Home / Berita / Internasional / Asia / ‘Astuti’, Jadi Idola Jamaah Haji Indonesia

‘Astuti’, Jadi Idola Jamaah Haji Indonesia

Motor Astrea tahun 73 ini siap mengantar jamaah haji yang tersesat.  (viva.co.id)
Motor Astrea tahun 73 ini siap mengantar jamaah haji yang tersesat. (viva.co.id)

dakwatuna.com – Mina.  Ketika mendengan nama ‘Astuti’ kita langsung teringat dengan sosok seorang wanita yang menjadi judul sebuah lagu pernah dibawakan penyanyi Gito Rollies beberapa tahun silam.

Lagu tersebut memang menggambarkan sosok seorang wanita bernama Astuti yang cantik jelita. Lalu apa hubungannya dengan ‘Astuti’ yang saat ini populer di Mina, di tengah-tengah jamaah haji Indonesia khususnya.

Ternyata ‘Astuti’ yang populer di Mina ini adalah motor jadul merk honda keluaran tahun 73, maka jadilah sebutan Astuti melekat padanya.  Astuti, ‘Astrea Tujuh Tiga’.

Astuti yang terakhir ini benar-benar jadi idola jamaah haji terutama wanita-wanita yang sudah sepuh. Motor ‘imut’ yang tak bisa lari cepat ini menjadi kendaraan utama pengantar jamaah-jamaah tersesat ke maktab-maktab jamaah yang tersebar di 52 maktab.

Selain Astuti, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji sebetulnya juga punya tim khusus lain untuk melayani jamaah tersesat, yakni Tim Evakuasi Tanpa Alat (TETA) dan Tim Penyisir Terowongan.

PPIH Indonesia di Arab Saudi memiliki delapan unit sepeda motor ‘Astuti’. Meski keluaran produksi lama, namun sepeda motor dipilih agar bisa melaju cepat di sela-sela ribuan orang di kompleks tenda maktab tanpa membahayakan jamaah-jamaah lain. Sepeda motor ini tetap menggunakan bahan bakar bensin. Rata-rata satu petugas bisa mengantar 30-40 jamaah tersesat ke tenda masing-masing.

Memang model dan mesinnya sudah tak mutakhir lagi. Tapi mesin tetap dijaga oleh para montir Indonesia sehingga kondisinya tetap prima untuk angkutan jarak pendek, yakni mengantar jamaah haji yang tersesat ke tendanya di Mina. Menurut Kepala Satuan Tugas Mina yang juga Kadaker Madinah, Nasurllah Jasam, di Mina, ada delapan unit ‘Astuti’ yang meliuk-liuk di lapangan, dan enam di antaranya dibawa dari Madinah.

Lukmanul Hakim Yakub, tenaga musiman yang sudah lama bermukim di Mekah menuturkan sehari bisa mengantarkan 40 jamaah haji tersesat yang baru saja melempar jumrah di hari pertama, Sabtu 4 Oktober lalu. “Kami antar bergantian dengan petugas lain,” ujar Lukman.

Jamaah ini di antar ke berbagai maktab tempat tinggalnya. Tenda terjauh jamaah haji di Mina adalah maktab nomor 1, 2, 3 dan 5 yang berada di satu area. Sedangkan, tenda maktab terdekat adalah nomor 47, 48, 50, 51, 52, 54, 55 dan 57 yang berasal dari Embarkasi Jakarta, Bandung, Kalimantan dan Surabaya.

Selain Tim ‘Astuti’, jamaah haji yang tersesat diantar dengan angkutan van coaster berkapasitas 25-28 orang, yang disediakan untuk mengantar jamaah tersesat dalam jumlah yang lebih besar. Coaster diturunkan untuk mengantar jamaah yang maktabnya jauh.

Tim kedua adalah Tim TETA. Tim ini mengandalkan kursi roda dan kekuatan fisik. Belasan anggota tim menyisir jamaah sakit atau butuh pertolongan di Terowongan Muasim. Jalur dari Jamarat ke kawasan tenda maktab melalui dua terowongan berjarak masing-masing satu kilometer (km). Tiap terowongan terdapat delapan unit eskalator sehingga jamaah tidak terlalu kelelahan berjalan. Sedangkan, jarak dari tenda maktab ke lokasi Jamarat sekitar lima km.

Karena kursi roda dilarang masuk terowongan, Tim TETA menyisir terowongan untuk menggendong jamaah yang kelelahan dan tak sanggup berjalan kaki. Sedangkan tim ketiga adalah Tim Penyisir Terowongan dan area Jamarat. Tim ini berada di sekitar terowongan, lokasi Jamarat dan lantai bawah Jamarat untuk mencari jamaah haji yang tersesat.

Jemaah haji yang tersesat di Mina cukup banyak, sebab maktab jamaah haji Indonesia di Mina sangat luas. Selain itu, jamaah haji yang pulang dari melempar jumrah atau thawaf Ifadah harus berjalan sekitar lima km untuk kembali ke maktab. Sebagian jamaah yang tersesat juga mengalami disorientasi lokasi di sekitar Jamarat (lempar jumrah).

Tim Satgas mencatat ratusan orang tersesat. Di Hari pertama saja jumlahnya sekitar 225 orang, hari kedua jumlahnya tidak jauh berbeda. Namun ini belum termasuk jamaah dalam rombongan kloter yang tersesat, yang jumlahnya bisa lebih dari lima orang.

Jemaah haji Indonesia bermalam di Mina sejak Sabtu sampai Selasa untuk melontar jumrah hari terakhir bagi yang nafar awal dan yang ingin nafar tsani. (viva/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

jamah haji

Setiap Maktab Sediakan 21 Bus untuk Angkut Jamaah Menuju Arafah

Organization