Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lima Prinsip Ta’aruf Pranikah Islami

Lima Prinsip Ta’aruf Pranikah Islami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ta’aruf masa begitu? Kurang lebih seperti itu ungkapan sebagian rekan yang menyayangkan proses ta’aruf rekannya yang dinilai kurang Islami. Bisa jadi karena rekan tersebut belum tahu ta’aruf yang Islami itu bagaimana, atau mungkin saja sudah tahu tetapi belum bisa menjalaninya dengan baik dan benar sehingga terpeleset ke aktivitas ta’aruf yang tak Islami.

Seiring digemakannya metode perkenalan Islami dalam pencarian jodoh, istilah ta’aruf semakin dikenal, meskipun lebih tepat bila dipakai istilah ta’aruf pranikah. Penggunaan istilah “ta’aruf” dikesankan pada aktivitas perkenalan yang Islami sebagai oposisi dari istilah “pacaran” yang dikesankan pada aktivitas perkenalan yang tidak Islami.

Berikut ini saya rangkumkan beberapa prinsip ta’aruf yang bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaan ta’aruf, yang erat kaitannya dengan tema khitbah/lamaran dan tema pernikahan yang merupakan fase lanjutan setelah ta’aruf, serta interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam keseharian.

  1. Ta’aruf bagi yang mampu menikah

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah! Karena, menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih dapat memelihara kemaluan. Dan barangsiapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai bagi syahwatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas berisi anjuran untuk menyegerakan menikah bila memang sudah mampu menikah, sehingga tidak ada proses ta’aruf yang perlu dijalani bagi yang belum mampu menikah. Bagi yang belum mampu menikah maka dianjurkan untuk banyak berpuasa, belum saatnya berta’aruf.

MAMPU menikah di sini sama artinya dengan BISA menikah. BISA menikah bukan sekedar sudah SIAP menikah, tapi juga sudah BOLEH menikah. Sudah siap menikah, tapi belum boleh menikah tentunya proses ta’aruf belum perlu dijalani. Ada wali bagi seorang perempuan yang perlu dimintakan izinnya untuk menikahkan si anak perempuan, demikian juga restu dari orang tua bagi seorang laki-laki yang perlu diikhtiarkan meskipun tidak ada wali bagi seorang laki-laki.

Pastikan izin dan restu menikah sudah didapat dari wali/orang tua sebelum berikhtiar ta’aruf, selain kesiapan menikah yang sudah anda yakini. Pastikan juga bahwa izin menikah ini adalah ‘izin menikah segera’ setelah bertemu calon pasangan yang cocok, bukan izin menikah setelah nanti lulus kuliah atau izin menikah setelah nanti pekerjaannya mapan yang jangka waktunya sekian tahun ke depan.

Dari pengalaman mendampingi beberapa proses ta’aruf, prosesnya cukup dijalani selama 2-3 bulan saja, itupun hampir semuanya belum pernah saling kenal sama sekali. Kalau si ‘target ta’aruf’ itu tetangga sendiri, rekan kerja, atau sahabat satu komunitas yang sudah lama dikenal tentunya perlu waktu ta’aruf yang lebih singkat lagi.

Dari perkiraan masa ta’aruf ditambah masa persiapan pernikahan, bisa ditarik mundur kapan sekiranya waktu yang anda pilih untuk mulai berikhtiar ta’aruf. Mungkin cukup di kisaran 6 bulanan saja, tidak lebih dari satu tahun. Kalau lebih dari satu tahun ke depan sebaiknya nanti-nanti saja anda mulai berikhtiar ta’aruf, isi hari-hari anda dengan memperbanyak ibadah khususnya berpuasa untuk lebih membentengi diri dari angan-angan yang belum saatnya.

Bila anda belum siap ta’aruf namun ingin ‘belajar ta’aruf’ agar bila tiba saatnya nanti sudah siap, anda bisa ‘berguru’ pada saudara atau rekan terdekat yang pernah menjalani proses ta’aruf sebelumnya. Bisa juga dengan mengambil referensi artikel-artikel seputar ta’aruf yang cukup banyak beredar dari beberapa pakar dan spesialis ta’aruf. Anda juga bisa ikut seminar pranikah dan kuliah pranikah yang diadakan lembaga Islam yang tepercaya untuk persiapan ta’aruf. Insya Allah hal-hal tersebut bisa menjadi pembelajaran anda seputar perta’arufan, tanpa harus menjadi pelaku ta’aruf terlebih dulu.

  1. Kriteria agama dan akhlak dalam pertimbangan ta’aruf

“…Wanita yang baik untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula …” (QS. An Nur : 26)

“Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, atau agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu.” (HR. Bukhari – Muslim)

“Bila seorang laki-laki yang kau ridhai agama dan akhlaknya meminang anak perempuanmu, nikahkanlah dia. … (HR. Tirmidzi)

Dalam pencarian sosok yang dijadikan target ta’aruf, kriteria agama menjadi syarat utama yang tidak bisa diganggu gugat. Kriteria lain boleh macam-macam sesuai selera, namun terkait kriteria agama haruslah yang baik agamanya. Baik agamanya bisa dilihat dari dia yang seorang Muslim/Muslimah, tidak meninggalkan ibadah wajibnya, memiliki akhlak yang baik, serta memiliki semangat untuk terus berubah menjadi baik.

