Home / Pemuda / Cerpen / Memoar Tentang Ayah

Memoar Tentang Ayah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)
Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)

dakwatuna.com Rinai hujan pagi ini mengingatkanku padamu. Masih ingatkah kau tujuh belas tahun yang lalu kita bersama di atas sepeda tua itu? Mendung pagi itu memayungi keberangkatan kita. Tak berapa lama kita beranjak gerimispun turun. Kita memutuskan untuk berteduh di bawah pohon beringin. Kau berikan aku sepucuk sapu tangan berwarna cokelat untuk menyeka air hujan yang jatuh di wajahku. Tak berapa lama hujanpun reda. Kita melanjutkan perjalanan kembali. Namun tak berapa lama kita berjalan, kau mengajakku untuk berhenti sejenak. Kau keluarkan sebuah plastik kresek dari saku celanamu dan kau pakaikan di kepalaku

“Supaya kepalamu tidak kena hujan” begitu katamu

“Ah…tidak perlu” aku menolak.

Namun kau tetap memaksaku mengenakannya. Tahukah kau betapa risih dan malunya aku memakai topi plastik kresek pemberianmu itu? Walaupun pada akhirnya aku tahu plastik kresek itu berguna bagiku.

Masih ingatkah kau ketika kita menonton film di sebuah bioskop kecil di kampung kita? Ketika masuk ke dalam kulihat begitu gelap. Aku tak tahu kemana aku harus melangkah. Saat itu kau gandeng tanganku memasuki bioskop itu. Begitu takjubnya aku ketika melihat isi bioskop itu. Tak tergambarkan bagaimana bahagianya hatiku ketika itu bisa nonton di bioskop. Namun ada kebahagiaan yang tak kalah dari itu. Aku bahagia bisa pergi bersamamu. Paling tidak, aku bisa ambil bagian bercerita tentang pengalaman yang bisa membuat aku bangga di depan teman-temanku.

Kau memang tak begitu banyak bicara. Namun kau bisa menunjukkan cinta dari sisi yang berbeda. Tak perlu banyak cerita kau sudah membuktikan semuanya. Seperti malam itu, kau mengajakku jalan-jalan keliling kota dengan sepeda tua itu. Setelah puas keliling kota, kita mampir di sebuah toko sepatu. Kau memintaku untuk memilih sepatu mana yang kuinginkan. Aku sempat tak percaya. Bagaimana tidak, baru kemarin rasanya aku bercerita tentang sepatuku yang sudah mulai kesempitan. Dan sekarang kau sudah membelikannya untukku. Tapi saat itu aku masih terlau kecil untuk bisa mengucapkan terima kasih. Aku tak pandai mengucapkannya. Yang kulakukan saat itu adalah memilih sepatu sambil membayangkan besok pagi aku akan bercerita pada teman-temanku. Lagi-lagi cerita tentang orang-orang kebanggaan kami. Dan aku tentu saja akan bicara tentang malam ini dan sejuta kebanggaanku padamu.

Pagi itu, aku dan teman-temanku bercerita tentang orang-orang kebanggaan kami. Aku sengaja bercerita setelah mereka semua puas bercerita. Tapi keinginan besar untuk bercerita itu mendadak lenyap karena aku merasa kehilangan rasa percaya diriku ketika mendengar pengalaman mereka. Pengalaman keliling kota dengan sepeda motor. Sementara kita, hanya dengan sepeda ontel yang sudah tua. Dengan diam-diam aku menjauh. Ingin rasanya aku bisa seperti mereka. Jalan-jalan keliling kota dengan sepeda motor bersamamu. Tapi sudahlah. Kucoba untuk mengubur semua keinginan itu. Karena aku tau semua itu tak mungkin bisa terwujud. Semenjak itu bayang-bayang di kepalaku selalu saja dipenuhi keinginan untuk bersamamu dengan sepeda motor.

Keinginan itu semakin besar setelah aku melihat teman-temanku diantar dan dijemput ayah mereka dengan menggunakan sepeda motor. Tahukah kau, betapa inginnya aku seperti itu? Ingin rasanya aku menyampaikan rasa ini padamu. Tapi aku tak sanggup. Aku takut kau akan marah. Selain itu aku juga tahu itu semua akan sia-sia. Walaupun aku belum dewasa tapi aku tahu kesanggupanmu. Rasanya tak mungkin kau bisa memenuhi keinginanku. Aku tahu berapa gaji yang kau terima setiap minggu dari hasil pekerjaanmu. Tak seperti teman-temanku yang semuanya berasal dari keluarga yag kaya. Tapi rasa ego dan keinginanku yang kuat mengalahkan semua itu. Hingga pada suatu sore aku memberanikan diri untuk menyampaikan ini padamu.

