Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Walau Sendiri, Saya Tetap Menyampaikan

Walau Sendiri, Saya Tetap Menyampaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ummunashrullah.blogspot.com)
Ilustrasi. (ummunashrullah.blogspot.com)

dakwatuna.comSeperti biasa, hari ini kami berkumpul melingkar di rumah suci Allah. Sudah lebih dari setahun kebersamaan kami. Rindu-rindu ini selalu menjelma ketika tak bertemu walau hanya sepekan. Pekan lalu saya tidak bisa hadir memperbarui semangat-semangat adik-adik shalihah pilihan Allah, yang dengan langkah ringan dan hati ikhlas, mereka mampu menyempurnakan lingkaran-lingkaran kami dan berbagi serta menambah semangat hidup bermanfaat saya.

Siang ini, mereka datang dengan tubuh yang lebih letih dari biasanya karena paginya mereka harus tes pengambilan nilai olahraga. Tapi sungguh semangat mereka sangat luar biasa, walau tidak semua hadir. Memang sesungguhnya Allah telah memberi banyak kesempatan manusia untuk menjemput ilmu dan hidayah, kita saja yang selalu kufur, enggan menggapainya, selalu berpaling pura-pura tidak tahu, menutup mata dan telinga seolah-olah buta dan tuli, lalu menyalahkan Allah atas ketidaksadaran kita akan hadirnya hidayah. Sebenarnya siapa yang salah? (you don’t say)

Makhraj dan tajwid yang tidak luput kami diskusikan setelah tilawah bergantian, berkat Allah, mereka mulai banyak berubah, bacaan tilawahnya, masya Allah, semakin oke saja. Sebelum dimulai, seperti biasa, kami berbincang-bincang ringan, menanyakan kabar, aktivitas sekolah dan keluarga sambil makan beberapa makanan ringan. Tiba-tiba ada adik yang berkata, namanya Dhila, “Kak, maaf ya, yang dateng cuma sedikit.” Saya menghela nafas ringan sambil tersenyum. “Nggak papa Dhila, dulu waktu kakak hadir kajian di masjid kampus, kondisinya sedang hujan deras, walau begitu ustadz pengisi kajian tetap datang tepat waktu, tetapi kami yang hadir di depannya dapat dihitung dengan jari. Kakak lihat panitia memohon maaf atas kehadiran kami yang sedikit, lalu ustadz itu berkata kepada kami sambil tersenyum ikhlas, senyumnya sungguh menyejukkan, kurang lebih seperti ini, ‘Saya tidak mempedulikan siapa dan berapa yang hadir di sini, walaupun hanya satu orang, tetap saya akan menyampaikan, walau tak ada satu orang pun, Allah tetap akan memberi balasan sesuai dengan niat kehadiran saya. Sebenarnya saya datang ke sini bukan untuk memberi kalian ilmu, sungguh bukan, tetapi saya datang ke sini memberi ilmu untuk diri saya sendiri, karena ketika saya menyampaikan ilmu Allah, maka ilmu itu bukan untuk kalian, karena ilmu yang sampai kepada kalian sungguh bukan dari saya, bukan karena saya, tetapi dari Allah dan karena Allah.’” Dia menundukkan kepala, airmatanya menetes, sungguh hati yang menangis karena Allah. Saya mengelus pundaknya, tersenyum, menyodorkan tisu, “Dhila nggak usah sedih.”

Kata-kata ustadz itu alhamdulillah saya ingat hingga saat ini, sungguh bijaksana, hebat, menjadi motivasi saya untuk berusaha hadir dalam lingkaran cinta kami, untuk memberi ilmu pada pikiran, memperbarui hati, bukan semata-mata untuk mereka, tapi untuk diri dan hati yang cupu ini.

Yaa Allah, kumpulkan, temukan dan satukan kami dalam surga-Mu, karena Engkau tahu bahwa hati-hati ini berkumpul mencurahkan cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat dan bersatu di jalan-Mu. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Paramita Nirmalawati
Mahasiswi beasiswa unggulan tingkat 2 Universitas Esa Unggul, JakBar. Assistant Laboratorium. HMJ. LDK.

Lihat Juga

Bersama Senja: Lingkaran Cinta