Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nur Muhammad (Cahaya Muhammad) Antara Hakikat Agama dan Mitos

Nur Muhammad (Cahaya Muhammad) Antara Hakikat Agama dan Mitos

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Tidak menutup kemungkinan Anda pernah mendengar Nur Muhammad dari lingkungan sekitar, seperti yang saya dengar di usia belasan tahun dari salah seorang yang dituakan di kampung. Anehnya, mereka mengetahui masalah seperti ini meskipun mereka tidak mengenal tarikat-tarikat sufi. Hakikat tersebut diwarisi dari nenek moyang mereka turun-temurun. Hakikat ini di saat pertama kali menyentuh pendengaranku, ia seperti air yang mengalir begitu saja, pergi dan berlalu tanpa mengorek akal pikirku untuk memberikan telaah lebih lanjut. Kini, ia hadir kembali dan saya pun sudah siap menelaahnya dengan mengedepankan makna-makna yang dibiaskan Al-Quran dan hadits.

Sebelum terlalu jauh menyentuh tema ini, pemerhati hakikat-hakikat agama diajak memeta akar masalahnya sehingga mudah dijabarkan dan dijelaskan. Yang pertama: apakah arti Nur Muhammad ini? Apakah cahaya itu bersifat fisik atau maknawi saja atau fisik dan maknawi? Kedua: apakah benar alam semesta tidak tercipta seandainya bukan karena Rasulullah Saw?

Di Al-Quran ada beberapa ayat yang menyifati Rasulullah Saw sebagai cahaya, muara cahaya kehidupan. Di antaranya:

قَالَ تَعَالَى: )يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ(.([1])

قَالَ تَعَالَى: )يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا(.([2])

Kedua ayat di atas menyifati Rasulullah Saw sebagai cahaya yang memberi terang. Yah, dia cahaya fisik dan maknawi. Secara fisik para sahabat (yang semuanya diridhai Allah) menyifati wajah Rasulullah Saw seperti matahari dan bulan purnama yang memancarkan sinar. Di periwayatan lain Rasulullah Saw di saat memasuki kota Madinah diberitakan menyinari sudut-sudut kota dan di kala meninggal kota Madinah pun kembali hening dalam kegelapan. Di lain sisi, di saat Rasulullah Saw dalam kandungan, ibunya melihat cahaya yang menyinari istana-istana Bashra di Syam. ([3])

Riwayat-riwayat tersebut seperti berikut:

حَدَّثَنَا عَلِي بِنْ سَعِيْدٍ الرَّازِي، ثَنَا عَلِي بِنْ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسِي، ثَنَا وَكِيْعٌ عَنْ إِسْرَائِيْل عَنْ سِمَاك بِنْ حَرْب: قَالَ: قِيْلَ لِجَابِرٍ: أَكَانَ وَجْهُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ مِثْلَ السَّيْفِ؟ قَالَ: لاَ، بَلْ، مِثْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ([4]).

عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ، صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: (إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينَتِهِ، وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْ ذَلِكَ؛ دَعْوَةِ إِبْرَاهِيمَ، وَبِشَارَةُ عِيسَى بِي، وَرُؤْيَا أُمِّي الَّتِي رَأَتْ، وَكَذَلِكَ أُمَّهَاتُ النَّبِيِّينَ يَرَيْنَ، وَإِنَّ أُمَّ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَأَتْ حِينَ وَضَعَتْهُ نُورًا أَضَاءَتْ لَهُ قُصُورُ الشَّامِ([5]).

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْن سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: لَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ أَضَاءَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ، فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ أَظْلَمَ مِنْهَا كُلُّ شَيْءٍ، وَقَالَ: مَا نَفَضْنَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَيْدِي حَتَّى أَنْكَرْنَا قُلُوبَنَا([6]).

Mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah mengatakan:

“Dengan adanya dalil-dalil kuat ini, tidak ada larangan bagi seseorang menyifati Rasulullah Saw dengan cahaya selama Allah sendiri yang menyifatinya demikian. Olehnya itu, tidak sepatutnya kita mengingkari cahaya fisik Rasulullah Saw. Yang demikian itu karena hakikat ini tidak menyalahi aqidah dan fitrah penciptaannya selaku manusia. Bukankah tabiat bulan itu padat? Meskipun demikian,  ia disifati sebagai benda bercahaya, dan sementara itu, Rasulullah Saw lebih mulia dari bulan, bahkan lebih mulia dari semua ciptaan. Yang dilarang syariat menyangkal sifat-sifat kemanusiaan dari Rasulullah Saw yang telah ditegaskan oleh ayat-ayat Al-Quran, seperti Q.S. Al-Kahfi [18]: 110” ([7])

Di lain sisi, cahaya maknawi Rasulullah Saw merupakan hakikat Islam yang kebenarannya bukan hanya diamini oleh umat Islam sendiri, tetapi juga diyakini oleh musuh-musuh Islam. Dia pelita abadi yang menyoroti sendi-sendi kehidupan dengan cahaya syariat, penebar pesona-pesona ketauhidan yang menyejukkan kalbu para perindu hakikat-hakikat ketuhanan, simbol kesempurnaan akhlak kemanusiaan bagi mereka yang ingin meniti titian ukhrawi, dan pelaksana terbaik syariat dan hakikat yang diejawantahkan oleh para penuntut syariat dan hakikat yang mendapatkan taufik menghidupkan sunnahnya. Dia muara cahaya kehidupan yang tidak pernah berhenti memberi sinar.

Berikut ini ilustrasi maknawi Nur Muhammad yang dituangkan Ustadz Said Nursi dalam pernyataan monumentalnya, beliau berkata:

“Ketahuilah! Sesungguhnya jika Anda melihat alam semesta ini kitab besar, Anda pasti melihat Nur Muhammad tinta pena penulis.”([8]) Yah, yang demikian itu karena kosa kata sunah tidak pernah berhenti memercikkan kesejukan makna-makna ketauhidan, syariat, dan akhlak. Dia penafsir pertama dan terbaik kitab Allah. Sebagaimana tabligh wahyu qur’ani diembannya dengan sempurna, begitu pula dengan penyampaian sunnahnya yang tidak kalah sempurna.

“Dan di kala Anda melihat alam semesta ini seperti pohon besar, Anda akan menempatkan cahaya maknawi Rasulullah Saw yang pertama kali sebagai bijinya dan yang kedua kalinya sebagai buahnya.” Yah, yang demikian itu karena bagan penciptaan alam semesta dan isinya dapat diilustrasikan seperti pohon besar (شَجَرَةُ الْخِلْقَةِ) ([9]) dan manusia adalah buahnya. Tentunya, buah lebih sempurna dari bagian-bagian lain pohon karena ia mengumpulkan keistimewaan pohon itu sendiri dan seluruh komponennya. Sementara itu, yang disepakati bersama Rasulullah Saw hamba yang paling sempurna mencontohkan kehambaan sejati terhadap Allah. Pribadi kehambaannya mencerminkan kasih sayang Allah, kemuliaan hakikat manusia di antara entitas-entitas kehidupan. Olehnya itu, wajar jika beliau diposisikan sebagai biji dan buah dari pohon penciptaan.

“Dan jika Anda mengilustrasikan alam semesta seperti hewan, Anda akan meletakkan cahaya Rasulullah Saw sebagai ruhnya.” Yah, yang demikian itu karena tuntunan sunnahnya ruh kehidupan terhadap jasmani yang mampu memberi keseimbangan terhadap kekuatan-kekuatan maknawi tubuh. Tanpa ruh Al-Quran dan sunnah manusia akan dikuasai oleh nafsu hewani, nafsu yang membutakan mata hati, akal digerogoti khayalan-khayalan semu yang menginginkan kenikmatan-kenikmatan sesaat, dan menjadikan kekuatan fisik tolak ukur kehidupan dan kejayaan sehingga kehidupan manusia pun tidak jauh beda dengan kehidupan rimba, yang kuat diagungkan dan dipertuhankan dan yang lemah mati diinjak tirani penguasa.

“Dan jika Anda mengibaratkan alam semesta dengan taman bunga, Anda akan melihat cahaya Rasulullah Saw seperti burung bulbul (الْعَنَْدَِليْبُ) ([10]).” Yah, yang demikian itu karena hikmah-hikmah kenabian dengan begitu sejuk menyentuh hati. Anda seperti di taman menikmati pesona aroma bunga yang diiringi orkestra burung yang memamerkan aneka ragam suara fitrah penciptaan mereka. Demikian halnya dengan Anda yang lagi duduk mendengarkan dan menelaah hadits-haditsnya, Anda seperti di taman-taman surgawi yang diiringi orkestra hati yang kerap kali membenarkan, mengikrarkan, beristighfar, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, dan berserah penuh kepada-Nya, hanya karena terpukau kebenaran dan keindahan pesona hidup Rasulullah Saw dalam bingkai sunnah. Jika ada salah satu dari mereka bosan mendengarkannya, ketahuilah, dalam dirinya ada penyakit! Jangan mencari penyebabnya di luar dari diri Anda sendiri! Sunah Rasulullah Saw sempurna dan menyempurnakan. Yang bosan dari mereka yang jauh dari cahaya kesempurnaannya.