“Ayah, kenapa kita tidak beli sepeda motor?” tanyaku dengan lugunya

“Untuk apa?” kau balik bertanya

“Teman-temanku diantar jemput dengan sepeda motor. Mereka jalan-jalan pakai sepeda motor. Sementara kita masih juga pake sepeda butut” jawabku

Saat itu kau tak lagi bicara. Heningpun menghinggapi kita. Tak ada lagi suara. Kau diam. Dan aku dapat menerjemahkan arti diammu itu. Persis seperti apa yang kubayangkan sebelumnya. Tak ada jawaban ya atau tidak. Aku beranjak pergi. Kuintip kau dari balik tirai. Tak ada ekspresi. Tak berapa lama kau melanjutkan membaca koran yang kau beli kemarin pagi.

Keinginanku untuk dapat diantar ke sekolah dengan sepeda motor semakin besar. Bahkan sekarang keinginan itu semakin menjadi dengan munculnya rasa malu dalam diriku setiap kali aku diantar dengan sepeda ontel tuamu. Hingga pada suatu pagi aku memilih untuk berjalan kaki atau naik angkot ke sekolah.

“Kau malu?” tanyamu ketika itu.

“Tidak, aku hanya ingin datang ke sekolah lebih awal dari biasanya” alasanku

“Kalau begitu ayah juga bisa mengantarmu ke sekolah lebih awal”

Aku terdiam dan tak mampu menjawab. Jelas bukan ini yang kuinginkan. Bagiku lebih baik aku jalan kaki ke sekolah daripada harus pergi ke sekolah dengan sepeda ontel tua itu.

“Kau malu kan?” tanyamu lagi seolah mengerti dengan apa yang kurasakan

“Kalau kau memang malu, ayah akan menurunkanmu tidak di depan gerbang sekolahmu” lanjutmu sambil mengeluarkan sepeda.

Ketika di boncengan, pikiranku tak menentu. Rasa malu itu semakin besar. Aku juga tak tahu kenapa. Padahal sebelumnya aku sangat senang sekali bisa kau antar ke sekolah. Bahkan aku tidak malu kalau kau mengajakku keliling kota dengan sepeda itu. Tapi kini… Aku berharap tidak ada teman yang melihatku ketika itu. Tapi harapanku sia-sia. Ketika kau menurunkanku beberapa meter dari gerbang sekolahku, teman cewek yang sering jadi idola di kelasku lewat sambil melambaikan tangannya dari atas sepeda motor. Walaupun masih kelas empat SD, tapi aku merasa sangat malu. Bahkan setelah itu bergantian teman-temanku yang lain yang lewat. Aku hanya tertunduk lesu memasuki ruang kelas. Tak seperti biasa aku hanya duduk di bangku dan tidak ikut ngobrol dengan teman-teman yang lain

“Sepeda ayahmu bagus juga yan” sapa seorang teman.

Aku tau ini bukan kalimat sindiran. Ini murni dari rasa ketertarikannya pada sepeda ayah. Tak berapa lama teman-teman yang lain mengerumuniku. Biasa, bercerita seputar pengalaman jalan-jalan mereka. Aku hanya bisa diam. Ketika tak ada lagi yang bicara, aku angkat suara.

“Apes hari ini…” kataku

“Kenapa?” tanya teman yang lain

“Mau berangkat ke sekolah, sepeda motor ayah bocor” aku berbohong untuk menutupi rasa maluku.

“Trus kamu tadi naik apa?”

“Naik sepeda butut” kataku kembali berbohong.

Untung ketika itu lonceng sekolah berbunyi. Sehingga kebohonganku tidak semakin besar.

Hari demi hari, aku semakin malas saja untuk pergi ke sekolah. Hingga pada suatu hari sebuah sepeda motor kulihat terparkir di depan rumah

“Punya siapa mak” tanyaku

“Punya paklek Ilyas. Paklek merantau, jadi sepeda motornya dititip di sini”

Aku begitu sangat gembiranya. Kubayangkan ketika itu juga kau memboncengku ke sekolah dengan sepeda motor itu. Saat itu akan kuceritakan pada teman-teman. Tak seperti biasa, kau hari ini pulang lebih cepat dari hari biasanya. Ternyata kau ingin mengajakku jalan-jalan keliling kota. Alangkah senangnya aku. Sekali lagi kau tak banyak bicara. Tapi kau mampu menunjukkan cinta dari sisi yang berbeda.

Tak tergambar betapa senangnya aku ketika itu. Pergi bersamamu dengan sepeda motor. Walaupun bukan punya kita tapi siapa yang tau. Saat itu aku berharap ada teman sekolahku yang melihatku. Namun harapanku sia-sia. Hingga sampai kami kembali ke rumah, tak ada seorang teman yang melihatku. Tapi tak mengapa, yang penting impianku dalam beberapa hari ini terwujud sudah.

