Home / Keluarga / Kesehatan / Tiga Langkah Tepat Berobat

Tiga Langkah Tepat Berobat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (img.velvet.by)
Ilustrasi. (img.velvet.by)

dakwatuna.comDi samping mencegah dan meredakan penyakit, tujuan lain orang meminum obat adalah guna memulihkan stamina, supaya bisa kembali perkasa seperti sedia kala. Agar tujuan tersebut tercapai, mendapatkan hasil optimal dari obat yang dikonsumsi, paling tidak ada tiga langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah tersebut adalah:

Pertama, Tepat Mendapat Obat

Di samping dengan pemeriksaan langsung, untuk menegakkan diagnosa biasanya dokter akan bertanya pada pasien tentang apa yang dirasakannya. Selain membeberkan penderitaan yang dialami, pada saat itu ada baiknya juga diutarakan apa yang telah dilakukan dalam rangka mengobati penyakitnya, misalnya dalam hal penggunaan obat-obatan tertentu.

Selain itu sebaiknya pula diceritakan masalah penyakit lain yang pernah diderita, riwayat alergi, pelaksanaan diet khusus, kondisi kehamilan atau pun menyusui.

Apa yang diungkapkan tersebut akan sangat membantu dokter dalam memilih obat yang tepat, dalam artian betul-betul pas, mampu “membunuh” biang penyebab sakit yang diderita, menjadikan tubuh kembali sekuat Gatotkaca. Tidak berbalik menjadi beban karena interaksi dengan unsur lain..

Kedua, Tepat Menggunakan Obat

Namun ketepatan mendapat obat saja rupanya belum bisa diandalkan untuk bisa membuat badan segera prima. Andai cara pemakaiannya tidak benar, atau bahkan menghentikan penggunaan di “tengah jalan”, bibit penyakit bukannya mati malah jadi kebal dan kemungkinan bakal bikin kerusakan yang lebih parah lagi. Misalnya dalam hal penggunaan obat antibiotika.

Banyak penelitian mengungkap kecenderungan itu. Salah satunya dapat dilihat dari hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga di Amerika Serikat oleh Office of the Inspector General pada tahun 1990, di mana ditunjukkan, dari 1.600.000.000 resep yang diberikan, 55% di antaranya tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Kekurangpahaman mengartikan aturan serta kelupaan akibat terbelit kesibukan merupakan dua faktor yang kerap dijadikan alasan.

Agar situasi tersebut bisa diatasi maka pasien perlu bertanya pada dokter atau apoteker sedetil mungkin tentang frekuensi serta cara menggunakan obat yang diberikan: apakah sebelum makan atau saat makan ? jika sebelum makan, berapa jam sebelum makan ? jam berapa seharusnya obat diminum ?

Sebagai contoh, dalam pemakaian obat anti hipertensi, di mana pasien biasanya dianjurkan untuk meminumnya antara jam 07.00 – 08.00. Jika pasien disiplin dengan aturan tersebut, maka kadar obat dalam tubuh sudah berada pada ‘jendela terapeutik’ (area kadar obat efektif) pada jam 08.00 – 09.00, sesuai waktu yang diinginkan. Sementara jika obatnya baru diminum pada jam 10.00, maka efek terapinya baru muncul pada jam 11.00. Untuk obat anti hipertensi situasi ini jelas berbahaya, mengingat serangan jantung sering terjadi pada pagi hari, antara jam 06.00-10.00.

Demikian halnya manakala akan diberi obat tetes atau salep mata, tetes telinga, tetes hidung, atau obat suppositoria (melalui anus) dan ovula (melalui vagina).

Untuk membantu mengingat frekuensi meminum obat, beberapa hal berikut dapat dilakukan:

