Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Ahkam / Halal dan Haram Tentang Musik (bag. terakhir)

Halal dan Haram Tentang Musik (bag. terakhir)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

G. Para Ulama Yang Membolehkan

ilustrasi-musik (agussiswoyo.com)
ilustrasi-musik (agussiswoyo.com)

dakwatuna.com – Berikut ini beragam keterangan tentang para ulama, sejak masa sahabat dan tabi’in yang membolehkan musik. Kami kutip dari berbagai rujukan, yang saling melengkapi satu sama lain.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali Rahimahullah[1] menceritakan:

ونقل أبو طالب المكي إباحة السماع من جماعة فقال سمع من الصحابة عبد الله بن جعفر وعبد الله بن الزبير والمغيرة بن شعبة ومعاوية وغيرهم وقال قد فعل ذلك كثير من السلف الصالح صحابي وتابعي بإحسان وقال لم يزل الحجازيون عندنا بمكة يسمعون السماع في أفضل أيام السنة وهى الايام المعدودات التي أمر الله عباده فيها بذكره كأيام التشريق ولم يزل أهل المدينة مواظبين كأهل مكة على السماع إلى زماننا هذا فأدركنا أبا مروان القاضي وله جوار يسمعن الناس التلحين قد أعدهن للصوفية قال وكان لعطاء جاريتان يلحنان فكان إخوانه يستمعون إليهما قال وقيل لأبي الحسن بن سالم كيف تنكر السماع وقد كان الجنيد وسرى السقطى وذو النون يستمعون فقال وكيف أنكر السماع وقد أجازه وسمعه من هو خير مني فقد كان عبد الله بن جعفر الطيار يسمع وإنما أنكر اللهو واللعب في السماع

 

Abu Thalib Al-Makki menukil tentang kebolehan mendengarkan (nyanyian dan musik) dari segolongan manusia. Dia mengatakan, dari golongan sahabat adalah Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Az-Zubeir, Al-Mughirah bin Syu’bah, Mu’awiyah, dan lainnya. Dia juga mengatakan bahwa hal ini juga dilakukan oleh banyak salafush shalih, baik sahabat, dan yang mengikuti mereka dengan baik. Katanya: Orang-orang Hijaz –menurut kami Mekkah- senantiasa mendengarkannya di hari-hari yang memiliki keutamaan, yaitu hari-hari tertentu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk ibadah dan berdzikir kepada-Nya, seperti hari-hari tasyriq, penduduk Madinah –sebagaimana penduduk Mekkah- juga begitu semangat melakukannya hingga zaman kita sekarang. Saya jumpai Abu Marwan Al-Qadhi memiliki tetangga yang suka mendengarkan manusia yang menggubah nyanyian dan menyiapkannya untuk para sufi. Dia juga berkata, dahulu ‘Atha memiliki dua jariyah yang suka menggubah nyanyian dan saudara-saudaranya mendengarkan mereka berdua. Dia juga berkata, bahwa ditanyakan kepada Abul Hasan bin Salim, bagaimana engkau mengingkari As-Samaa’ padahal dulu Al-Junaid, Sari As-Suqthi, dan Dzun Nuun juga mendengarkannya? Maka dia berkata, “Bagaimana aku mengingkarinya padahal orang yang lebih baik dariku telah membolehkan dan mendengarkannya? Sesungguhnya Abdullah bin Ja’far Ath-Thayyar Radhiallahu ‘Anhuma telah mendengarkannya, yang aku ingkari adalah jika mendengarkannya untuk tujuan melalaikan dan permainan saja. (Ihya ‘Ulumddin, 2/269)

Khadimus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah[2] menceritakan bahwa banyak para sahabat nabi dan tabiin pernah mendengarkan nyanyian dan memainkan musik. Berikut ini keterangannya:

ما صح عن جماعة كثيرين من الصحابة والتابعين أنهم كانوا يسمعون الغناء والضرب على المعازف. فمن الصحابة عبد الله بن الزبير، وعبد الله بن جعفر وغيرهما. ومن التابعين: عمر بن عبد العزيز، وشريح القاضي، وعبد العزيز بن مسلمة، مفتي المدينة وغيرهم

 Telah shahih dari segolongan banyak dari sahabat nabi dan tabi’in, bahwa mereka mendengarkan nyanyian dan memainkan musik. Di antara sahabat contohnya Abdulah bin Az-Zubeir, Abdullah bin Ja’far, dan selain mereka berdua. Dari generasi tabi’in contohnya: Umar bin Abdul ‘Aziz, Syuraih Al-Qadhi, Abdul ‘Aziz bin Maslamah mufti Madinah, dan selain mereka. (Fiqhus Sunnah, 3/57-58)

Mirip dengan yang disampaikan Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, berikut ini penjelasan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili Hafizhahullah:[3]

وأباح مالك والظاهرية وجماعة من الصوفية السماع ولو مع العود واليراع. وهو رأي جماعة من الصحابة (ابن عمر، وعبد الله بن جعفر، وعبد الله بن الزبير، ومعاوية، وعمرو بن العاص وغيرهم) وجماعة من التابعين كسعيد بن المسيب

 

Imam Malik, golongan zhahiriyah, dan segolongan sufi, membolehkan mendengarkan nyanyian walau pun dengan kecapi dan klarinet. Itu adalah pendapat segolongan sahabat nabi seperti Ibnu Umar, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Az-Zubeir, Mu’awiyah, Amr bin Al-‘Ash, dan selain mereka, dan segolongan tabiin seperti Sa’id bin Al-Musayyib. (Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/2665)

Pada pembahasan terdahulu kita mendapatkan riwayat bahwa Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma menutup kedua telinganya ketika terdengar suara seruling, yang kemudian itu dianggap sebagai dalil bahwa Beliau mengharamkan. Tetapi dalam kisah yang lain bahwa Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu justru membolehkan kecapi. Berikut ini kisahnya:

وَرَوَى صَاحِبُ الْعِقْدِ الْعَلَّامَةُ الْأَدِيبُ أَبُو عُمَرَ الْأَنْدَلُسِيُّ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ جَعْفَرٍ فَوَجَدَ عِنْدَهُ جَارِيَةً فِي حِجْرِهَا عُودٌ ثُمَّ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ: هَلْ تَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهَذَا

Pengarang kitab Al-‘Iqdu, Al-‘Allamah Abu Umar Al-Andalusi, meriwayatkan, “Bahwa Abdullah bin Umar masuk ke rumah Abdullah bin Ja’far. Dia dapati di rumahnya itu ada seorang jariyah yang dikamarnya terdapat ‘Uud (kecapi). Lalu Beliau bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah pendapatmu ini boleh-boleh saja?” Beliau menjawab, “Tidak apa-apa.” (Nailul Authar, 8/113)

Sementara Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu, dari pendapatnya mengisyaratkan bahwa Beliau tidak menganggap alat-alat musik adalah haram, hal itu bisa terlihat keterangan Imam Al-Kisani berikut ini:

وَيَجُوزُ بَيْعُ آلَاتِ الْمَلَاهِي مِنْ الْبَرْبَطِ، وَالطَّبْلِ، وَالْمِزْمَارِ، وَالدُّفِّ، وَنَحْوِ ذَلِكَ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ

Dibolehkan menjual alat-alat musik seperti Al-Barbath, gendang, seruling, rebana, dan lainnya, menurut Imam Abu Hanifah. (Bada’i Ash Shana’i, 5/144)

Para ahli bahasa menjelaskan Al-Barbath adalah alat musik orang ‘ajam (non Arab), yang ter-Arabkan. (Abu Manshur Al-Harawi Al-Azhari, Tahdzibul Lughah, 14/42). Ada juga yang menyebut ‘Uud (kecapi), dan itu adalah bahasa Persia. (Abu Abdillah Al-Balkhi Al-Khawarizmi, Mafatih Al-‘Ulum, 1/260). Ada juga yang menyebut alat musik menyerupai kecapi, berasal dari Persia yang ter-Arabkan. (Ibnul Atsir, Nihayah fi Gharibil Hadits, 1/112)

Tentunya hanya benda-benda halal yang boleh diperjual belikan, maka ketika alat-alat musik dibolehkan diperjualbelikan oleh Imam Abu Hanifah, itu mengisyaratkan begitulah pendapat Imam Abu Hanifah. Wallahu A’lam

Hal ini dipertegas lagi dalam keterangan dalam Al-Mausu’ah berikut ini:

وذهب بعض الفقهاء إلى إباحتها إذا لم يلابسها محرم، فيكون بيعها عند هؤلاء مباحا . والتفصيل في مصطلح (معازف) .ومذهب أبي حنيفة – خلافا لصاحبيه – أنه يصح بيع آلات اللهو كله

Sebagian ahli fiqih berpendapat, bolehnya menjual alat-alat musik bila tidak dicampuri dengan hal-hal yang haram, maka menjual hal tersebut bagi mereka mubah. Rinciannya terdapat dalam pembahasan Al-Ma’azif. Imam Abu Hanifah berpendapat –berbeda dengan dua sahabatnya- bahwa sah memperjualbelikan alat-alat musik seluruhnya. (Al Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 9/157)

Imam Abu Muhammad bin Hazm Rahimahullah juga menegaskan kebolehan jual beli alat-alat musik, katanya:

وبيع الشطرنج، والمزامير، والعيدان، والمعازف، والطنابير: حلال كله، ومن كسر شيئا من ذلك ضمنه

Menjual catur, seruling, alat pesta, alat musik, tamburin, semuanya halal, dan barang siapa yang menghancurkannya maka dia wajib mengganti rugi. (Al Muhalla, 7/599)

Lalu Imam Ibnu Hazm menjelaskan alasannya:

قال – تعالى -: {خلق لكم ما في الأرض جميعا} [البقرة: 29] ، وقال – تعالى -: {وأحل الله البيع} [البقرة: 275] ، وقال – تعالى -: {وقد فصل لكم ما حرم عليكم} [الأنعام: 119] ، ولم يأت نص بتحريم بيع شيء من ذلك، ورأى أبو حنيفة الضمان على من كسر شيئا من ذلك. واحتج المانعون بآثار لا تصح، أو يصح بعضها، ولا حجة لهم فيها

Allah Ta’ala berfirman, “Dia telah menciptakan apa-apa yang ada di bumi semuanya buat kalian” (Al-Baqarah: 29), firman-Nya, “Allah telah halalkan jual beli” (QS. Al-Baqarah: 275), firman-Nya, “Dia telah menjelaskan untuk kalian apa-apa yang diharamkan atas kalian” (Al-An’am: 119), dan tidak ada satu pun nash yang mengharamkannya. Pendapat Abu Hanifah adalah wajib ganti rugi bagi yang menghancurkan alat-alat itu. Orang-orang yang melarang alat musik telah berhujjah dengan berbagai atsar yang tidak shahih, atau sebagiannya shahih, tetapi tidak bisa dijadikan hujjah (alasan). (Ibid)

Imam Asy Syaukani Rahimahullah [4] juga menceritakan dengan panjang lebar tentang siapa-siapa saja para imam kaum muslimin yang pernah mendengarkan dan membolehkannya, berikut penjelasannya:

وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي الْغِنَاءِ مَعَ آلَةٍ مِنْ آلَاتِ الْمَلَاهِي وَبِدُونِهَا. فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إلَى التَّحْرِيمِ مُسْتَدِلِّينَ بِمَا سَلَفَ. وَذَهَبَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ وَمَنْ وَافَقَهُمْ مِنْ عُلَمَاءِ الظَّاهِرِ وَجَمَاعَةٍ مِنْ الصُّوفِيَّةِ إلَى التَّرْخِيصِ فِي السَّمَاعِ وَلَوْ مَعَ الْعُودِ وَالْيَرَاعِ. وَقَدْ حَكَى الْأُسْتَاذُ أَبُو مَنْصُورٍ الْبَغْدَادِيُّ الشَّافِعِيُّ فِي مُؤَلَّفِهِ فِي السَّمَاعِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ كَانَ لَا يَرَى بِالْغِنَاءِ بَأْسًا وَيَصُوغُ الْأَلْحَانَ لِجَوَارِيهِ وَيَسْمَعُهَا مِنْهُنَّ عَلَى أَوْتَارِهِ، وَكَانَ ذَلِكَ فِي زَمَنِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ وَحَكَى الْأُسْتَاذُ الْمَذْكُورُ مِثْلَ ذَلِكَ أَيْضًا عَنْ الْقَاضِي شُرَيْحٍ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَعَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَالزُّهْرِيِّ وَالشَّعْبِيِّ وَقَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ وَابْنُ أَبِي الدَّمِ: نَقَلَ الْإِثْبَاتَ مِنْ الْمُؤَرِّخِينَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ كَانَ لَهُ جِوَارٍ عَوَّادَاتٍ، وَأَنَّ ابْنَ عُمَرَ دَخَلَ عَلَيْهِ وَإِلَى جَنْبِهِ عُودٌ فَقَالَ: مَا هَذَا يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَنَاوَلَهُ إيَّاهُ، فَتَأَمَّلَهُ ابْنُ عُمَرَ فَقَالَ: هَذَا مِيزَانٌ شَامِيٌّ، قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ: يُوزَنُ بِهِ الْعُقُولُ

وَرَوَى الْحَافِظُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَزْمٍ فِي رِسَالَتِهِ فِي السَّمَاعِ بِسَنَدِهِ إلَى ابْنِ سِيرِينَ قَالَ: إنَّ رَجُلًا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بِجَوَارٍ فَنَزَلَ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَفِيهِنَّ جَارِيَةٌ تَضْرِبُ، فَجَاءَ رَجُلٌ فَسَاوَمَهُ فَلَمْ يَهْوَ مِنْهُنَّ شَيْئًا، قَالَ: انْطَلِقْ إلَى رَجُلٍ هُوَ أَمْثَلُ لَكَ بَيْعًا مِنْ هَذَا؟ قَالَ مَنْ هُوَ؟ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، فَعَرَضَهُنَّ عَلَيْهِ،فَأَمَرَ جَارِيَةً مِنْهُنَّ فَقَالَ لَهَا: خُذِي الْعُودَ، فَأَخَذَتْهُ فَغَنَّتْ فَبَايَعَهُ، ثُمَّ جَاءَ إلَى ابْنِ عُمَرَ إلَى آخِرِ الْقِصَّةِ وَرَوَى صَاحِبُ الْعِقْدِ الْعَلَّامَةُ الْأَدِيبُ أَبُو عُمَرَ الْأَنْدَلُسِيُّ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ دَخَلَ عَلَى ابْنِ جَعْفَرٍ فَوَجَدَ عِنْدَهُ جَارِيَةً فِي حِجْرِهَا عُودٌ ثُمَّ قَالَ لِابْنِ عُمَرَ: هَلْ تَرَى بِذَلِكَ بَأْسًا؟ قَالَ: لَا بَأْسَ بِهَذَا وَحَكَى الْمَاوَرْدِيُّ عَنْ مُعَاوِيَةَ وَعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُمْ سَمِعَا الْعُودَ عِنْدَ ابْنِ جَعْفَرٍ وَرَوَى أَبُو الْفَرَجِ الْأَصْبَهَانِيُّ أَنَّ حَسَّانَ بْنَ ثَابِتٍ سَمِعَ مِنْ عَزَّةَ الْمَيْلَاءِ الْغِنَاءَ بِالْمِزْهَرِ بِشِعْرٍ مِنْ شِعْرِهِ. وَذَكَرَ أَبُو الْعَبَّاسِ الْمُبَرِّدُ نَحْوَ ذَلِكَ، وَالْمِزْهَرُ عِنْدَ أَهْلِ اللُّغَةِ: الْعُودُ وَذَكَرَ الْإِدْفَوِيُّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدَ الْعَزِيزِ كَانَ يَسْمَعُ مِنْ جَوَارِيهِ قَبْلَ الْخِلَافَةِ

وَنَقَلَ ابْنُ السَّمْعَانِيِّ التَّرْخِيصَ عَنْ طَاوُسٍ وَنَقَلَهُ ابْنُ قُتَيْبَةَ وَصَاحِبُ الْإِمْتَاعِ عَنْ قَاضِي الْمَدِينَةِ سَعْدِ بْنِ إبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الزُّهْرِيِّ مِنْ التَّابِعِينَ. وَنَقَلَهُ أَبُو يَعْلَى الْخَلِيلِيُّ فِي الْإِرْشَادِ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونِ مُفْتِي الْمَدِينَةِ وَحَكَى الرُّويَانِيُّ عَنْ الْقَفَّالِ أَنَّ مَذْهَبَ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ إبَاحَةُ الْغِنَاءِ بِالْمَعَازِفِ. وَحَكَى الْأُسْتَاذُ أَبُو مَنْصُورٍ وَالْفُورَانِيُّ عَنْ مَالِكٍ جَوَازَ الْعُودِ. وَذَكَرَ أَبُو طَالِبٍ الْمَكِّيُّ فِي قُوتِ الْقُلُوبِ عَنْ شُعْبَةَ أَنَّهُ سَمِعَ طُنْبُورًا فِي بَيْتِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو الْمُحَدِّثِ الْمَشْهُورِ. وَحَكَى أَبُو الْفَضْلِ بْنُ طَاهِرٍ فِي مُؤَلَّفِهِ فِي السَّمَاعِ أَنَّهُ لَا خِلَافَ بَيْنَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ فِي إبَاحَةِ الْعُودِ

