Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sehari Bersama Rasulullah SAW di Momen Maulid

Sehari Bersama Rasulullah SAW di Momen Maulid

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tanda-tanda kenabian nabi Muhammad Saw sesungguhnya sudah banyak ditemukan di setiap waktu dan tempat. Ia merasakan isyarat-isyarat itu terdapat dalam dirinya sejak masa kanak-kanak dan masa mudanya.

Bukankah ia adalah anak susuan yang karena keyatimannya para wanita-wanita susuan dari Bani Sa’ad berpaling darinya padahal mereka mencari anak yang bakal mereka susui di Mekah. Tatkala Halimah Sa’diyah tidak mendapatkan selain Muhammad kecil, akhirnya ia membawanya juga sembari meminta pertolongan dari Allah Swt. Dalam perjalanan pulangnya itulah, untanya yang tadi pincang tiba-tiba berjalan bagaikan angin. Kambingnya yang semula kering susunya, tiba-tiba lancar dan siap dinikmati setiap pagi dan petang. Selama menjalani kehidupannya di kampong Bani Sa’ad, semua penduduk seakan ikut merasakan berkah kehadirannya.

Bukankah dia adalah anak yang dibawa Halimah Sa’diyah kepada para dukun dari Bani Hudzail untuk diramal. Namun tatkala mereka melihat garis tangan dan raut mukanya yang bersinar, mereka seakan menangkap firasat yang kurang baik bagi pekerjaan mereka. Karena itu, mereka mengatakan, “Wahai orang Hudzail, wahai sekalian orang Arab, bunuhlah anak ini. Demi Tuhan, ia akan menghancurkan agama kalian dan sembahan-sembahan kalian dan ia akan mengalahkan kalian dengan apa yang dibawanya.

Halimah pernah kehilangannya tatkala panas dzuhur menyengat. Tiba-tiba dia mendapatkannya tergeletak tidur di sebuah batu besar yang panasnya membakar tapi ia seakan tidur di bawah naungan awan yang melindungi serta menutupi tubuhnya, dan bayangan awan itu tidak beranjak darinya. Halimah pun menatap langit, dan tidak ada sepotong awan pun yang ia lihat. Ia mengawasi kanan-kiri dengan terbengong-bengong dan bingung, barangkali ada sesuatu yang menaunginya, tapi ia tidak melihat apa-apa. Pemandangan ini membuat ia makin kagum, lantas ia mendekati, memeluk, dan menciumnya. Kemudian dengan penuh kasih sayang ia menggendongnya pulang.

Bukankah ia adalah seorang pemuda yang ketika pendeta Bahira melihatnya dalam perjalanan ke Syam, ia lantas bertasbih kepada Allah dan bergegas menghadap pamannya Abu Thalib, dan berpesan agar berhati-hati membawa pemuda itu dan menjaganya dari kejahatan orang-orang Yahudi.

Bukankah ia adalah anak muda yang telah menghabiskan umurnya dan hidupnya penuh dengan kesucian kejujuran, rasa tanggung jawab, konsistensi dan ibadah. Sehingga sejak usia dini semua orang Quraisy menganggapnya sebagai pemimpin mereka.

Tanda-tanda kenabian itu secara terus-menerus dan spontanitas datang menghiasi kehidupan Rasulullah Saw. Zaid bin Amr bin Nufail dalam puisinya mengatakan

“Saya telah mencium dan merasakan agama Yahudi dan Nasrani, tapi aku tidak menyukainya,

Aku mendatangi kota Syam untuk menemui seorang pendeta, aku adukan rasa penolakanku terhadap ritual ibadah,

Terhadap patung-patung, dan aku adukan kepadanya keraguanku tentang agama Yahudi dan Nasrani.

Lantas ia berkata kepadaku, ‘Wahai saudaraku orang Arab sesungguhnya Anda sedang mencari sebuah agama, Yang hari ini tidak ada seorang pun membawakannya kepadamu,

Tapi kini telah datang zamannya seorang Nabi yang akan keluar dari negerimu, yang engkau datang darinya, ia akan diutus dengan agama Ibrahim yang lurus dan berserah diri.

Maka pulanglah ke negerimu karena sebentar lagi ia akan diutus.

Dan kini tiba saatnya. Kini tiba saatnya….’ ”

Kedatangan hari sakral tersebut sangat dirindukan oleh semua orang. Keputusan Allah Swt. memilih salah satu hamba-Nya untuk menjadi Rasul-Nya. Setiap isyarat kenabian yang dialami Rasulullah Saw. tidak lebih sebagai pendorong baginya untuk meningkatkan keikhlasannya dalam mencari kebenaran. Mendorongnya untuk semakin khusyuk beribadah, meskipun saat itu belum diberi wahyu.

Keinginan jiwanya mencari kebenaran dan semangatnya beribadah kepada-Nya, sebenarnya sangat cukup baginya jika Allah Swt memberikan jalan bagaimana cara beribadah kepada-Nya yang benar dan menjadikannya termasuk hamba-Nya yang bertakwa. Namun, Allah Swt. memberikan karunia yang lebih besar daripada itu, bahkan mengangkatnya sebagai salah satu utusan-Nya. Benarlah firman-Nya, “Allah lebih mengetahui (hikmah dan rahasia) di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (Al-An’am: 124).

Setelah peristiwa di gua Hira, Rasulullah Saw meneruskan langkahnya di atas daratan padang pasir yang tandus dan panas. Sesampainya di rumah, ia rebahkan badannya di pangkuan isterinya, Siti Khadijah. Dari tutur kata Rasulullah yang terbata-bata, Khadijah mampu merasakan apa yang sebenarnya baru saja dengan suaminya. Dengan mimik penuh harap dan keyakinan, ia membisikkan kalimat yang tercatat dalam sejarah,

“Bergembiralah wahai anak pamanku dan teguhlah di jalanmu. Demi Zat yang jiwa ada di tangan-Nya, sesungguhnya saya berharap besar Anda menjadi nabi umat ini.”

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 4,00 out of 5)
Loading...
Kelahiran Seri Kembang, Palembang, Maret 1988. Staf Biro Kepatuhan Syariah PKPU.

Lihat Juga

Sekilas Tentang Maulid Nabi SAW

Organization