Daya Tahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873. (wikipedia.org)
Ilustrasi – Panglima besar angkatan perang Belanda, Jenderal J.H.R. Kohler tewas ditembak oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873. (wikipedia.org)

dakwatuna.com Daya tahan merupakan sifat penentu keberhasilan sebuah perjuangan dakwah. Mereka yang tumbang (tasaquth), ialah orang-orang yang kehilangan kesabaran, sehingga tidak memiliki daya tahan. Tak ayal, dalam sejarah peperangan Islam; jumlah para mujahid selalu lebih sedikit dibandingkan dengan muslim yang tidak berjihad. Dan lagi-lagi Allah membuktikan kepada seluruh umat dunia, bahwa kuantitas bukanlah syarat kemenangan sebuah perjuangan dakwah.

Kita bisa mempelajari kehebatan sebuah daya tahan perjuangan dakwah, pada perjuangan kerajaan Aceh di nusantara. Sudah menjadi fakta umum, bahwa Nanggroe Aceh Daarussalam pada masa penjajahanan Belanda adalah wilayah kerajaan Islam yang sangat sulit ditaklukkan. Kekuatan senjata Belanda yang berusaha menaklukkan tanah Serambi Makkah itu tak mampu mengalahkan semangat jihad rakyat Aceh yang dikenal gigih dalam perjuangan. Mereka menyebut perang melawan penjajah sebagai Prang Sabi (Perang Sabil) melawan orang-orang kape (kafir) Belanda. Tercatat dalam sejarah, sekitar 17.000 tentara Belanda tewas dalam perang panjang yang berlangsung selama kurun waktu 1873-1914.

Aceh pada masa lalu adalah gerbang niaga Islam, jalur perdagangan laut yang terbentang luas dan bisa menghubungkan dengan negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa. Karena itu, misi penjajahan berkedok dagang melihat hal ini sebagai peluang besar untuk membangun sebuah hegemoni perdagangan dengan cara melumpuhkan gerbang niaga Islam tersebut. Apalagi, sejak terusan Suez dibuka pada tahun 1869, jalur perdagangan yang menghubungkan antar benua tersebut begitu terbuka.

Tanggal 26 Maret 1873 penjajah memaklumatkan perang terhadap wilayah Nanggroe Aceh Daarussalam yang ketika itu dipimpin Sultan Mahmud Syah. Sebulan setelah itu, 8 April 1873, sekitar 30.000 pasukan penjajah Belanda dengan persenjataan lengkap merapat di Aceh. Dalam pertempuran sengit itu pejuang Aceh mampu memukul mundur pasukan kompeni. Bahkan, pada 14 April 1873, perlawanan pejuang Aceh mampu menewaskan pimpinan pasukan kompeni, yaitu Mayor Jenderal J.H.R. Kohler.

Dalam sejarah kolonial, usaha menaklukkan Aceh dicatat sebagai perang terlama yang memakan biaya dan korban cukup banyak dari tentara Belanda. Melihat gigihnya perlawanan rakyat Aceh pada pertempuran itu, maka untuk membangun semangat pasukan kompeni dan mencari dukungan yang lebih luas, seruan perang itu kemudian disebarkan secara resmi oleh Gubernur Jenderal James Loudon yang berkedudukan di Buitenzorg (Bogor) pada 4 Juni 1873.

Empat tahun kemudian, pada 1877 Kerajaan Belanda dan Inggris menandatangani sebuah perjanjian yang disebut sebagai “Traktat Sumatra” yang antara lain menyatakan,”Belanda bebas memperluas kekuasannya ke seluruh wilayah Sumatra”. Dengan disepakatinya traktat tersebut maka pemerintahan Belanda tidak berkewajiban lagi untuk menghormati kedaulatan dan integritas kerajaan-kerajaan diAceh yang tercantum dalam “Traktat London 1824”.

Dalam sejarah perang Aceh, pimpinan Belanda telah menciptakan surat pendek tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah tertangkap dan menyerah. Di mana isi dari surat pendek itu berisikan, Raja (Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda. Walau demikian, wilayah Aceh tetap tidak bisa dikuasai Belanda seluruhnya. Dikarenakan semangat jihad yang terus dikobarkan melawan penjajahan Belanda. Hal ini terus berlanjut hingga Belanda enyah dari Nusantara, digantikan penjajah baru yaitu Jepang.

Begitulah hakikat daya tahan dalam pribadi pemimpin surgawi. Ketekunan dan kegigihan sudah bukan lagi pembelajaran, tapi menjadi sifat yang sudah melekat, bahkan sudah mendarah daging. Kesungguhan dan keimanan dalam beramal bukan lagi menjadi materi di kelas, tapi telah terkonversikan menjadi tema-tema pidato dan khutbah untuk mengobarkan api semangat jihad fii sabilillah melawan penjajahan. Karena tanpa daya tahan yang panjang, apalah arti cita sebuah kemenangan dakwah. Yang ada, cita itu menjadi utopis. Bahkan akan tenggelam, hanya menjadi sebuah kenangan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Jalan Terjal Mempertahankan Takwa