قَالَ ابْنُ النَّحْوِيِّ فِي الْعُمْدَةِ: قَالَ ابْنُ طَاهِرٍ: هُوَ إجْمَاعُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ ابْنُ طَاهِرٍ: وَإِلَيْهِ ذَهَبَتْ الظَّاهِرِيَّةُ قَاطِبَةً. قَالَ الْأُدْفُوِيُّ: لَمْ يَخْتَلِفْ النَّقَلَةُ فِي نِسْبَةِ الضَّرْبِ إلَى إبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ الْمُتَقَدِّمِ الذِّكْرِ، وَهُوَ مِمَّنْ أَخْرَجَ لَهُ الْجَمَاعَةُ كُلُّهُمْ. وَحَكَى الْمَاوَرْدِيُّ إبَاحَةَ الْعُودِ عَنْ بَعْضِ الشَّافِعِيَّةِ. وَحَكَاهُ أَبُو الْفَضْلِ بْنُ طَاهِرٍ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيِّ وَحَكَاهُ الْإِسْنَوِيُّ فِي الْمُهِمَّاتِ عَنْ الرُّويَانِيِّ وَالْمَاوَرْدِيِّ وَرَوَاهُ ابْنُ النَّحْوِيِّ عَنْ الْأُسْتَاذِ أَبِي مَنْصُورٍ وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُلَقِّنِ فِي الْعُمْدَةِ عَنْ ابْنِ طَاهِرٍ وَحَكَاهُ الْأُدْفُوِيُّ عَنْ الشَّيْخِ عِزِّ الدِّينِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ وَحَكَاهُ صَاحِبُ الْإِمْتَاعِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ الْعَرَبِيِّ، وَجَزَمَ بِالْإِبَاحَةِ الْأُدْفُوِيُّ هَؤُلَاءِ جَمِيعًا قَالُوا بِتَحْلِيلِ السَّمَاعِ مَعَ آلَةٍ مِنْ الْآلَاتِ الْمَعْرُوفَةِ

Telah diperselisihkan tentang nyanyian dengan alat musik dan tanpa alat musik. Mayoritas ulama mengharamkannya berdasarkan dalil yang telah lalu. Sedangkan penduduk Madinah, dan golongan yang sepakat dengan mereka dari kalangan ulama zhahiriyah, dan segolongan sufi, memberikan keringanan mendengarkannya walau memakai kecapi dan klarinet.

Al-Ustadz Abu Manshur Al-Baghdadi Asy Syafi’i menceritakan dalam karyanya, As-Samaa’, bahwasanya Abdullah bin Ja’far memandang nyanyian tidak apa-apa, Beliau pernah menciptakan bait nyanyian untuk para tetangganya lalu diperdengarkan dari mereka dengan diiringi dawainya (semacam gitar). Hal itu terjadi pada masa Amirul Mu’minin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Al-Ustadz (Abu Manshur) juga menceritakan yang seperti ini juga berasal dari Al-Qadhi Syuraih, Sa’id bin Al-Musayyib, ‘Atha bin Abi Rabah, Az-Zuhri, Asy Sya’bi.

Imam Al-Haramain berkata dalam An-Nihayah, juga Ibnu Abi Ad Dam: bahwa telah dinukil kepastian dari para sejarawan, bahwa Abdullah bin Az-Zubeir Radhiallahu ‘Anhu dahulu memiliki tetangga para pemain kecapi. Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma pernah masuk ke rumahnya dan di sisi Abdullah bin Az-Zubeir terdapat ‘Uud (kecapi), lalu Ibnu Umar bertanya, “Apa ini wahai sahabat Nabi?” Ibnu Umar menghampirinya dan terus memperhatikan benda itu, dan bertanya, “Apakah ini timbangan negeri Syam?” Ibnu Az-Zubeir menjawab, “Ini untuk menimbang akal.”

Al-Hafizh[5] Abu Muhammad bin Hazm meriwayatkan dalam risalahnya tentang As-Samaa’ dengan sanadnya, dari Ibnu Sirin, katanya: Ada seorang laki-laki datang ke Madinah bersama tetangganya, mereka berhenti di tempatnya Abdullah bin Umar, pada mereka terdapat jariyah yang sedang main rebana, lalu datang laki-laki yang menawarkannya dan dia sedikitpun tidak tertarik kepadanya. Beliau (Ibnu Umar) berkata, “Pergilah ke laki-laki yang bisa membeli dengan harga lebih dibanding seperti kepunyaanmu dan jual-lah.” Laki-laki itu bertanya, “Siapa dia?” Beliau menjawab, “Abdullah bin Ja’far. Lalu mereka membawanya kepadanya (Abdullah bin Ja’far), lalu salah satu jariyah itu diperintahkan, “Ambil-lah ‘Uud (kecapi).” Lalu dia mengambilnya lalu bernyanyi. Maka laki-laki itu menjualnya. Kemudian dia datang lagi ke Ibnu Umar sampai akhir kisah ini.

Pengarang kitab Al-‘Iqdu, Al-‘Allamah Abu Umar Al-Andalusi, meriwayatkan, “Bahwa Abdullah bin Umar masuk ke rumah Abdullah bin Ja’far Radhiallahu ‘Anhuma. Dia dapati di rumahnya itu ada seorang jariyah yang dikamarnya terdapat ‘Uud (kecapi). Lalu Beliau bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah pendapatmu ini boleh-boleh saja?” Beliau menjawab, “Tidak apa-apa.”

Imam Al-Mawardi menceritakan bahwa dahulu Mu’awiyah dan Amr bin Al-‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma mendengarkan kecapi dari Ibnu Ja’far.

Abul Faraj Al-Ashbahani meriwayatkan bahwa dahulu Hassan bin Tsabit Rahiallahu ‘Anhu mendengarkan dari ‘Azzah Al-Maila nyanyian dengan menggunakan Al-Miz-har (kecapi), dengan menggunakan syair yang dibuatnya. Abul ‘Abbas Al-Mubarrad juga meriwayatkan yang seperti itu. Al-Miz-har menurut ahli bahasa adalah Al-‘Uud (kecapi).

Al-Udfuwi meriwayatkan bahwa dahulu Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu ‘Anhu mendengarkan jariyahnya bermain kecapi, sebelum beliau menjadi khalifah.

