Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Mengintip Alam Gaib; Rahasia Malaikat, Jin, dan Setan Menurut Alquran dan Sunnah

Mengintip Alam Gaib; Rahasia Malaikat, Jin, dan Setan Menurut Alquran dan Sunnah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Mengintip Alam Gaib".
Cover buku “Mengintip Alam Gaib”.

Judul: Mengintip Alam Gaib
Penulis: Aep Saepulloh Darusmanwati, M.A.
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: Pertama, 2014
Tebal: 272 Halaman
ISBN: 978-602-1687-01-7

 

Menyingkap Rahasia Alam Gaib

dakwatuna.com – Dalam Alquran surat Al-Baqarah dijelaskan dengan gamblang bahwa salah satu bentuk keimanan manusia kepada Allah adalah mempercayai hal-hal gaib. “Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib….” (Al-Baqarah; 2-3).

Hal ini menunjukan bahwa tidak ada perkara lain yang paling petama disebut Allah dalam Alquran dari ciri orang bertakwa selain beriman kepada perkara gaib. Ini sekali lagi menunjukkan pentingnya beriman kepada hal gaib.

Mengapa demikian? Karena, apabila kita perhatikan dengan saksama, inti ajaran Islam bertumpu kepada keimanan akan hal yang gaib. Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir termasuk surga dan neraka, juga qadha dan qadar. Semuanya adalah perkara gaib.

Lalu, apa yang dimaksud dengan gaib itu? Dan, bagaimana kita bisa beriman pada hal-hal gaib itu dengan benar? Dalam buku Mengintip Alam Gaib karya Aep Saepulloh ini kita akan mengetahui berbagai hal tentang perkara gaib seperti malaikat, jin, hingga sakratul maut.

Secara bahasa, gaib berarti segala sesuatu yang tidak tampak dari Anda (kullu ma ghaba ‘ank), atau segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, sekalipun sampai ke hati (ma ghaba ‘anil ‘uyun wa in kana muhasshalan fil qulub). Seseorang yang hanya mendengar suara, tanpa melihat sumber suara, secara bahasa dikatakan gaib (Ibnu Manzhur, 1998).

Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan gaib dalam ayat di atas. Ibnu Katsir menuturkan tujuh pendapat ulama salaf. Semua pendapat tersebut, menurut Ibnu Katsir, adalah benar dan semuanya adalah masuk dalam kategori gaib yang dimaksud dalam ayat di atas.

Di antaranya adalah riwayat Abul ‘Aliyah yang merupakan pendapatnya Qatadah bin Da’amah, yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, surga, neraka, hari pertemuan dengan Allah, mengimani adanya kehidupan setelah kematian, juga hari kebangkitan (halaman 11).

Di antara perkara-perkara gaib yang dibahas dalam buku ini adalah bagaimana mengenal malaikat, setan dan jin, serta sakratul maut.

Bagaimana cara mengimani malaikat? Dalam bukunya al-Habaik fi Akhbar al-Malaik, Imam Suyuthi menukil pendapat Imam Baihaqi dan Syu’ab al-Iman bahwa mengimani malaikat harus mengandung tiga unsur: pertama, meyakini keberadaannya. Kedua, menempatkan mereka secara tepat bahwa mereka adalah hamba dan makhluk Allah, sebagaimana manusia dan jin. Mereka diperintah beribadah kepada Allah dan mereka juga meninggal, hanya saja usia mereka jauh lebih lama, yaitu sampai hari kiamat. Ketiga, mempercayai bahwa di antara mereka yang diutus Allah kepada manusia pilihan; memercayai bahwa di antara yang bertugas menjaga Arasy, menjaga surga dan neraka, mencatat amal manusia dan lainnya, sebagaimana disebutkan dalam Alquran (halaman 27). Manusia juga dituntut untuk mengetahui nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya.

Lalu, bagaimana cara mengenal jin dan setan? Menurut penulis buku ini, membahas dunia jin dan setan mesti hati-hati, agar tidak terjebak pada unsur takhayul dan khurafat. Pun jika pembahasan itu berdasarkan hadis. Sebab, bisa jadi hadis tersebut tidak valid, tidak bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya. Sebab itulah, dalam buku ini penulis banyak mengetengahkan hadis-hadis sahih terkait dengan dunia jin dan setan.

Soal jin dan setan, ada perbedaan budaya dan cara pandang antara masyarakat Indonesia dan Mesir. Di Indonesia, jin dan setan menjadi sesuatu yang dianggap menarik, bahkan tema itu dijadikan objek komersialisasi. Hal ini bisa dilihat di berbagai tayangan televisi Indonesia. Mereka seperti tidak kehilangan kreativitas untuk mengeksploitasi makhluk dari dunia berbeda itu. Bahkan, kreativitas mereka sudah cenderung berlebihan.

Lalu, apa perbedaan antara jin dan setan? Alam jin berbeda dengan alam manusia. tetapi, jin dan manusia sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Alquran, “Tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56).

Dalam Ahkam al-Marjan fi Ahkam al-Jann, al-Syibli memaparkan pendapat Ibnu Aqil yang mengatakan bahwa disebut dengan jin karena secara bahasa artinya “yang tersembunyi”, “terhalang”, “tertutup”. Jin adalah makhluk yang kasat mata.

Sedangkan kata setan, dalam bahasa Arab, berasal dari kata “syathana” yang berarti “bu’uda” atau “jauh”. Disebut setan karena ia selalu menjauhkan manusia dari kebenaran.

Namun, tidak semua jin adalah setan. Sebab, jin juga ada yang saleh dan mukmin. Jadi, setan adalah jin yang kafir dan membangkang. Demikian juga tidak semua setan adalah jin. Dalam surat An-Nas ditegaskan bahwa setan juga ada yang dari golongan manusia. Setiap manusia yang membangkang, durhaka, dan selalu menjauhkan manusia lainnya dari Allah disebut juga dengan setan (halaman 75).

Perkara gaib lain yang wajib dipercayai adalah sakaratul maut. Sebagaimana rezeki dan jodoh, maut adalah hal gaib dan rahasia. Hanya Allah yang tahu kapan dan di mana manusia akan dijemput ajal. Sebagai makhluk, manusia hanya dituntut untuk mempercayai bahwa kematian adalah hal yang pasti datang kepada setiap manusia.

Sakaratul maut adalah saat-saat menyakitkan ketika ruh akan dikeluarkan dari jasad. Sakaratul maut pasti terjadi dan tidak dapat dipungkiri. Alquran menegaskan, “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Qaf: 19).

Tidak ada yang dapat merasakan betapa sakitnya sakaratul maut kecuali mereka yang telah merasakannya sendiri. Banyak dalil dan keterangan yang menjelaskan bahwa sakaratul maut itu sakit menyakitkan. Bahkan, tidak ada yang lebih sakit daripada sakaratul maut. Semua orang, termasuk para nabi sekalipun, merasakan sakitnya sakaratul maut ini (halaman 148).

Demikianlah. Buku ini secara lengkap membahas tentang perkara gaib yang wajib diimani oleh sekalian manusia. Tidak hanya tentang malaikat, jin dan setan. Perkara gaib lainnya seperti bagaimana siksa kubur, keadaan alam barzakh, dan yang lainnya juga dibahas dalam buku setebal 272 halaman ini.

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (41 votes, average: 7,78 out of 10)
Loading...
Guru swasta. Alumnus UIN Sunan Ampel, Surabaya.

Lihat Juga

Super Camp for Kids