Home / Pemuda / Mimbar Kampus / Duhai Aktivis, Sudah Sesibuk Apa Dirimu?

Duhai Aktivis, Sudah Sesibuk Apa Dirimu?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.comSering kali engkau, aktivis, merasa dirinyalah orang yang paling sibuk. Merasa sudah banyak berkontribusi untuk umat. Merasa sudah tak punya waktu lagi bahkan untuk duduk-duduk bercanda dengan kawan sebaya. Atau merasa tak sempat untuk sekedar bertegur sapa dengan orang yang tinggal serumah kala akhirnya dia pulang.

sering kali mereka merasa sudah totalitas menghabiskan waktunya untuk kebaikan. Merasa habis sudah waktunya terkuras untuk kemaslahatan umat sehingga sering kali menjadi lupa ataupun lalai dengan urusannya sendiri. Lupa urusan pribadi yang seharusnya dibereskan terlebih dahulu sebelum merambah mengurusi area keumatan. Bahkan beberapa kali urusan yang menjadi tanggung jawab menjadi keteteran karena belum paham dengan ilmu prioritas.

Maka pandangilah dirimu depan kaca. Lihat pribadimu yang sudah begitu sombong berkata demikian. Sombong merasa dirinya paling sibuk. Sombong karena merasa telah beramal banyak. Sombong karena merasa segala kebaikan telah melekat dalam dirimu.

Bagaimana bisa engkau katakan dirimu sibuk sedangkan engkau masih sempat tidur lebih dari kebutuhan? Atau sempat mencuri-curi waktu untuk tidur di waktu bukan sepantasnya engkau tidur? Atau masih sempat beraktivitas yang hanya sia-sia semisal bergosip dengan sahabat? Atau masih sempat melamun nganggur padahal Al Quran belum sempat tersentuh di hari itu? Bagaimana bisa engkau katakan dirimu sibuk jika seluruh aktivitas kebaikan belum terhimpun dalam waktu-waktumu?

Bukankah pada awalnya engkau sendiri melakukan kesibukan-kesibukan itu karena ingin menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain? Bukankah semua kesibukan itu engkau sendiri yang memilihnya? Maka, tanyakan kembali ke dalam hati-hatimu, untuk apakah ini semua diniatkan? Untuk Allah, untuk popularitas, untuk tahta, untuk harta, atau untuk apa? Jika bukan karena Allah, pantas saja engkau merasa lelah. Jika bukan karena Allah, pantas saja engkau merasa hidup menjadi kacau karena banyaknya tuntutan amanah ataupun tanggung jawab yang begitu terasa berat untuk diemban. Jika bukan karena Allah, pantas saja ada riak-riak sombang terselip di hati-hatimu.

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (Al-Ashr: 1-3)

Maka janganlah jadi orang yang merugi dengan menyia-nyiakan waktu dengan kesibukan-kesibukan yang ternyata tidak bernilai penting. Jika memang engkau merasa dirimu sibuk dengan segala kesibukanmu, maka tengoklah kesibukan apa yang telah menyombongkan dirimu itu? Sudahkah sesuai dengan nilai kesibukan yang termaktub dalam surat Al Ashr? Atau hanya kesibukan-kesibukan yang semu semata. Semoga Allah senantiasa memberikan kesibukan kebaikan kepada engkau dan semoga engkau senantiasa diberi petunjuk untuk beramal karena Allah semata.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi aktif di Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian angkatan 2012. Anak ke-2 dari bersaudara yang ingin senantiasa menjadi pembelajar dan menebar manfaat di mana saja.

Lihat Juga

Dengan Citra Al-Amin Tidak Serta Merta Terjadi “Yadkhuluna Fi Dinillah Afwaja”