Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjadi Guru yang Cerdas

Menjadi Guru yang Cerdas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)
Ilustrasi (wordpress.com/winterwing)

dakwatuna.comTugas utama guru adalah mencerdaskan anak didiknya yaitu kecerdasan yang paripurna, cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual. Cerdas secara intelektual adalah anak didik yang mampu memanfaatkan kemampuan intelektualnya dengan maksimal. Setiap tindakan dan putusan dalam setiap gerak hidup anak didik merupakan perwujudan dari kecermelangan pikirannya. Anak didik tipe ini akan berusaha menambah dan mendalami berbagai ilmu pengetahuan dan informasi teknologi yang beragam sehingga dia menjadi insan intelek, yaitu manusia yang mempunyai kemampuan akal dan wawasan keilmuan yang tinggi. Anak didik yang memilki kemampuan intelektual yang tinggi akan mudah memperoleh prestasi akademis yang tinggi sesuai dengan dambaannya.

Cerdas secara emosional adalah kemampuan anak didik dalam mengendalikan emosi dan mengatur ritme perasaannya. Anak didik yang cerdas secara emosi akan mudah menapaki perjuangannya meraih apa yang dicita-citakannya. Mereka tidak terlalu berbangga ketika sukses menghampiri dirinya dan tidak terlalu berduka ketika ujian hidup menyapa dirinya. Emosi dan perasaannya dapat dikendalikan sedemikian rupa karena kecerdasan emosional yang dimilikinya.

Cerdas secara spiritual adalah kemampuan anak didik dalam mengejawantakan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka rajin melaksanakan ibadah pada Tuhannya dan berusaha meninggalkan apa yang tidak dibenarkan agamanya. Kecerdasan ini menjadikan dirinya sebagai seorang pelajar yang religius.

Untuk mewujudkan tugas ini (membuat anak didik cerdas) , tidaklah mudah – butuh usaha maksimal dan kerja yang berkesinambungan serta diemban oleh guru yang cerdas pula. Mustahil guru akan mampu melaksanakan tugas dengan baik untuk mencerdaskan anak didik , sementara dirinya tidak cerdas. Tidaklah mungkin guru akan dapat menyelesaikan masalah anak didik sedangkan dirinya dililit oleh masalah yang tak bisa diselesaikannya karena keterbatasan kecerdasannya. Oleh karena itu, menjadi guru bukanlah tugas biasa, yang bisa dilaksanakan oleh siapa saja namun profesi guru adalah untuk orang yang luar biasa yang bertugas mendidik anak didiknya menjadi yang biasa menjadi luar biasa.

Ada empat kecerdasan yang harus dimiliki seorang guru dalam mengemban tugas mulia ini. Pertama, Kecerdasan Intelektual (IQ). Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah informasi menjadi fakta. Bagi orang dengan kecerdasan intelektual yang baik, tidak ada informasi yang sulit, semuannya dapat disimpan dan diolah sehingga pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan dapat diolah dan diinformasikan kembali (Sanggit Purnomo).

Kecerdasan ini erat kaitannya dengan akal pikiran seseorang yang akan menghasilkan ilmu pengetahuan atau yang lebih dikenal dengan ranah kognitif. Orang yang IQ nya tinggi menunjukkan kemampuan mereka yang tinggi dalam merespon, mengolah dan menyimpan setiap informasi dan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari luar dirinya. Sering orang mengidentikkan orang yang tinggi IQ nya adalah orang-orang yang pintar di bidangnya seperti seorang pelajar yang dapat menguasai pelajaran secara maksimal sehingga dapat menyelesaikan ujian dengan hasil yang baik atau seorang teknisi yang dapat menguasai ilmu pengetahuan dan mempraktekkannya dengan mudah di bidang pekerjaan yang digelutinya.

Kedua, Kecerdasan Emosional (EQ). Peter Salovey dan Jack Mayer, pencipta istilah “kecerdasan Emosional” menjelaskannya sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. (Steven J.Stein,Ph.D. dan Howard E.Book M.D. 2002)

Dari penjelasan di atas dapat dikemukan bahwa kecerdasan emosional sangat kuat kaitannya dengan perasaan seseorang. Perasaan adalah sesuatu yang sangat sensitif yang dimiliki oleh seseorang. Perasaan harus diatur dan dikelola dengan sedemikian rupa sehingga akan membantu dirinya dalam meraih kebaikan. Kemampuan mengatur perasaan dan emosi itulah yang disebut dengan kecerdasan emosional.

Orang yang EQ tinggi akan dapat mengendalikan diri, perasaan dan emosinya, mereka mampu berkomunikasi dengan orang lain secara baik dan mampu menjaga perasaan orang lain, tidak mudah tersinggung, murah tersenyum, suka memaafkan orang lain serta sifat mulia lainnya sebagai buah dari kecerdasan emosionalnya. Sebaliknya orang yang EQ nya rendah tentu akan memiliki sifat yang berbeda dengan sifat yang telah kita kemukakan di atas. Untuk itu kecerdasan emosional sangat dibutuhkan untuk membingkai kecerdasan intelektual agar tidak memunculkan kesan yang negatif seperti sifat sombong dan ria.

Ketiga, Kecerdasan Spritual (SQ). Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya, “Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spritual“, mengemukakan definisi Kecerdasan Spritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah“.

Kecerdasan spiritual berkaitan dengan keyakinan yang mendalam terhadap sesuatu “kekuatan” di luar diri yang berfungsi untuk menuntun dan mengarahkan akal dan emosi seseorang, dalam istilah Ary Ginanjar disebut dengan God Spot (fitrah). God Spot yang dikelola dengan baik dan cerdas akan melahirkan keyakinan yang teguh dan ibadah yang teratur. Semakin tinggi tingkat kecerdasan spiritual seseorang semakin tinggi ketaatan ibadahnya pada Allah Swt dan semakin jelas makna hidup yang mewarnai aktivitas kesehariannya. Tidak jarang kita lihat, ada orang yang secara akal pikiran dan emosi memiliki kecerdasan yang baik, berhasil meraih didambakan namun secara spiritual mereka lemah (tidak beriman) maka mereka akan mengalami kegagalan yaitu kegagalan meraih kebahagian karena kebahagiaan itu merupakan bagian dari nilai spiritual.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Praduga Tak Bersalah Guru Gugus Depan (GGD) Maluku