“dan jika Anda menempatkan alam semesta layaknya seperti istana megah tinggi menjulang yang dipenuhi dengan tenda-tenda yang memamerkan kemilau kekuasaan penguasa azali, keajaiban kreasi-kreasi-Nya yang melukiskan keagungan zat-Nya, keindahan aturan-aturan-Nya yang tertata rapi menabur pesona tidak terkira, dan ukiran-ukiran keajaiban ciptaan-ciptaan-Nya, Anda dengan jelas melihat cahaya Rasulullah Saw seperti penyimak dan penonton pertama yang melihat kemilau, keajaiban, dan keindahan ketuhanan tersebut untuk dirinya sendiri, kemudian berseru kepada umat manusia: “wahai manusia, mari mengunjungi pemandangan-pemandangan menakjubkan ini, dan bersegeralah memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan rohani Anda yang menginginkan cinta, kesucian, kebaikan, tafakkur, pencerahan, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak terbatas.” Dia melihat dan memperlihatkan manusia apa yang ia lihat,  menyimak dan membuat mereka ikut serta menyimak, takjub dan menjadikan mereka ikut takjub, mencintai penguasa azali dan menanamkan kecintaan terhadap-Nya di hati mereka, meminta cahaya dari-Nya yang menyinari jalan-jalan hidup mereka, meminta limpahan rahmat-Nya yang menaungi mereka.”([11])Yah, yang demikian itu karena Rasulullah Saw guru terbaik yang menyifati dan memamerkan keagungan dan keindahan manifestasi nama-nama Allah yang dikoleksi ayat-ayat Qur’an, teladan terbaik yang menyinari jalan-jalan kehidupan manusia dengan obor-obor keteladanan akhlaqnya yang mulia, dan sunnahnya nutrisi hati yang membuat hidup lebih hidup, bermakna, dan islami. Olehnya itu, wajar jika Rasulullah Saw meminta para sahabat memberikan kesaksian bahwa dia telah menyampaikan wahyu dan mengemban amanahnya dengan sebaik-baiknya, seperti khutbahnya di bukit Arafah:

«إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا، أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ، وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ، وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِى بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ، وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ، وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ، وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ. وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ». قَالُوا: نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ: «اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.([12])

Tentunya, setelah Anda meyakini kebenaran cahaya fisik dan maknawi Rasulullah Saw, yang kedua kalinya mungkin Anda ingin juga mengetahui hakikat pernyataan yang mengatakan: apakah benar alam semesta tidak tercipta seandainya bukan karena Rasulullah Saw?

Yah, secara lahiriah pernyataan ini menyalahi hakikat penciptaan yang menegaskan bahwa dasar penciptaan alam adalah ibadah. Allah menciptakan jin dan manusia untuk memperlihatkan kehambaan mereka terhadap-Nya dengan ibadah, seperti yang disuarakan Q.S. Ad-Dzâriyât [51]: 56

قَالَ تَعَالَى: ) وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(

Di antara jawaban-jawaban yang diberikan para ulama, saya melihat jawaban Mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah lebih memberikan pencerahan dalam menyikapi masalah seperti ini. Dia tidak langsung memberi label-label kesesatan, seperti: kafir, ahli bid’ah, zindik, orang sesat, bagi yang ditemukan mengucapkan kalimat di atas, tetapi dia berusaha menafsirkannya dengan penafsiran yang tidak berbenturan dengan dalil-dalil syariat, beliau berkata:

“Makna pernyataan di atas: “seandainya bukan karena baginda Rasulullah Saw, Allah tidak menciptakan alam semesta,” tidak menyalahi hakikat penciptaan yang dijelaskan Q.S. Ad-Dzâriyât [51]: 56. Yang demikian itu karena ibadah yang merupakan hikmah penciptaan tidak mungkin terwujud dan terlaksana tanpa hamba-hamba, sementara itu hamba yang paling abid baginda Rasulullah Saw. Dia simbol kesempurnaan ibadah dan lambang kesempurnaan tauhid. Di samping itu, sistematika ayat ini pembicaraannya terfokus kepada jin dan manusia dan bukan kepada semua makhluk yang penciptaan mereka untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam melangsungkan ibadah mereka.

