Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Haruskah Berjamaah?

Haruskah Berjamaah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi – Shalat berjamaah di masjid. (inet)

dakwatuna.com –  Jamaah secara bahasa berarti perkumpulan (persatuan), yaitu perkumpulan beberapa orang yang memiliki pemahaman yang sama dalam hal ini pemahaman yang sama mengenai syariat Islam. Dengan jamaah Islam akan bersatu, satu pemahaman, satu tujuan, satu kekuatan besar yang kelak akan mampu melawan kebathilan dan kejahiliyahan yang melanda alam semesta ini.

Sebatang lidi sangat rapuh dan mudah untuk dipatahkan, namun jika ratusan atau bahkan ribuan lidi digabungkan menjadi satu, kotoran-kotoran yang terserak akan sangat mudah untuk dibersihkan. Begitupun dengan seekor domba yang tersesat di tengah hutan, tak butuh waktu lama binatang-binatang buas melumpuhkannya dan memangsanya hingga melumat habis tulang belulangnya. Lalu bagaimana dengan kita sebagai seorang makhluk yang amat sangat lemah dan rapuh di dunia yang luas ini? Mampukah kita bertahan jika hanya seorang diri?

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang memecahbelahkan, maka ia bukan daripada kalangan kami. Rahmat Allah berada bersama-sama dengan jamaah, dan sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang menyendiri”

“Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. Ash-Shaff : 4)

Bahkan Allah Mencintai hamba-Nya yang berjamaah, seperti yang telah disampaikan dalam Firman-Nya diatas. Betapa berjamaah itu seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh, sehingga satu dan lainnya saling menopang dan melengkapi kekurangan dan kebutuhan yang lainnya. Dalam Jamaah tidak ada siapa yang lebih penting atau siapa yang tidak penting, karena masing-masing orang memiliki peranannya tersendiri. Bahkan paku kecil yang tak terlihat pada sebuah bangunan pun sangat penting adanya.

“Umatku, Umatku, Umatku…”, merupakan kata-kata terakhir yang dihebuskan dari bibir seorang hamba Allah, kekasih Allah yang telah dijamin menempati Surga-Nya, ialah Rasulullah SAW. Bukan hanya satu orang, tapi puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan ummat manusia yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai ummatnya. Itu berarti Rasul pun meminta ummatnya untuk istiqomah hidup dalam jamaah.

Rasulullah SAW menegaskan mengenai jamaah dalam sabdanya: “Hendaklah kamu berada dalam jamaah kerana sesungguhnya berjemaah itu rahmat sedang perpecahan itu adalah azab.”

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri daripada jamaah kaum muslimin, maka berarti ia mati sebagai mati jahiliyyah”

Betapa Rasul pun sangat menegaskan pentingnya berada dalam jamaah. Karena kehidupan di dunia ini seperti tengah berlayar dilautan lepas. Ombak yang bergulung-gulung mampu membawa siapa saja dan apa saja terombang-ambing di tengah lautan. Maka, berjamaah layaknya sebuah kapal besar yang mampu menampung banyak orang untuk berlayar mencapai satu tujuan yang sama, yaitu tegaknya Islam di muka bumi ini.

Bukankah manusia adalah makhluk yang mudah lupa, makhluk yang paling lemah dan lalai. Lalu bagaimana mungkin seorang manusia mampu bertahan tak tergilas perkembangan zaman jika ia hanya berjalan sendiri tanpa jamaah, tanpa ada yang mengingatkannya ketika ia salah, tak ada yang menopangnya ketika ia terjatuh, dan tak ada yang akan mengingat untuk memanggil namanya jika kelak dunia membawanya pada adzab terbesar Allah yaitu Neraka. Para sahabat Rasul yang begitu dekat dengan Rasul pun istiqamah dalam jamaah. Meski kita tau betapa hebat dan kuatnya iman mereka, tapi tak pernah ada satu pun sahabat yang mundur dari barisan lalu memilih untuk berjalan sendiri mengarungi dunia. Hal itu karena para sahabat menyadari kekuatan yang mereka miliki tak semata hadir dari dalam diri sendiri, melainkan dari orang-orang disekitarnya yang bersatu padu dalam barisan sebuah jamaah. Lalu akan kah kita yang jauh bahkan tak pernah berjumpa dengan Rasulullah mampu berjalan sendiri mengarungi dunia dan meraih nikmat terbesar dari Allah yaitu Surga-Nya, sedang kita sadar betul kelemahan dan kerapuhan iman kita.

Apalagi yang membuatmu memilih jalan sendiri, sedangkan Islam secara tegas menuntutmu untuk berada dalam barisan jamaah. Karena syariat Islam tak sekedar persoalan menjadi pribadi yang baik saja, tetapi mengajak orang-orang yang sudah baik untuk menjadikan yang lainnya baik pula, serta merubah dunia menjadi lebih baik lagi. Ingat, tak kan berarti jika kita nikmati Surga itu sendiri, maka berjamaahlah dan istiqamahlah dalam berjamaah. Sebab kita tak kan pernah tau sampai kapan kita mampu berdiri kokoh dalam keimanan bila kita berjalan sendiri. Dan akan bagaimana ketika kita menyadari tengah berdiri di titik terlemah kita namun tak ada satu pun orang yang mengingatkan dan membangkitkan iman kita lagi untuk sampai pada level tertinggi. Tetaplah berdiri dalam satu barisan, berpegang erat, dan senantiasa istiqamah dalam jamaah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Kelahiran Majalengka, beberapa tahun lalu. Saat ini sedang menikmati setiap kegiatan di Yayasan Ihya Ul Ummah, Kota Bambu Jakarta Barat.

Lihat Juga

Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-3: Persoalan Jamaah dan Komitmen (Iltizam))

Figure
Organization