  1. Bagi yang memiliki HP, nyalakan alarm sesuai jadwal minum obat.
  2. Buatlah daftar kecil berisi nama obat-obat yang anda minum dan cara minumnya. Simpanlah daftar tersebut dalam dompet dan perbaharuilah bila terdapat perubahan.
  3. Carilah hal-hal yang dapat membantu anda mengingat saat minum obat sesuai aturannya. Misalnya, segera setelah makan, saat istirahat di kantor, atau sebelum tidur
  4. Mintalah bantuan keluarga terdekat untuk mengingatkan anda untuk minum obat
  5. Untuk obat dengan frekuensi pemberian yang Iebih dari 2 kali sehari, aturlah jam minum dosis pertama agar pada dosis kedua dan ketiga dapat diminum pada jam yang masih “nyaman” dan tidak sedang istirahat atau tidur.
    Jangan sekali-kali mengubah dosis maupun aturan minum obat yang diberikan, kecuali dokter menyatakan demikian.
    Jika jam minum obat ini mengganggu atau sulit diikuti, mintalah pada dokter, obat yang frekuensi pemberiannya lebih jarang, semisal dari tiga kali sehari menjadi dua kali sehari.
  6. Jangan sampai kehabisan obat, terutama bila obat tersebut diresepkan oleh dokter untuk diminum secara jangka panjang. Segera kunjungi dokter sebelum obat habis. Perhitungkan akhir pekan dan hari-hari Iibur. Berikan tanda dalam agenda atau kalender anda sehingga tidak terlupakan

Obat-obatan tidak selalu bekerja serupa pada setiap orang. Beri tahu dokter bila anda tidak merasa lebih baik setelah 1-2 hari.

Ketiga, Tepat Menjaga Mutu Obat

Bentuk sediaan obat bermacam-macam: larutan, suspensi, serbuk, kapsul, tablet, tablet kerja panjang (retard, sustained release, ZOC), tablet bersalut, baik filmcoated, dragee (salut gula), maupun e.c.(enteric coated), aerosol, atau yang lainnya

Agar obat yang diperoleh betul-betul terjamin mutunya, di samping pasien dianjurkan melakukan penebusan resep di tempat yang betul-betul dapat dipercaya, tidak di sembarang tempat, meski harganya lebih murah –demi menghindari obat palsu atau obat kadaluwarsa– perhatikan pula cara penyimpanannya. Berikut cara penyimpanan obat yang benar:

  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Simpan dalam kemasan aslinya, dalam wadah tertutup rapat
  • Jangan mengganti kemasan botol ke botol lainnya.
  • Jangan pernah mencampur obat dalam bentuk sediaan tablet dan kapsul dalam satu wadah.
  • Simpan obat di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung.
  • Jangan menyimpan kapsul atau tablet di tempat panas atau lembab karena dapat menyebabkannya rusak.
  • Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin kecuali disebutkan pada etiket atau atas petunjuk dokter.
  • Hindarkan obat dalam bentuk cair menjadi beku.
  • Jangan tinggalkan obat anda di dalam mobil dalam jangka waktu lama. Perubahan suhu dapat merusak mutu obat.

Pustaka:

  • Azis, Sriana, dkk ; “Kembali Sehat dengan Obat: Mengenal Bahaya dan manfaat Obat” ; Pustaka Populer Obor, Jakarta, 2004.
  • ………………… ; “Obat bebas” ; http://id.wikipedia.org/wiki/Obat_bebas
  • ………………. ; “Penggunaan Obat Bebas Secara Aman” ; http://www.e-dukasi.net/pengpop/pp_full.php?ppid=197&fname=all.htm
  • ………………….; “Mengenal Penggolongan Obat (Bagian 1)” ; http://www.ptphapros.co.id/article.php?&m=Article&aid=17&lg=
  • …………… ; “Obat, Sahabat atau Musuh” ; http://www.pfizerpeduli.com/article_detail.aspx?id=28
  • Widianto,Mathilda B. DR ; “Sebelum atau Sesudah Makan ? Interaksi Obat dengan Makanan” ; http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/55_11_SebelumatauSesudahMakan.pdf/55_11_SebelumatauSesudahMakan.html
  • ………………… ; “Tips: Gunakan Obat Anda Dengan Tepat” ; InfoPOM Vol. 3 Edisi 3: Juli 2002.
  • Harimurti, Sabtanti, S.Si., Apt.; “Perkembangan Bentuk Sediaan Obat” ; www.mti.ugm.ac.id/~adji/courses/resources/Antik/TekFarmasi.doc –
  • Tjay, Tan Hoan, DRS & DRS. Kirana Rahardja ; “Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan Efek-Efek Sampingnya” ; PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2007.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Penulis buku "Ayat-Ayat Sehat" dan "Diet Islami"

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pendidikan Pemuda dan Penyakit Sekolahisme