Hematnya, pernyataan tersebut dapat dipadukan dengan dasar-dasar syariat Islam karena sekali lagi Rasulullah Saw pengejawantah terbaik hikmah penciptaan, simbol ketauhidan dan ibadah, dia manusia paling sempurna memaknai makna-makna kemanusiaan yang karenanya Allah menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi.

Olehnya itu, jika Anda mendengar seseorang menyebut ungkapan di atas, hendaknya Anda tidak langsung menuduhnya dengan kekafiran, kefasikan, kesesatan, dan ahli bid’ah. Karena selama ia muslim, maka keislamannya itu bukti kuat yang mewajibkan kita memaknai ungkapan tersebut dengan makna yang tidak menyalahi dasar-dasar syariat. Ini salah satu kaidah dasar yang wajib diamalkan terhadap ibarat-ibarat seperti ini sehingga baik sangka senantiasa hadir mendasari pergaulan kita antar sesama muslim, bukan dengan tuduhan-tuduhan kasar yang tidak berdasar. Hematnya, jauhkan prasangka buruk Anda dari saudara Anda sendiri jika menemukan pernyataan-pernyataan seperti ini, dan berusahalah menafsirkannya dengan penafsiran yang bisa diterima oleh syariat.”([13])

Sebelumnya, Ustadz Said Nursi lebih awal menekankan keurgensian cahaya maknawi Rasulullah Saw yang mengubah wajah dunia yang dirundung gelap ke wajah berseri-seri memancarkan manifestasi keagungan nama-nama Allah. Di sisi lain, ia pun menepis segala wacana-wacana kotor tentang hakikat manusia dan alam semesta yang menyimpang dari kebenaran, beliau berkata:

“Sesungguhnya dengan cahaya Nabi Saw kondisi alam berubah, hakikat manusia dan alam semesta menjadi terang-benderang. Dengan cahaya itu pula nampak benda-benda di alam semesta seperti  pos-pos yang membiaskan nama-nama Allah, atau seperti petugas-petugas yang mengemban misi khusus, atau barang-barang berharga yang mengukir makna dan nilai yang layak kekal bertahan. Seandainya cahaya itu tiada alam semesta senantiasa terbelenggu oleh kegelapan khayalan-khayalan, dipandang remeh, tidak punya makna dan faedah, bahkan sia-sia dan ditemukan begitu saja secara kebetulan. Dengan rahasia ini semua entitas kehidupan yang ada di langit dan di bumi menunjukkan ketergantungan dan kebutuhannya dengan cahaya maknawi Rasulullah Saw.”([14])

Olehnya itu, Ustadz Nursi menyimpulkan bahwa pemaknaan cahaya Muhammad dengan makna-makna tersebut telah menjelaskan dan menyibak tabir rahasia makna pernyataan: (لَوْلاَكَ لَوْلاَكَ لَمَا خَلَقْتُ الأَفْلاَكَ) ([15]) yang artinya: “seandainya bukan karena Anda, seandainya bukan karena Anda, Saya tidak menciptakan falak-falak.”([16])

Ini juga yang memberikan kekuatan maknawi terhadap keshahihan hadits Jabir bin Abdillah yang menempatkan Nur Muhammad sebagai ciptaan Allah yang pertama, seperti yang diriwayatkan Imam Abdurrazzaq:

رَوَي عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدِهِ عَنْ جَابِرِ بْن عَبْدِ اللهِ بِلَفْظٍ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، بِأَبِيْ أَنْتَ وَأُمِّيْ، أَخْبِرْنِي عَنْ أَوَّلِ شَئٍ خَلَقَهُ اللهُ قَبْلَ الأَشْيَاءِ . قَالَ: يَا جَابِرُ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ قَبْلَ الأَشْيَاءِ نُوْرَ نَبِيَّكَ مِنْ نُوْرِهِ، فَجَعَلَ ذَلِكَ النُّوْرَ يَدُوْرُ بِالْقُدْرَةِ حَيْثُ شَاءَ اللهُ، وَلَمْ يَكُنْ فِيْ ذَلِكَ الْوَقْتِ لَوْحُ وَلاَ قَلَمٌ وَلاَ جَنَّةٌ وَلاَ نَارٌ وَلاَ مَلَكٌ وَلاَ سَمَاءٌ وَلاَ أَرْضٌ وَلاَ شَمْسٌ وَلاَ قَمَرٌ وَلاَ جِنِّيٌ وَلاَ إِنْسِيٌ. ([17])

