Topic
Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Silang Budaya Islam-Melayu; Dinamika Masyarakat Melayu Jambi

Silang Budaya Islam-Melayu; Dinamika Masyarakat Melayu Jambi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Cover buku "Silang Budaya Islam-Melayu; Dinamika Masyarakat Melayu Jambi".
Cover buku “Silang Budaya Islam-Melayu; Dinamika Masyarakat Melayu Jambi”.

Judul: Silang Budaya Islam-Melayu; Dinamika Masyarakat Melayu Jambi
Penulis: Pahmi, SY, M.Si
Cetakan: I, 2014
Tebal: xviii+276
Penerbit: Pustaka Compass

 

Akulturasi Islam dan Tradisi Melayu

dakwatuna.com – Masyarakat Jambi yang sebagian besar berasal dari suku Melayu mempunyai sebuah seloko (ungkapan tradisional) sebagai pedoman hidup. Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Islam tidak memberangus adat, selama adat itu baik. Hanya saja, dalam cara mempraktekkannya adat terkadang berubah, tanpa mengubah esensinya (hal. 95).

Buku berjudul “Silang Budaya Islam-Melayu” ini menegaskan bahwa hubungan antara Islam dan Melayu telah berlangsung lama sejak sebelum zaman kerasulan Nabi Muhammad saw pada paruh abad ke-7 M. Hubungan dagang tersebut dapat ditelusuri sejak zaman Phunisia dan Saba. Sejarah Islam di Jambi tidak dapat lepas dari kerajaan Sriwijaya (hal. 169). Masyarakat Melayu kuno di Jambi menganut ajaran Hindu yang bisa dilihat dari candi dan prasasti yang ditemui di Jambi. Masuknya Islam di Jambi membuat raja sebagai pemimpin tertinggi di kerajaan dipanggil sengan sebutan “sultan” (hal. 170).

Pahmi, SY, M.Si menganggap Pulau Sumatera sebagai pulau penting dalam peradaban Nusantara. Di dalamnya terdapat persilangan budaya antara Islam dan Melayu yang lama-kelamaan tersebar ke seluruh Indonesia. Sumatera merupakan pangkal islamisasi. Hal ini dibuktikan oleh sejarah yang menyebutkan bahwa kerajaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Bahkan dalam catatan sejarah, diduga bahwa wilayah Sumatera telah mengalami kontak perdagangan dengan Mesir pada 4000 SM yang membutuhkan dupa sebagai pewangi dan kapur barus sebagai pengawet (hal. x).

Interaksi ini terus berlanjut sampai periode Islam. Jadi ketika Islam lahir di Timur Tengah, tidak lama setelah itu masyarakat sumatera juga mengenal Islam. Sebagai buktinya, di daerah Barus (Sumatera Utara) terdapat makam salah seorang sahabat Nabi yang di tempat tersebut dikenal dengan Syekh Rukunuddin. Bila itu memang makam sahabat Nabi, berarti Islam masuk ke Indonesia pada waktu yang bersamaan dengan kelahiran Islam itu sendiri. Selain itu, berarti Islam masuk melalui jalur langsung (hal. 49).

Mengenai adanya jaringan perdagangan, para penjelajah dari China, Persia, Arab, bahkan Yunani memberikan catatan sejarah tentang adanya persinggungan melalui jaringan perdagangan antara Melayu dan internasional. Seorang petualang dari Arab bernama Ibn Faih dalam catatannya berjudul Al-Buldan mengatakan bahwa pada masa kerajaan Sriwijaya (Jambi) dijumpai penjual burung kakak tua yang bisa bicara bahasa Arab, Persia, Yunani, dan Hindustan. Ini menunjukkan bahwa Jambi sudah cukup metropolitan (hal. xi).

Corak budaya melayu didominasi oleh masyarakat peisan melayu. Konsep peisan pada dalam ekonomi pedesaan bukan merujuk pada petani, tetapi mengacu pada masyarakat pedesaan yang memiliki pekerjaan yang beragam seperti bersawah, berdagang sayur-mayur, mencari ikan, mencari hasil-hasil hutan, kerajinan khas desa, dan lain-lain (hal. 83).

Agama Islam dan tradisi budaya perjalanannya selalu saling mempengaruhi. Kadang agama mempengaruhi tradisi, kadang pula tradisi yang mempengaruhi agama. Hal ini dikarenakan di dalam agama dan tradisi terdapat sistem nilai dan simbol. Dua hal tersebut yang membuat agama tidak terasa kaku. Agama mampu berkembang progresif sesuai dengan pemahaman masyarakat (hal. 176).

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kaya akan tradisi. Selain memiliki banyak etnis, suku, bahasa, dan ras, Indonesia juga memiliki beragam agama. Masyarakat Indonesia memiliki interaksi yang intens dengan lingkungan, maka para penyebar Islam di Sumatera dan Indonesia pada umumnya menggunakan pendekatan akulturasi. Agama masuk untuk memberi warna dalam ranah tradisi, begitupun tradisi akan menjadi bagian dari ajaran agama. Dan ternyata, para penyebar Islam dapat mendamaikan antara Islam dan tradisi tanpa harus menghilangkan esensi dari keduanya. Akulturasi tersebut menjadikan dua hal menjadi satu, atau dalam bahasa akademik disebut dengan pribumisasi (hal. 176).

Gagasan pribumisasi pertama kali diperkenalkan oleh Abdurrahman Wahid pada tahun 1980-an. Dalam pribumisasi Islam, tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif yang berasal dari Tuhan dan diakomodasi ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan indentitasnya masing-masing. Pribumisasi sebenarnya bukanlah “jawanisasi” atau sinkronisasi, sebab pribumisasi hanyalah mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam rumusan hukum agama (hal. 16 dan 24).

Wajah Islam Indonesia yang sejuk dan akomodatif dengan tradisi lokal melalui pribumisasi dan akulturasi merupakan karakteristik ajaran yang dikembangkan oleh para sufi. Mereka bergaul, mempelajari setiap tradisi, dan menambahkan dengan unsur-unsur Islam. Di Sumatera, muncul ulama-ulama yang memiliki jaringan ke ulama dunia. Di antaranya Hamzah Fansuri (wafat 1560 M), Nuruddin Arraniri, Syamsuddin As-Sumaterani, Abdussomad Al-Palembangi, Syekh Abdurrauf As-Sinkili (lahir 1615 M), Syekh Burhanuddin Ulakan (1704 M) (hal. 175).

Sumatera bagaikan ladang subur untuk menumbuhkembangkan dan menanam Islam, sebagaimana yang termaktub dalam buku setebal 276 halaman ini. Selain karena Islam sendiri menerima tradisi-tradisi lokal, budaya Melayu juga membuka pintu buat agama Islam. Seloko adat Jambi menuturkan, “Dak lapuk di hujan dan dak lekang di panas,” yang artinya tidak lapuk terkena hujan dan tidak lekang terkena panas. Ungkapan ini menunjukkan bahwa seloko adat Jambi pada dasarnya mengajarkan masyarakat untuk mampu beradaptasi (hal. 96).

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Menempun pendidikan di Universitas Hasyim Asyari Tebuireng Jombang.

Lihat Juga

Anggota DPR AS: Trump Picu Kebencian pada Islam di Amerika

Figure
Organization