Ibnu As-Sam’ani menukil dari Thawus tentang adanya rukhshah (keringanan) mendengarkan musik (kecapi). Ibnu Qutaibah dan pengarang kitab Al-Imta’ menukil hal itu juga dari seorang Qadhi kota Madinah, Sa’d bin Ibrahim bin Abdurrahman, seorang generasi dari tabi’in. Abu Ya’la Al-Khalili dalam Al-Irsyad juga menukil hal itu dari Abdul Aziz bin Abu Salamah Al-Majisyun, mufti kota Madinah.

Ar-Ruyani meriwayatkan dari Al-Qaffal, bahwa madzhab-nya Imam Malik bin Anas membolehkan bernyanyi dengan menggunakan alat musik (Al Ma’azif).

Al-Ustadz Abu Manshur Al-Furani menceritakan bahwa Imam Malik membolehkan kecapi (Al ‘Uud).

Abu Thalib Al-Makki menceritakan dalam Qutul Qulub dari Syu’bah, bahwa dia (Syu’bah) mendengarkan tamburin di rumah Al-Minhal bin Al-Amr seorang ahli hadits terkenal.

Abu Al-Fadhl Ibnu Thahir menceritakan dalam karyanya, As-Samaa’, bahwa tidak ada perbedaan pendapat bagi penduduk kota Madinah tentang kebolehan alat musik kecapi.[6]

Ibnu An-Nahwi mengatakan dalam Al-‘Umdah: berkata Ibnu Thahir: itu adalah ijma’ penduduk kota Madinah (kebolehan alat musik kecapi, pen). Ibnu Thahir berkata: ini adalah madzhab golongan zhahiriyah seluruhnya.

Al-Udfuwi meriwayatkan: bahwa tidak ada perbedaan pendapat tentang nukilan penisbatan kepada Ibrahim bin Sa’ad bahwa Beliau memukul rebana sebelum berdzikir.

Imam Al-Mawardi menceritakan tentang kebolehan kecapi menurut sebagian Syafi’iyah. Abul Fadhl bin Thahir menceritakan dari Abu Ishaq Asy Syirazi, dan Al-Isnawi menceritakan dalam Al-Muhimmat dari Ar Ruyani dan Al-Mawardi, dan Ibnu An-Nahwi meriwayatkan dari Al-Ustadz Abu Manshur, dan Ibnul Mulaqqin menceritakan dalam Al-‘Umdah dari Ibnu Thahir, dan Al-Udfuwi menceritakan dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, dan pengarang kitab Al-Imta’ meriwayatkan dari Abu Bakar bin Al-‘Arabi, dan Al-Udfuwi memastikan kebolehan (Al ‘Uud) dari mereka semua. Mereka mengatakan, “Halalnya mendengarkan permainan musik dengan alat-alat musik yang telah dikenal.” (Nailul Authar, 8/113-114)

 

H. Kesimpulan

Dari uraian Imam Al-Ghazali, Imam Asy Syaukani, Syaikh Sayyid Sabiq, dan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili di atas, kita bisa mengambil kesimpulan:

  1. Perselisihan pendapat tentang musik di antara ulama besar kaum muslimin memang benar-benar terjadi. Bahkan sudah terjadi sejak masa-masa sebelum lahirnya imam empat madzhab, walaupun imam empat madzhab disebut telah sepakat atas keharamannya.
  2. Menurut keterangan di atas, sebagaian sahabat nabi ada yang membolehkan bahkan pernah mendengarkan seperti Abdullah bin Umar dalam salah satu riwayatnya, Abdullah bin Az-Zubeir, Abdullah bin Ja’far, Al-Mughirah bin Syu’bah, Hassan bin Tsabit, Amr bin Al-‘Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan selainnya.
  3. Menurut keterangan di atas pula, sebagaian kibarut tabi’in (tabi’in senior) juga ada yang membolehkan seperti Umar bin Abdul Aziz dalam salah satu riwayat tentang dirinya sebelum menjadi khalifah, Syuraih Al-Qadhi, Abdul Aziz bin Al-Maslamah, Sa’id bin Al-Musayyib, Syu’bah, Ibrahim bin Sa’ad, Thawus, dan selainnya.
  4. Pembolehan ini juga menjadi pendapat golongan zhahiriyah (tekstualist) seluruhnya, sufiyah seperti Al-Junaid, Dzun Nuun Al-Mishri, As-Sari As-Suqthi, dan sebagian Malikiyah seperti Imam Abu Bakar bin Al-‘Arabi, Syafi’iyah seperti Imam Al-Ghazali, Imam Al-Mawardi, dan Hanafiyah seperti Imam Ibnu ‘Abidin. Ada riwayat dari Imam Malik bahwa Beliau membolehkan kecapi sebagaimana disebutkan oleh Al-Qaffal.
  5. Pembolehan ini juga menjadi pendapat penduduk Madinah, bahkan diklaim oleh Ibnu Thahir bahwa penduduk Madinah telah Ijma’ atas kebolehannya. Namun, klaim ini dikritik keras Al-Adzra’i dan nilainya sebagai kedustaan dari Ibnu Thahir, sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Az-Zawajir.
  6. Data-data di atas bukan berarti tanpa sorotan, pihak yang mengharamkan meragukan keshahihan sebagian riwayat tentang para sahabat, tabi’in, dan imam kaum muslimin yang membolehkan. Di antara yang meragukan adalah Imam Ibnul Qayyim, Imam Al-Azdra’i, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
  7. Sebagian ulama yang membolehkan keukeuh mengatakan kebalikannya, bahwa tidak ada ayat dan hadits shahih dan sharih sedikitpun tentang pengharaman musik, seperti yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, dan Imam Al-Fakihani.

 

I. Rambu-Rambu dan Adab

Para ulama yang membolehkan tetap memberikan rambu-rambu, yang jika dilanggar maka musik tetaplah terlarang dan mesti ditinggalkan.