Dipertegas lagi oleh mimpi Ustadz Mahmud Musthafa Syahhata al-Hâmidi yang sebelumnya meragukan keshahihannya setelah sibuk mencari dalil-dalil agama terhadapnya. Di mimpinya itu ia melihat baginda Rasulullah Saw duduk dikelilingi sebagian sahabatnya dengan penuh sahaja dan wajah berseri-seri seperti bulan purnama. Ia pun langsung menghampiri Rasulullah Saw dan bertanya: “wahai baginda Rasulullah Saw, apakah Anda pernah mensabdakan hadits Sayyidina Jabir R.A?” Rasulullah Saw menjawab dengan senyum yang menebarkan ketenangan dan kebenaran, dia mengatakannya sembari mengacungkan tangan mulianya dengan begitu kuat dan teguh: “ya, saya mengatakannya di depan beberapa sahabatku.”

Saya pun tersadar dari mimpi dengan girang dan gembira. Di sebuah kesempatan saya menceritakan mimpi ini ke sahabat-sahabatku, dan seketika itu salah satu dari mereka melihat Rasulullah Saw bertanya kepadanya: “apakah ada keraguan dalam diri Anda tentang kebenaran cerita ini?” Ia menjawab: “yah, hadits Jabir ya Rasulullah Saw.” Rasulullah Saw menjawab: “yah, hadits itu aku sabdakan di depan sahabat-sahabatku, dan semuanya pun mengetahuinya.”([18])

Jika Anda bertanya: bukankah ini menyalahi hadits marfu’ dari Ubbâdah bin as-Shâmit R.A yang menyebutkan kalam sebagai ciptaan Allah yang pertama kali dan juga menyalahi riwayat as-Suddiyyi dengan sanad yang berdeda-beda bahwa air ciptaan-Nya yang pertama kali sebelum ciptaan-ciptaan lain?

Syekh al-Ajaluni menjawab:

“Periwayatan-periwayatan di atas dapat dipadukan dengan ta’wil yang membatasi awal penciptaan kalam setelah penciptaan Nur Muhammad, air, dan arsy. Di sana ada juga yang melihat awal mula penciptaan mereka dilihat dari jenis mereka masing-masing, artinya: yang pertama kali tercipta dari cahaya adalah cahaya Muhammad, begitu pula seterusnya.”([19])

Hematnya, hakikat Nur Muhammad ini dan keistimewaan makna-makna yang dikoleksinya pijakan kuat bagi para pecinta dan perindu Rasulullah Saw yang tidak mendahulukan dan melebihkan darinya satu pun dari makhluk-makhluk Allah, baik penciptaan dalam wujud maknawi, kemuliaan, dan derajat.

Di akhir tulisan ini, saya mengajak pemerhati hakikat-hakikat agama memanjatkan shalawat dan taslim kepada baginda Rasulullah Saw:

(اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ السَّابِقُ لِلْخَلَْقِ نُوْرُهُ، وَالرَّحْمَةُ لِلْعَالَمِيْنَ ظُهُوْرُهُ عَدَدَ مَنْ مَضَى مِنْ خَلقِكَ وَمَنْ بَقِيَ، وَمَنْ سَعِدَ وَمَنْ شَقِيَ، صَلاَةً تَسْتَغْرِقُ الْعَدَّ وَتُحِيْطُ بِالحَدِّ، صَلَاةً لَا غَايَةَ لَهاَ وَلَا مُنْتَهَى وَلَا انْقِضَاءَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِكَ بَاقِيَةً بِبَقَائِكَ لَا مُنْتَهَى لَهاَ دُوْنَ عِلْمِكَ، وَعلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَتِهِ وَأَصْهَارِهِ وَأَنْصَارِهِ، وَسلِّمْ تَسْلِيْمًا مِثْلَ ذَلِكَ، وأَجْرِ يَا مَوْلَانَا خَفِيَّ لُطُفِكَ فِيْ أُمُورِنَا كُلِّهَا وَأُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ). ([20])


([1])   Q.S. Al-maidah [5]: 15

([2])   Q.S. Al-Ahzab  [33l: 45-46

([3])   seperti yang telah ditegaskan salah satu dari tulisan kami yang dimuat di: https://www.dakwatuna.com/2012/12/25288/ingatkan-mereka-hari-hari-allah/