Beberapa tahun setelah itu, kau mampu membeli sepeda motor sendiri. Aku tau sebenarnya bukan untukmu tapi untuk kesenangan anak-anakmu. Karena aku juga tau kau lebih suka menggunakan sepeda ontel tuamu ketika berangkat kerja. Tapi seiring bertambahnya usiaku dan di saat orang-orang mengatakan aku sudah remaja, aku tak seperti dulu lagi. Aku bukan lagi putra kecilmu yang dulu sering kau manja. Aku sudah berubah menjadi seorang remaja yang sedang mencari jati dirinya. Walau kadang pencarian jati diri itu sering mengorbankan perasaanmu. Sudah tidak ada lagi kebanggaan bisa pergi bersamamu. Aku sudah tak ingin lagi kau antar ke sekolah. Tidak ada lagi cerita tentang orang-orang kebanggaan. Yang jelas semuanya seolah berakhir.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan. Kau memintaku mengantarmu ke mesjid untuk melaksanakan shalat tarawih. Tapi aku menolak dengan mengatakan aku tidak enak badan.

“Aku tidak enak badan, kalau aku tabrakan gimana?” ucapku dengan nada sedikit keras

Kau marah mendengar itu. Tapi marahmu kau salurkan lewat diammu. Setelah itu kaupun pergi. Berjalan kaki ke mesjid sendiri. Setelah kepergianmu aku sangat merasa bersalah. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa. Ingin meminta maafpun aku tak tau bagaimana. Ketika sahur kau masih diam. Tak ada sepatah katapun yang kau ucapkan di depanku. Aku semakin tak tahu harus bagaimana.

Keesokan harinya aku dapat kejutan yang tak terduga-duga. Kau membelikanku sebuah baju koko berwarna biru muda. Setelah itu kau kembali seperti biasa. Tak terlihat lagi amarah dari raut wajahmu. Lagi, kau menunjukkan cinta dari sisi yang berbeda.

Beberapa tahun setelah itu, kau sudah semakin menua. Wajahmu sudah keriput. Tubuhmu semakin kurus karena penyakit diabetes yang kau derita. Saat itu aku sudah tidak menemanimu lagi. Aku sudah semakin sibuk dengan duniaku sendiri. Perasaan berdosa senantiasa menghantuiku. Aku seperti anak yang tak pernah berbakti padamu. Tak pernah merawatmu apalagi membuatmu bangga. Mungkin hanya sekali. Ya, sekali mungkin aku pernah membuatmu bangga. Saat aku diwisuda. Saat itu kau tak datang karena kondisimu yang tidak memungkinkan. Selesai wisuda aku menelponmu. Kurasakan ketika itu kau begitu senangnya. Seperti biasa, tak banyak yang kau ucapkan. Hanya satu kalimat “terima kasih”

Semakin lama penyakit yang kau derita semakin parah. Beberapa kali aku pulang karena kau masuk rumah sakit. Hingga di hari kesepuluh bulan Ramadhan 1431 H, kabar itu menghampiriku. Kau pergi untuk selamanya. Air mataku mengucur deras. Teringat kembali masa kecil itu. Bercerita tentang orang-orang kebanggaan. Dan kau adalah orang kebanggaan yang pertama. Bus yang membawaku pulang ke kampung terasa begitu sangat lambat. Pukul tiga sore aku sampai di rumah. Kulihat orang kebanggaanku itu terbujur kaku. Kubuka penutup wajahya. Wajahnya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Air mataku jatuh. Kau telah pergi sekarang. Tapi kau tetap menjadi orang kebanggaan. Kau bukan siapa-siapa seperti layaknya ayah teman-temanku ketika aku kecil. Tapi bagiku kau ayah yang luar biasa.

Untuk ayahanda yang telah tiada. Maafkan aku tak bersamamu di saat terakhirmu…

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ian Hachiro adalah nama pena dari Saftian Cahyadi Hsb. Putra asli Tanjung Balai. Hachiro adalah bahasa Jepang yang berarti anak kedelapan , yang memang menunjukkan beliau adalah anak ke delapan dari sebelas bersaudara. Sementara Ian adalah nama panggilan sehari-hari. Hobby menulis sudah ditekuninya dari mulai Sekolah Dasar. Sampai kini hobby itu tetap selalu ia lakukan. Mimpi yang tak pernah lekang dari hidupnya adalah ketika ia berdiri di depan ratusan orang dengan sebuah buku di tangannya, dan pada bagian atas buku tertulis nama penulis buku itu : Ian Hachiro.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Ayah Sang Kesatria Hati

Organization