Dengan kriteria agama yang baik, pastinya ikhtiar ta’aruf akan menjadi pilihan sosok tersebut dibanding aktivitas pacaran. Lalu, bagaimana kalau sudah ‘terlanjur’ pacaran? Lakukan hal ini : segera putuskan hubungan, sama-sama beristighfar, memohon ampun dan menyesali aktivitas pacaran yang telah dijalani, kemudian beralihlah ke proses ta’aruf yang Islami.

  1. Proses ta’aruf bersifat rahasia

“Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan (HR. Ath Thabrani)

Berbeda dengan pernikahan yang dianjurkan untuk disebarluaskan, pinangan atau lamaran pernikahan justru dianjurkan untuk dirahasiakan. Bila pinangan perlu dirahasiakan, tentu proses ta’aruf yang mendahului pinangan tersebut juga perlu dirahasiakan.

Jadi tidak perlu update status di Facebook bahwa anda sedang menjalani proses ta’aruf dengan seseorang yang anda tag namanya, atau pasang status engaged pasca lamaran, juga tidak perlu saling mention di Twitter untuk menunjukkan bahwa anda sedang ta’arufan dengan nama yang di-mention. Publikasikanlah nanti bila hari H pernikahan anda sudah dekat dalam bentuk undangan pernikahan.

  1. Adanya orang ketiga dalam ta’aruf

 “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena setan akan menjadi ketiganya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Tidak ada proses ta’aruf yang dijalani berduaan saja antara pihak yang berta’aruf, perlu pelibatan pihak ketiga untuk mendampingi proses sehingga menutup celah setan menjadi yang ketiganya. Pihak ketiga ini bukan berarti seorang saja, tapi bisa juga saudara atau beberapa orang terdekat yang anda percayai untuk mendampingi selama proses ta’aruf anda jalani. Dengan demikian tidak ada jalan berduaan, makan berduaan, boncengan motor berduaan, naik mobil berduaan, dan kegiatan berduaan lainnya dalam aktivitas ta’aruf. Harus ada orang ketiga untuk mencegah ‘khilaf’ yang bisa saja terjadi karena aktivitas berduaan tersebut.

Demikian juga dalam komunikasi jarak jauh lewat telepon, SMS, atau fasilitas chat menggunakan Facebook, Whatsapp, atau BBM. Meskipun tidak berdekatan secara fisik namun perlu diingat bahwa aktivitas zina ada macam-macam, tidak hanya zina fisik tetapi ada juga zina hati dalam bentuk angan-angan, khayalan, dan ungkapan mesra yang belum saatnya diberikan. Bila hati susah dijaga, libatkan juga orang ketiga dalam komunikasi jarak jauh ini untuk menghindari zina hati.

Salah satu cara yang bisa dicoba dan pernah juga saya lakukan adalah dengan membuat grup Whatsapp untuk memfasilitasi komunikasi pihak yang berta’aruf, dan meminta kedua pihak yang berta’aruf memblok nomer masing-masing sehingga tidak ada peluang komunikasi secara langsung. Tema obrolan juga perlu diarahkan seputar hal-hal yang memang perlu dikomunikasikan dalam proses ta’aruf. Bila yang ingin disampaikan cukup panjang, bisa memanfaatkan fasilitas email mediator tepercaya untuk menyampaikan. Apa saja yang ingin diketahui atau disampaikan selama proses ta’aruf tinggal diemail ke mediator, dan mediator akan meneruskannya ke email pihak yang lain.

Dengan adanya orang ketiga yang memerantarai komunikasi, maka kalimat dan ungkapan ‘romantisme pranikah’ yang belum saatnya diberikan bisa dihindari karena ada pihak yang mengawasi dan menyaring hal-hal yang dikomunikasikan selama berta’aruf.

  1. Aktivitas nazhar/melihat pihak yang berta’aruf

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu bahwasannya beliau akan melamar seorang wanita maka Nabi Muhammad pun berkata kepadanya “Lihatlah ia (wanita yang kau lamar tersebut) karena hal itu akan lebih menimbulkan kasih sayang dan kedekatan diantara kalian berdua.” (HR. Bukhari Muslim)

Kemajuan teknologi informasi berdampak pada semakin maraknya media sosial di dunia maya. Tidak sedikit orang iseng yang menggunakan profil palsu yang tidak menggambarkan profil diri sebenarnya. Ajakan ta’aruf pun bisa saja disampaikan sosok palsu tersebut dengan tujuan penipuan, atau sekadar iseng. Dengan adanya aktivitas nazhar ini, kondisi fisik masing-masing pihak yang berta’aruf dapat diketahui dengan jelas.

Sosok yang dikenal di dunia maya bisa dibuktikan keberadaannya dengan aktivitas nazhar ini, bukan sekedar sosok yang punya nama namun tanpa rupa. Berkaitan juga dengan landasan di nomer empat, libatkanlah orang ketiga dalam aktivitas nazhar ini untuk menghindari modus penipuan dan keisengan dari orang asing yang dikenal di dunia maya.

Demikianlah lima prinsip ta’aruf yang bisa dijadikan pedoman dalam aktivitas ta’aruf, semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Semoga keberkahan menyertai proses ta’aruf hingga pernikahan yang telah anda ikhtiarkan berjalan syar’i sesuai dengan landasan Al Quran dan Hadits tersebut.

Wallahua’lam bisshawwab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

maswahyu
Bernama lengkap Tri Wahyu Nugroho. Admin RumahTaaruf.com; Penulis buku 12 Weeks To Get Married; Spesialis Ta'aruf; Mediator Ta'aruf; Konselor Ta'aruf.

Lihat Juga

unj

Islamic Journalistic Training