  1. Tinjauan musiknya, apakah terasosiakan sebagai musik ahli maksiat dan fasiq? Jika ya, maka hendaknya ditinggalkan karena itu merupakan tasyabbuh (penyerupaan). Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum (barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk kaum tersebut). Hr. Abu Daud, Ahmad, dan lainnya.
  2. Tinjaun pemain dan pendengar, yakni penampilannya; apakah meniru orang kafir? Apakah pakaiannya pamer aurat. Adakah tarian dan jogetnya? Jika ya tinggalkan, karena ini maksiat dan kedurhakaan.
  3. Tinjauan waktu, jika musik dapat memalingkan manusia dari kewajiban agama dan dunia maka wajib ditinggalkan. Termasuk musik yang akhirnya menyita waktu, atau berlebihan, maka wajib ditinggalkan. Setiap manusia, dia yang paling tahu tentang keadaan dirinya, saat bagimanakah sudah layak disebut melampaui batas, dan mesti jujur atas keadaan itu.
  4. Tinjauan tempat, jika di dalamnya terdapat kemunkaran seperti khamr, wanita, judi, seperti di bar dan diskotik, atau ikhtilath laki-laki dan perempuan.
  5. Dari dampaknya, ini tolok ukurnya masing-masing individu. Jika ternyata mendengar nyanyian dan musik membuatnya lahir rasa takut dan cemas tak berdasar, atau lahir syahwat, atau lahir keinginan untuk melakukan perbuatan maksiat dan haram, maka haramlah itu, dan langsunglah ia menjauhi lagu dan nyanyian.
  6. Berlebih-lebihan dalam hal mubah tetaplah terlarang dan itu merupakan talbis iblis untuk memalingkan manusia dari hal-hal yang lebih penting dan utama.

Demikianlah pembahasan tentang Halal dan Haram Tentang Musik. Semoga menjadi salah satu sumbangsih pemikiran yang kecil untuk menambah kekayaan khazanah Islam yang sangat luas. Inilah yang sejauh kami ketahui, semoga Allah Ta’ala memaafkan apa-apa yang tidak kami ketahui. Semoga pembaca memberikan maklum dan maaf atas apa-apa yang Adab Al-Hiwar wal Qawaid Al-Ikhtilaf menjadi kesalahan kami. Semoga Allah Ta’ala menjadikannya sebagai amal shalih yang bermanfaat dan memiliki nilai di sisi-Nya. Amiin. Wallahu A’lam

Maraji’ (referensi):

  • Alquran Al-Karim

Kitab-kitab tafsir:

  • Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari
  • Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi
  • Tafsir Alquran Al-‘Azhim, Imam Ibnu Abi Hatim
  • Tafsir Alquran Al-‘Azhim, Imam Abu Fida bin Katsir
  • Mafatihul Ghaib, Imam Abu Abdillah Fakhruddin Ar Razi
  • Ad Durul Mantsur, Imam Jalaluddin As-Suyuthi
  • Fathul Qadir, Imam Asy Syaukani
  • Al Muharrar Al-Wajiz, Imam Abu Muhammad bin ‘Athiyah Al-Andalusi
  • Tafsir Alquran, Imam Abu Muzhaffar As-Sam’ani At-Tamimi
  • At Tashil Li ‘Ulumit Tanzil, Imam Abul Qasim bin Juzi Al-Kalbi
  • Ahkamul Quran, Imam Abu Bakar bin Al-‘Arabi

Kitab-kitab hadits:

  • Jami’ush Shahih, Imam Al-Bukhari
  • Jami’ush Shahih, Imam Muslim
  • Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmdzi
  • Sunan Abi Daud, Imam Abu Daud
  • Sunan Ibni Majah, Imam Ibnu Majah
  • Sunan Ad Darimi, Imam Ad Darimi
  • Musnad Ahmad, Imam Ahmad
  • Musnad Abi Ya’la, Imam Abu Ya’la
  • As Sunan Al-Kubra, Imam An-Nasa’i
  • As Sunan Al-Kubra, Imam Al-Baihaqi
  • Syu’abul Iman, Imam Al-Baihaqi
  • Al Adab, Imam Al-Baihaqi
  • Al Mu’jam Al-Kabir, Imam Ath Thabarani
  • Musnad Al-Bazzar, Imam Al-Bazzar
  • Kanzul ‘Ummal, Imam Alauddin Al-Muttaqi Al-Hindi
  • Al Ahadits Al-Mukhtarah, Imam Dhiya’uddin Al-Maqdisi
  • Musnad Abi Daud Ath Thayalisi, Imam Abu Daud Ath Thayalisi
  • Al Mushannaf, Imam Ibnu Abi Syaibah
  • Musnad Ar Ruyani, Imam Ar Ruyani
  • Al Jami’ Al-Ushul, Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Kitab-kitab Syarah Hadits:

  • Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani
  • Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi
  • Kasyful Musykil, Imam Abul Faraj bin Al-Jauzi
  • Nailul Authar, Imam Asy Syaukani
  • At Taisir bi Syarhi Al-Jami’ Ash Shaghir, Imam Al-Munawi
  • Faidhul Qadir, Imam Al-Munawi
  • Tuhfah Al-Ahwadzi, Imam Abul ‘Ala Al-Mubarkafuri
  • ‘Aunul Ma’bud, Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi
  • Mirqah Al-Mafatih, Imam ‘Ali Al-Qari

Kitab-kitab takhrij dan tahqiq hadits:

  • Al Badrul Munir, Imam Ibnul Mulaqqin
  • Tuhfatul Muhtaj Ila Adillatil Minhaj, Imam Ibnul Mulaqqin
  • Mukhtashar As-Sunan, Imam Al-Mundziri
  • Al Maqashid Al-Hasanah, Imam Abul Khair Syamsuddin As-Sakhawi
  • Al ‘Ilal Mutanahiyah, Imam Abul Faraj bin Al-Jauzi
  • Kasyful Khafa, Imam Al-‘Ajluni
  • Ta’liq Musnad Ahmad, Syaikh Syuaib Al-Arnauth
  • Shahih Kunuz As-Sunnah An-Nabawiyah, Syaikh Baari ‘Irfan Taufiq
  • Silsilah Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Ghayatul Maram, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Miyskah Al-Mashabih, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Shahihul Jami’ Ash Shaghir, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Shahih wa Dhaif Sunan At-Tirmidzi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kitab-kitab fiqih dan fatwa:

Madzhab Hanafi

  • Tabyinul Haqaiq, Imam Az-Zaila-i Al-Hanafi
  • Bahrur Raa-iq, Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafi
  • Bada’i Ash Shana’i, Imam Al-Kisani Al-Hanafi
  • Al Muhith Al-Burhani, Imam Abul Ma’ali Al-Bukhari Al-Hanafi
  • Tuhfatul Muluk, Imam Abu Muhammad Abdul Qadir Al-Hanafi

 Madzhab Maliki

  • Hasyiah Ad Dasuqi ‘Alasy Syarhil Kabir, Imam Ad Dasuqi Al-Maliki
  • Al Muqaddimat, Imam Ibnu Rusyd Al-Maliki
  • Ar Risalah, Imam Abu Muhammad Al-Qairuwani Al-Maliki

Madzhab Syafi’i

  • Al Umm, Imam Asy Syafi’i
  • Al Lubab fi Fiqhisy Syafi’i, Imam Abul Hasan Al-Muhamili Asy Syafi’i
  • Nihayatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i
  • Hasyiah Asy Syubramalisi, Imam Asy Syubramalisi Asy Syafi’i
  • Raudhatuth Thalibin, Imam An-Nawawi Asy Syafi’i
  • Minhajuth Thalibin , Imam An-Nawawi Asy Syafi’i
  • Al Hawi Al-Kabir, Imam Abul Hasan Al-Mawardi Asy Syafi’i
  • Al Wasith fil Madzhab, Imam Al-Ghazali Asy Syafi’i
  • Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab, Imam Al-Haramain Al-Juwaini
  • Al Asybah wan Nazha-ir, Imam Jalaluddin As-Suyuthi

 Madzhab Hambali

  • Al Mughni, Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Al-Hambali
  • Majmu’ Al-Fatawa, Imam Ibnu Taimiyah Al-Hambali
  • Syarh Adab Al-Musti, Syaikh Ibrahim bin Muhammad Alu Asy Syaikh Al-Hambali

Madzhab Zhahiri

  • Al Muhalla, Imam Abu Muhammad bin Hazm Azh Zhahiri

 Fiqih Umum

  • Fiqhus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq
  • Al Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Dept Waqaf Kuwait
  • Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Az-Zuhaili
  • Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Tahrim Alatith Tharb, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kitab-kitab sejarah dan biografi:

  • Siyar A’lamin Nubala, Imam Syamsuddin Adz Dzahabi
  • Mizanul I’tidal, Imam Syamsuddin Adz Dzahabi

Kitab Kamus dan Bahasa:

  • Tahdzibul Lughah, Abu Manshur Al-Harawi Al-Azhari
  • Mafatih Al-‘Ulum, Abu Abdillah Al-Balkhi Al-Khawarizmi
  • Nihayah fi Gharibil Hadits, Imam Ibnul Atsir
  • Gharibul Hadits, Imam Abu ‘Ubaid

Kitab-kitab umum:

  • Ighasatul Lahfan fi Mashayyidisy Syaithan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
  • Az Zawajir ‘an Iqtirafil Kabaa-ir, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makki
  • Ihya ‘Ulumuddin, Imam Abu Hamid Al-Ghazali
  • Hilyatul Auliya, Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani
  • Majmu’ah Ar Rasail, Imam Hasan Al-Banna
  • Adab Al-Hiwar wal Qawaid Al-Ikhtilaf, Syaikh Dr. Umar bin Abdullah Kamil

—————————————————————————————————————–

[1] Imam Al-Ghazali, dia adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath Thusi. Dijuluki hujjatul Islam (hujjahnya Islam), seorang filsuf, teolog, ahli tashawuf, ahli manthiq (ilmu logika), ahli fiqih, ushul fiqih, zahid (orang yang zuhud), wira’i (orang yang wara’), ‘abid (ahli ibadah), ahli debat, dan sebagainya. Lahir 450H (1058M) di Thusi, daerah Khurasan, wafat di situ juga tahun 505H (1111M). Nama “Al Ghazali” di ambil dari Al-Ghazalah, nama desa kelahirannya. Mengembara menuntut ilmu ke berbagai negeri, ke Naisabur, lalu Baghdad, lalu Hijaz, lalu Syam, lalu Mesir, lalu kembali ke kampung halamannya. Sepanjang hayatnya memiliki kaya sekitar 200 judul, seperti Ihya ‘Ulumuddin, Al-Basith, Al-Mustashfa, Al-Munqidz minadh Dhalal, Al-Farq bainash Shalih wa Ghairush Shalih, Tahafut Al-Falasifah, Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ma’arif Al-‘Aqliyah, Jawahirul Quran, Fadhaa-ih Al-Bathiniyah, dan sebagainya. Di antara gurunya adalah Imam Abul Ma’ali Al-Juwaini, yang biasa disebut Imam Al-Haramain, yang memujinya, “Al Ghazali adalah luatan ilmu yang sangat luas (Bahrun Mughriq).” Beliau salah satu ulama yang paling berpengaruh di dunia Islam, bahkan dunia Barat. Karya-karyanya tentang filsafat dan kepiawaiannya meruntuhkan dominasi filsafat Yunani di zamannya telah dikaji oleh para sarjana di Barat, dan mereka mengenalnya dengan nama Al-Gazell.

[2] Beliau adalah Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, ulama Mesir alumnus Al-Azhar. Wafat tahun 1420H. Hidupnya dihabiskan untuk ilmu, tarbiyah, dan jihad bersama jama’ahnya, Al-Ikhwan Al-Muslimun. Banyak karyanya di antaranya Fiqhus Sunnah, Islamuna, Al-‘Aqaid Al-Islamiyah, Mashadir Al-Quwwah fil Islam, dan lainnya. Ada pun Fiqhus Sunnah adalah kitab fiqih produk abad 20 yang paling banyak penyebarannya di dunia Islam. Hampir-hampir dikatakan tidak ada lembaga pendidikan Islam dan masjid, melainkan pasti memiliki kitab Fiqhus Sunnah. Oleh karena itu, Beliau mendapatkan penghargaan King Faishal Award pada tahun 1993M dari kerajaan Arab Saudi, bersama salah satu murid terbaiknya Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Hafizhahullah. Kitab Fiqhus Sunnah disusun atas permintaan Syaikhnya, yakni Al-Ustadz Hasan Al-Banna Rahimahullah sebagai pedoman fiqih bagi jama’ah Al-Ikhwan. Lalu kitab tersebut ditakhrij haditsnya oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah dan diberikan kata pengantar oleh gurunya (Syaikh Al-Banna) tersebut.

[3] Beliau adalah Syaikh Wahbah bin Mushthafa Az-Zuhaili Hafizhahullah. Lahir tahun 1932M, di pinggir kota Damaskus, Siria. Orang tuanya adalah penghapal Alquran dan sangat dekat dengan sunah, selain itu keluarganya adalah petani dan pedagang. Beliau merupakan alumnus Al-Azhar, pernah juga belajar di Universitas Ainusy Syams, dan Universitas Damaskus, fakultas Syariah. Kompentensinya adalah bahasa Arab, Ushul Fiqih, dan Fiqih, dan mendapat gelar Doktor tahun 1963M. Dia berguru ilmu usul fiqih, fiqih, tafsir, dan hadits, kepada banyak ulama baik di Syam mau pun Mesir. Murid-muridnya pun sangat banyak dan telah menjadi ulama besar seperti Syaikh Muhamamd Az-Zuhaili dan Syaikh Muhamamd Na’im Yasin, dan lainnya. Karya-karyanya di antaranya: Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Aatsarul Harb fi Fiqhil Islami, Takhrij wa Tahqiq ahaadits, Al-Wasith fi Ushulil Fiqhil Islami, dan lainnya.

[4] Dia adalah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdillah Asy Syaukani Al-Yamani (1173 – 1250H/1759-1834M). Seorang ahli fiqih, ulama besar, mujtahid, luas ilmunya, baik tafsir, hadits, ushul fiqih, fiqih, dan banyak karyanya seperti Nailul Authar, Irsyadul Fuhul, Sailul Jarar, Fathul Qadir, Tuhfah Adz Dzakirin, Syarh Ash Shudur, Al-Qaul Al-Mufid fi Adillatil Ijtihad wat Taqlid, dan lainnya. Beliau berguru kepada banyak ulama di negerinya, Yaman, mengkaji kitab mereka dan menyimak hadits dari mereka. Banyak santri berguru kepadanya dari berbagai penjuru dunia. Kesibukannya adalah menulis, berfatwa, berda’wah pada gerakan pembaharuan dan ishlah. Menolak taklid buta kepada siapa pun, dan ketika syarat-syarat menjadi mujtahid sudah terpenuhi sempurna, maka dia telah mencapai derajat itu, dan ulama pun mengakuinya.

[5] Imam Asy Syaukani menyebut Imam Ibnu Hazm sebagai Al-Hafizh, sebuah gelar kehormatan bagi ulama yang menguasai hadits dan ilmu-ilmunya. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari-nya juga menyebut Imam Ibnu Hazm dengan sebutan Al-Hafizh. Maka, ini menunjukkan kemampuannya dalam bidang hadits, dan pengakuan ulama atas Imam Ibnu Hazm. Ini sekaligus koreksi atas pihak yang meremehkan kemampuan Imam Ibnu Hazm dalam bidang ilmu hadits. Gelar Al-Hafizh ini diberikan kepada ahli hadits yang sudah mampu menghapal 100.000 hadits, dan juga mampu melakukan jarh wa ta’dil, mengetahui perawi yang salah, melakukan tash-hih (penshahihan) dan tadh’if (pendhaifan) terhadap hadits, menguasai ilmu sanad dan matan sekaligus. Para ulama yang sudah sampai derajat ini adalah Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Imam Zainuddin Al-‘Iraqi, Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id, Imam Al-Mundziri, dan sebagainya.

[6] Pernyataan Imam Ibnu Thahir Rahimahullah telah dikritik keras oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami Al-Makki Rahimahullah dalam kitab Az-Zawajir, katanya, “Ada pun cerita dari Ibnu Thahir, Beliau mengambil dari penyusun At-Tanbih, bahwa Beliau membolehkan mendengarkan kecapi, dan dia mendengarkannya, dan itu masyhur darinya. Beliau adalah salah satu ulama pada masanya dan itu tidak diingkari. Ada pun penghalalannya dan itu kesepakatan penduduk Madinah, maka pernyataan Ibnu Thahir ini telah dibantah oleh mereka. Mereka mengatakan dia adalah petualang, pembohong, kotor dan najis aqidahnya. Oleh karena itu Al-Adzra’i mengomentari pernyataan Ibnu Thahir: Ini adalah spekulasinya Ibnu Thahir, sesungguhnya yang memainkan musik di Madinah adalah orang-orang gila dan pelaku kebatilan. Penyandaran Ibnu Thahir bahwa hal itu dikatakan oleh penyusun kitab At-Tanbih –seperti yang dikatakannya dalam kitab As-Sama’– adalah penyandaran yang batil secara pasti.” (Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Az-Zawajir ‘an Iqtirafil Kabaa-ir , 2/339)

Bagian pertama.

Bagian kedua (sebelumnya).

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Jakarta, Juni 1978. Alumni S1 Sastra Arab UI Depok (1996 - 2000). Pengajar di Bimbingan Konsultasi Belajar Nurul Fikri sejak tahun 1999, dan seorang muballigh. Juga pengisi majelis ta'lim di beberapa masjid, dan perkantoran. Pernah juga tugas dakwah di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, selama dua tahun. Tinggal di Depok, Jawa Barat.

Lihat Juga

Ilusi Band: Islam Tidak Ajarkan Berbohong Meski Untuk Kebaikan

Organization