([4])   Hadits riwayat Jabir bin Samurah R.A di Mu’jam al-Kabir lil Imam at-Tabrâni, hadits. no: 1926, vol. 2, 224, hadits ini juga dikeluarkan di Shahih Imam Muslim, kitab Fadhâil, bab Syaebihi Saw, hadits. no: 6230, hlm. 1226

([5])   Hadits riwayat al-Irbash bin Sâriyah R.A di al-Jâmi’ li Syuabil Iman, Fashl fi Syarafi Ashlihi wa Thaharah Mawlidihi Saw, hadits. no: 1322, vol. 2, hlm. 510

([6])   Hadits riwayat Anas R.A di Musnad Imam Hanbal, hadits. no: 13830, vol. 21, hlm. 330

     Syekh Syuaeb al-Aranauth melihat sanad hadits ini sangat sesuai syarat sah hadits menurut muslim. Para perawinya pun termasuk perawi-perawi Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim, kecuali Ja’far bin Sualeman ad-Dhubaiyyi, ia salah satu perawi Shahih Imam Muslim. Hadits ini pun dikeluarkan di Sunan Imam at-Tirmidzi, kitab al-Manâqib, bab fi Fadhl an-Nabi Saw, hadits. no: 3618, dan dikeluarkan juga di Sunan Ibn Majah, Kita al-Janâiz, bab Dzikri Wafatihi wa Dafnihi Saw, hadits. no: 1631, hlm. 287

([7])   Lihat: al-Bayân al-Qawîm li Tashîh Ba’dhil Mafâhîm, Dar as-Sundus, Cairo, hlm. 9

([8])   Di sini penulis meletakkan perkataan Ustadz Said Nursi di dalam kedua tanda kutip demi menjaga keasliaan teks. Yang demikian itu untuk tidak mencampur aduk antara perkataan Ustadz Nursi dan penafsiran penulis sehingga pembaca dengan sendirinya bisa membedakan keduanya dan tidak jatuh dalam kebingungan.

([9])   Bagan penciptaan alam semesta yang diilustrasikan Ustadz Said Nursi seperti pohon penciptaan (شَجَرَةُ الْخِلْقَةِ) mendapatkan beberapa kali penegasan di karya monumentalnya “Rasail Nur”, seperti: al-Kalimât (kalimat kelima belas), hlm. 202, (kalimat  kedua puluh dua), hlm. 329, dan lihat juga: al-Maktubât (maktub keempat), hlm. 25, (maktub kesembilan belas), hlm. 245, dan lihat juga Isyârât al-I’jâz, hlm. 180, 189

([10])                 Jenis burung ini banyak ditemukan di musim semi, suka berkicau, cepat bergerak, tubuhnya mungil, dan menyukai taman-taman bunga. Lihat: Majma’ al-Lugah al-Arabiah, al-Mu’jam al-Wajiz, Cairo, cet. 1426 H/2005 M, hlm. 437

([11])                 Lihat: Ustadz Said Nursi, al-Matsnawi al-Arabi, hlm. 219

([12])                 Hadits riwayat Jabir bin Abdillah R.A di Shahih Imam Muslim, kitab al-Haj, bab hajjah an-Nabi Saw, hadits.no: 3009, hlm. 596

([13])                 Op.Cit, hlm. 7-8

([14])                 al-Kalimât, hlm. 75

([15])                 Syekh al-Ajalûni berkata: “meskipun as-Shagâni menjustifikasi hadits ini sebagai hadits palsu, tetapi saya melihat maknanya sah, hanya saja dia bukanlah hadits.” Lihat: Kasyful Khafa’, vol. 2, hlm. 164

([16])                 Op.Cit, hlm. 76

([17])                 Lihat: Kasyful khafa’, vol. 1, hlm. 265

([18])                 Lihat: Syekh Wâil Muhammad Ramadhân Abu Abiyah ar-RifâI, Alladzina Raaw Rasulullah Saw fil Manâm wa Kallamuhu (mimpi 615), hlm. 576-577

([19])                 Lihat: Op. Cit, vol. 1, hlm. 267

([20])                 Salawat ini diberitahu langsung oleh Nabi Saw kepada salah seorang hamba saleh dalam mimpinya. Lihat: Syekh Wâil Muhammad Ramadhân Abu Abiyah ar-RifâI, Op. Cit (mimpi. No: 463), hlm. 439

Advertisements

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur’an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Cahaya itu Benar Adanya

Organization