekatan dakwah yang bijak bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Islamisasi di kawasan Asia Tenggara ini. Pendekatan dakwah yang bijak dan akulturatif adalah bagian dari suatu bahasan yang sangat luas tentang keberhasilan Islamisasi di kawasan ini.

Di luar faktor esoteris, pendekatan yang bijak dan akulturatif, kita juga perlu melihat dari sisi eksoteris, berubahnya iklim politik di kawasan ini yang menyebabkan terbentuknya kondisi yang kondusif bagi proses Islamisasi, pudarnya hegemoni kekuasaan yang menopang eksistensi agama sebelumnya, Hindu dan Budha. Adanya momen runtuhnya pamor politik Kerajaan Majapahit yang sebelumnya mendominasi kawasan.

Di satu sisi, ada sebuah argumentasi bahwa proses Islamisasi berlangsung secara damai dan tanpa konflik. Tetapi di sisi lain ada yang menggugat kesucian proses Islamisasi di kawasan ini, bahwa Islamisasi berlangsung dalan proses yang berdarah-darah dan penuh pengkhianatan. Baiklah kita menempatkan sikap realistis dan obyektifitas, menempatkan sisi esoteris dan eksoteris secara proporsional, tanpa menafikkan gesekan yang terjadi maupun fakta empiris pada peralihan serentak yang tidak mungkin berlangsung kecuali dilakukan secara damai.

Walisongo dalam Konteks Kekinian

De-islamisasi dilihat dalam perspektif Islamisasi di Asia Tenggara, sebuah pertanyaan apakah entitas Islam di kawasan ini akan berakhir sebagaimana ia bermula, dan bagaimana prosesnya. Serta dapatkah proses itu dicegah, dan apa yang harus dilakukan oleh muslim di kawasan ini untuk terus mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan kebesaran sebuah peradaban seringkali lebih sulit dari menaklukkan peradaban besar.

Di antara berbagai kepentingan yang beragam, sebagaimana Hindu, Budha dan Islam, yang pernah dan atau sedang eksis di kawasan ini, akan melahirkan sudut pandang dalam perspektif masing-masing. Misalnya apakah agama yang datang belakangan, seperti agama Nasrani yang telah berabad-abad berusaha masuk di kawasan ini, bahkan ditopang kekuasaan kolonialis yang yang sangat dominan, ditopang gerakan misionaris yang profesional, serta didukung kondisi global dan regional, tetapi sejauh ini agama Nasrani tetap merupakan minoritas yang hnya dianut sebagian kecil penduduk kawasan ini, dapatkah ia menciptakan suatu kondisi yang bisa membuat Nasrani menjadi mayoritas dalam waktu singkat? Atau apakah ada kemungkinan agama Hindu dan Budha dapat kembali menjadi mainstream di kawasan ini?

Atau dari dinamika internal umat Islam sendiri, apakah paham seperti Syiah yang selama berabad-abad tidak bisa menjadi mainstream, akan bisa mengambil alih posisi Suni di kawasan ini dalam waktu singkat? Atau apakah dominasi paham keagamaan seperti NU di kawasan ini akan diambil alih oleh paham keagamaan yang selama ini hanya menjadi minoritas, di mana yang kini hanya dianut segelintir orang yang tidak mengakar kemudian keadaan bisa berbalik?

Zaman telah dan terus akan berubah, bahkan seringkali berlangsung begitu cepat tanpa terprediksi. Benturan dan persaingan berbagai ideologi dan pemikiran terus berlangsung, apalagi dalam era globalisasi. Tidak ada tempat yang aman bagi entitas atau peradaban apapun untuk beristirahat dan terhindar dari marabahaya, termasuk bagi entitas Islam di Asia Tenggara ini.

Sebuah pertanyaan kunci bagi suatu ideologi dan peradaban yang ingin menaklukkan kawasan ini, bagaimana mengulang sejarah, menciptakan suatu kondisi kondusif yang memungkinkannya menguasai kawasan, melalui upaya sistematis dan terukur dalam berbagai bidang, terutama secara politik yang seringkali strategis menjadi penentu kejatuhan dan kejayaan suatu ideologi dan peradaban. Upaya apa yang harus ditempuh untuk menyiapkan kondisi tersebut agar bisa terwujud?

Kejayaan, kejatuhan dan ajal suatu peradaban sudah merupakan sunatullah, ia terus dipergilirkan. Tetapi terlepas dari semua itu, ia bukan hanya proses alamiah belaka, ada arsitek-arsitek brilian yang menyuplai ide, merencanakan, mendisain dan mengendalikan aksi secara sistematis untuk menghancurkan suatu peradaban dan membangun peradaban baru.

Islamisasi, De-islamisasi Asia Tenggara, suatu Kesamaan Indikasi

Asia Tenggara dilihat dari sisi geopolitik memang memiliki keunikan. Pengaruh hegemoni kejayaan Islam yang menjadi kekuatan super power dunia sejak masa Umayah maupun Abasiyah tidak bisa menembus kawasan ini. Islam eksis di kawasan ini justru pada masa-masa menjelang akhir kejayaan dunia Islam, saat dimulainya kolonialisme Barat. Ketika Islam di berbagai kawasan lain memudar, Islam di kawasan ini justru baru bisa eksis.

