Home / Berita / Opini / Membaca Kebijakan Ekonomi Indonesia di World Economic Forum on East Asia 2015

Membaca Kebijakan Ekonomi Indonesia di World Economic Forum on East Asia 2015

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
World Economic Forum on East Asia 2015
World Economic Forum on East Asia 2015

dakwatuna.com – Indonesia minggu depan akan menyelenggarakan dua perhelatan dunia yaitu World Economic Forum (WEF) tepatnya pada tanggal 19-21 April 2015 bertempat di Hotel Shangri-La Jakarta. Pada hari terakhir pula tanggal 21 April akan diselenggarakan Asia-Africa Business Summit atau Kofrensi Tingkat Tinggi Asia-Africa.

Apa itu sebenarnya World Economic Forum dan untuk apa fungsinya? The World Economic Forum (WEF) adalah lembaga internasional yang berkomitmen untuk meningkatkan dan menguatkan tatanan dunia melalui kerjasama Pemerintah dengan Swasta dengan melibatkan para pemimpin politik, bisnis, akademis, dan masyarakat dalam upaya kolaboratif untuk membentuk dan membahasa agenda global, regional dan industri. Melayani dan membangun masyarakat yang berkelanjutan melalui konsep terpadu dari pertemuan tingkat tinggi, jaringan penelitian, proyek dan kolaborasi digital. Didirikan pada tahun 1971 sebagai organisasi nirlaba yang bermarkas di Jenewa Swiss. Di luar itu The World Economic Forum (WEF) memiliki anggota terdiri dari 1000 korporasi top dunia dengan omset lebih dari 5 Milyar US$ selain negara-negara yang berada di wilayah Eropa, Africa, Amerika Latin, Amerika Utara, Timur tengah dan Asia-Pasifik.

World Economic Forum on East Asia 2015 ini merupakan rangkaian agenda WEF di tahun 2015 yang di awali dari wilayah Asia pasifik, kemudian tanggal 6-8 Mei nanti di Riviera Maya Mexico Amerika latin, lalu tanggal 21-23 Mei di Laut Mati Jordan Timur Tengah, lalu tanggal 3-5 Juni Cape Town Afrika Selatan, 9-11 September annual meeting di China, 25-27 Oktober Summit of The Global Agenda di Abu Dhabi UEA, dan 29-30 Oktober India Economic Summit di New Delhi India.

Untuk World Economic Forum on East Asia 2015 di Indonesia kali ini memiliki agenda penting khususnya mengenai pemahaman bersama negara-negara Asia Pasifik atas regionalisme dan bisnis terlebih di era digital dan pesatnya industri informasi, telekomunikasi dan teknologi atau yang dikenal dengan singkatan ICT, selain persiapan dalam menyongsong komunitas global ASEAN dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Pemilihan tempat di Indonesia oleh forum bisnis dunia ini, tentu bukan hal kebetulan belaka. Bedasarkan data dari Mc Kinsey Global Institute – sebuah perusahaan konsultan manajemen internasional yang berpusat di Newyork dan punya reputasi dunia dan fokus pada ekonomi global – memproyeksikan bahwa saat ini Asia menguasai 60% dari populasi dunia dan 28% dari pendapatan dunia serta GDP growth Asia Pasifik terus mengalami laju yang signifikan bila dibandngkan dengan Eropa, Amerika Utara dan Latin. Dari kondisi itulah Asia menjadi pusat grafitasi pertumbuhan ekonomi dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Masih berdasarkan data Mc Kinsey Indonesia saat ini memiliki 45 juta Consuming Class atau kelompok masyarakat yang tingkat konsumerismenya tinggi, 53% populasi mampu menghasilkan 74% dari GDP selain kondisi bonus demografi -dimana besarnya proporsi penduduk produktif dalam rentang usia 15-64 tahun menduduki 34,45% dari total penduduk Indoensia (berdasarkan data BPS tahun 2010)- yang sedang dialami Indonesia sampai dengan tahun 2025-2030.

Dari fakta-fakta kondisi ekonomi global dan kependudukan serta potensi market Indonesia, bagaimana Indonesia akan menggunakan forum ekonomi global tersebut? Apakah kita mempunyai bergaining power yang tinggi, atau hanya dijadikan objek ekonomi dunia dengan menambah beban hutang dan menjual aset? Kita lihat hasilnya nanti. (usb/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Praktisi SDM dan Konsultan Manajemen. Posisi saat ini sebagai Group Head Human Capital Trisula Corp dan Direktur PT Sarana Riil Indonesia (Konsultan Manajemen dan Sumber Daya Manusia).

Lihat Juga

Bloomberg: Kebijakan Pangeran Bin Salman ‘Menguras Kantong’ Keluarga Saudi

Organization