Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Teladan Karakter 2 Sahabat dan Filosofi Buah

Teladan Karakter 2 Sahabat dan Filosofi Buah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDi zaman yang serba modern dan penuh gemerlap ini, pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan serta ditanamkan dalam kepribadian seorang anak. Jika pada zaman kenabian dulu, untuk mengenal seorang anak maka cukuplah dengan melihat siapa bapak atau siapa ibunya. Karena pada zaman itu, buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya. Mengapa demikian? Karena pada zaman Rasulullah dahulu, pergaulan dengan teman dan lingkungan hampirlah sama antara pergaulan seorang bapak dengan pergaulan seorang anak. Karena kedekatan seorang bapak dan pengawasan seorang bapak sudah pasti lebih ketat dibandingkan dengan pengawasan seorang bapak di zaman sekarang ini. Maka jika diibaratkan seperti penggembala, maka seorang bapak di zaman sekarang ini tidak sedikit yang memberikan kebebasan terlalu besar pada anaknya sehingga terjadilah timpang dalam masalah pengawasan pengembangan karakter.

Memang tidak aneh jika demikian, karena kebanyakan orang tua ketika mengisahkan atau menceritakan kisah-kisah tauladan tidak mengambil ibrah dari kisah-kisah hidup para nabi, sahabat, tabiin dan para ilmuan-ilmuan islam lainnya. Akan tetapi malah membiarkan anaknya memahami dan mendalami bagaimana karakter cerita dongeng yang sebenarnya belum sepenuhnya bisa dikatakan mampu untuk mendidik dan membentuk kepribadian seorang anak menjadi lebih baik. Ditanamkannya karakter kancil anak nakal suka mencuri timun, namun dilain sisi kancil pintar dan cerdik. Akan tetapi, secara tidak langsung mengajarkan hal yang masih belum benar-benar baik, masak iya anak pintar harus nakan seperti si kancil? Tentu tidak bukan?

Kenapa harus menggunakan karakter yang ada sifat buruknya, padahal jika kita kembali ke sejarah kenabian, banyak sekali kita menemukan kisah-kisah inspiratif yang mampu menggambarkan bagaimana sifat manusia pada umumnya. Mulai dari kisah Ulul Azmi, Khulafa Ur-rasyidin dan Ashabul Kahfi. Jika tidak bisa mengisahkan teladan ketiga golongan itu, maka cukuplah menceritakan teladan 2 sahabat yang menggambarkan sifat manusia pada umumnya. 2 sahabat itu adalah Abu Bakar Assidiq dan Umar Bin Khatab.

Abu Bakar dan Buah Manggis

Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang dijamin akan masuk surga. Beliau menggambarkan karakter manusia yang lemah lembut namun tetap tegas. Karakter beliau memang sungguh menawan, jika diibaratkan dengan buah. Maka filosofi yang pas adalah beliau digambarkan layaknya buah manggis. Bagian luarnya mulus tanpa cacat dan dalamnyapun manis bak gula hingga menggugah selera. Bukankah karakter dan watak beliau lebih bagus jika diceritakan pada anak, sehingga besarnya ingin memiliki sifat beliau. Bukan malah ingin menjadi power ranger atau pahlawan fantasi lainnya.

Jika meneladani sifat beliau, tentulah hidup akan lebih bermakna. Tentu dengan memperhatikan penampilan dan juga memperhatikan hati. Dan lebih bahayanya lagi adalah kulit manggis sekarang sudah bisa dimanfaatkan menjadi bahan kosmetik, sehingga tentu meneladani karakter beliau sudah pasti akan memberikan manfaat yang banyak juga bagi diri dan lingkungan sekitar. Bukankah manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Umar Bin Khatab dan Buah Durian

Siapa yang tidak kenal karakter dari sahabat satu ini. Ya, beliau yang paling terkenal dengan karakter yang keras baik sebelum dan sesudah menjadi muslim. Akan tetapi, kekerasan dalam sikapnya telah menuntun beliau untuk menjadi salah satu sahabat Rasul yang dijanjikan tempat di surga. Sikap keras beliau ini pernah membuat ragu para sahabat yang lain ketika beliau di bai’at menjadi khalifah penerus Abu Bakar. Ketakutan sahabat adalah ketika keras dalam sikapnya menjadikan umat resah, akan tetapi malah sebaliknya. Karena dibalik sikap yang keras ada sifat penyayang yang mendalam dalam diri beliau.

Perumapamaan sikap dan karakter beliau ini adalah seperti buah durian, keras diluarnya dan harum serta manis lalu nikmat untuk dimakan isinya (bagi yang suka). Sungguh karakter seperti inilah yang harus dimiliki serta ditanamkan dalam anak. Tegas dan keras dalam hal dengan maksud yang baik, dan menjadi penyayang ketika seseorang membutuhkan. Mungkin sudah banyak dari kita yang tahu bagaimana sifat serta karakter beliau melalui kisah para Amirul Mukminin, maupun dari film-film yang menjadi gambaran bagaimana sifat dan karakter beliau.

Demikian sedikit ulasan singkat mengenai karakter 2 sahabat dan filosofi buah, semoga kita semua bisa meneladani sikap, sifat dan karakter beliau-beliau sehingga di akhirat nanti kita disatukan bersama orang-orang yang shalih. Amiin….  (dakwatuna.com/hdn)

Advertisements

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ilham Sadli
Pemuda yang terobsesi menjadi seorang penulis besar dan bisa memberikan manfaat melalui tulisannya. Berawal dari hobinya menulis puisi kemudian menjadikan menulis menjadi jalan mencapai impiannya. Sekarang lebih banyak menulis kata mutiara dan content writer di blog pribadi.

Lihat Juga

Menggagas Generasi Berkemajuan Melalui Pendekatan Karakter Anak