Islam tumbuh di bawah kejaran bayang-bayang kolonialisme. Islam yang baru saja tumbuh, sudah harus berhadapan dengan kolonialisme Barat yang hadir ke kawasan ini. Akan tetapi, kolonialisme yang mencengkeram secara kukuh dan memberikan tekanan hebat dalam rentang masa yang lama, tidak menggoyahkan keberadaan Islam yang terus berproses mengakar, ini menjadi keunikan dari karakter Islam di kawasan ini.

Kemerdekaan Indonesia, meski bisa dikatakan sebuah kemerdekaan yang belum sempurna, terutama baru pada sebagian aspek-aspek fisik, tentunya menghadirkan sebuah fase yang berbeda bagi eksistensi Islam di kawasan ini. Pasca kemerdekaan, ada indikasi eksistensi Islam di negeri ini terus menurun, dari sisi yang jelas bisa diukur seperti prosentase pemeluknya dan pertumbuhan tempat ibadah, maupun dari sisi kualitatif. Di negara ini, umat Islam yang secara kuantitas merupakan mayoritas semakin menempati posisi marjinal dalam berbagai bidang, baik politik, birokrasi, ekonomi dan sebagainya. Jika eksistensi Islam tak tergoyahkan oleh cengkeraman kolonialisme, ia terus bisa mengobarkan perlawanan, apakah eksistensi Islam justru akan runtuh pasca kemerdekaan ini?

Berbagai indikasi memang membutuhkan kewaspadaan segenap umat Islam di negeri ini. Memperhatikan suasana menjelang Islamisasi pada era Walisongo, ada beberapa indikasi yang bisa menjadi warning bahwa kita saat ini sedang menjelang sebuah proses de-islamisasi serupa.

Pada masa tersebut, meskipun pemeluk agama Islam sangat sedikit, tetapi ia merupakan minoritas kreatif. Pemeluk Islam adalah identik dengan elit dan mindset superior. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akses internasional. Secara ekonomi mereka adalah tuan dan majikan, dan secara spirit intelektual juga demikian. Islam adalah sebuah kekuatan baru yang segar, antitesis dari Majapahit yang tua, letih dan jenuh, terbelit berbagai kepentingan dan persoalan. Dan kondisi Indonesia saat ini bagi umat Islam bisa dikatakan sebaliknya, terkepung berbagai persoalan dan kepentingan, mengarah de-islamisasi?

Peradaban Emas Hijau, Konsekwensi dan Tantangan Krusial

Posisi geografis Asia Tenggara sedang berada pada titik kritis menghadapi masa-masa krusial. Dunia kita sedang berada pada era menghabiskan energi fosil yang tak terbarukan, peradaban emas hitam. Dunia sedang berpikir sumber energi alternatif pasca habisnya persediaan energi fosil. Alternatif yang saat ini dipandang realistis adalah sumber energi nabati yang terbarukan.

Asia Tenggara dengan sumber daya iklimnya, iklim tropis yang menghasilkan energi nabati, tentunya sangat menarik minat peradaban-peradaban lain untuk memperebutkan dan menguasainya. Mau tidak mau, kawasan ini seperti berada pada ujung tanduk, harus menghadapi benturan dahsyat di antara kompetisi berbagai peradaban dunia. Sekaligus adanya resiko harus menghadapi nafsu angkara kekuasaan yang berupaya mencengkeram dan menguasai dunia, brada pada pertarungan hidup dan mati.

Kolonialisme dengan nafsu angkaranya telah dan sedang mengeksploitasi dunia, termasuk negeri kita ini. Islam pernah menjaga negeri ini menghadapi para penjajah yang bernafsu menaklukkan dan mengeksploitasinya. Dan mungkin karena spirit perlawanan inilah Islam justru eksis di negeri ini. Islam adalah simbol menghadapi penjajah dan dan kedzaliman yang menindas bangsa ini. Islam mengakar bersama perlawanan dan penderitaan bangsa ini melawan penjajah.

Kolonialisme kemudian datang dalam bentuk yang baru, penjajahan non-fisik pada era ghazwul fikri. Penjajahan fisik resisten membangkitkan perlawanan, sedang penjajahan non-fisik justru sebaliknya, meninabobokan dan melenakan.

Islam datang ke berbagai negeri dan relatif tanpa mendapat predikat sebagai penjajah sebagaimana kolonialisme bangsa Eropa. Islam sempat hadir di Andalusia bukan mengeksploitasi, tetapi membebaskannya dan membangun sebuah kemajuan peradaban. Termasuk Islam datang ke negeri ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam atau Arab. Kita pernah menjadi bagian dari Turki Utsmani tanpa kita merasa terjajah dan tereksploitasi.

Kita bangga dengan keberadaan Laksamana Ceng Ho yang menjelajah dunia dengan spirit persahabatan, bukan spirit menjajah. Kita bersyukur, Islam datang ke Benua Amerika bukan memusnahkan bangsanya tetapi mentransfer dakwah dan ilmu pengetahuan. Islam datang ke Benua Afrika untuk mencerahkannya dengan dakwah bukan memperbudaknya.

Islam memiliki spirit berbagi dan menebar rahmat bukan menaklukkan, spirit mentransfer ilmu pengetahuan, persaudaraan dan dakwah bukan mengeksploitasi. Dalam konteks menghadapi neo-kolonialisme, tugas tersebut dipikulkan di pundak umat ini. Agar umat Islam tetap memiliki spirit perjuangan dengan sebenarnya, sehingga eksistensi Islam ini tetap hidup. Dan jika umat ini memiliki mental inlander, memiliki mindset inferior, bukan tidak mungkin entitas Islam ini akan berakhir, tragis!

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization