Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengenal Rasul untuk Refleksi Diri

Mengenal Rasul untuk Refleksi Diri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

ar-rasuldakwatuna.com Mengenal rasul adalah mengenal sifat-sifat mulia. Mengenal usaha Nabi Adam ‘alaihi salam untuk mendapat ampunan Allah, yang merefleksikan bahwa roda kehidupan pun juga dijalani oleh Nabi Adam. Dan berusaha agar roda itu berada di posisi atas adalah pilihan untuk peroleh kemuliaan. Itu pulalah hal yang harus kita lakukan. Berusaha dan senantiasa berusaha selalu dalam menjalani kehidupan.

Mengenal rasul adalah mengenal sifat-sifat mulia. Mengenal kesalehan Nabi Idris ‘alaihi salam yang mengantarkannya untuk berhak mengunjungi surga dan neraka. Menjelaskan betapa usaha adalah hal mutlak yang harus dilakukan agar Allah mengabulkan apa yang menjadi keinginan.

Mengenal rasul adalah mengenal sifat-sifat mulia. Mengenal keberanian Nabi Daud ‘alaihi salam yang maju melawan Raja Jalut tanpa keinginan untuk peroleh imbalan dari Raja Talut. Meneladani bahwa harta yang ia miliki tak membuatnya lupa diri terhadap tujuan akhir hidup ini. Maka ia perbanyak ibadah dengan puasa selang-seling yang kini kita kenal dengan puasa daud.

Mengenal rasul adalah mengenal sifat-sifat mulia. Mengenal Nabi Sulaiman ‘alaihi salam yang dengan bijak memilih ilmu ketika diberi pilihan antara ilmu, harta, dan tahta. Dan kemudian, kecerdasannya membuat beliau dapat memperoleh dua hal lainnya. Nabi Sulaiman yang mampu bersahabat baik dengan kalangan hewan mengajarkan bahwa manusia sudah semestinya ramah pada segala makhluk hidup yang Allah ciptakan di bumi ini. Sesuatu yang belum tentu sudah bisa kita capai saat ini.

Mengenal rasul adalah menyadari bahwa betapa jauhnya diri kita dibanding diri mereka. Menyadari bahwa kekonsistenan kita amat jauh dari kesabaran Nabi Nuh ‘alaihi salam yang telah begitu lama berdakwah namun hanya mendapatkan pengikut yang amat sedikit jumlahnya. Bahkan anak dan istrinya tidak tidak termasuk orang-orang yang taat pada ajarannya. Sampai ketika ia meminta orang-orang yang tidak taat agar dibinasakan, ia lakukan bukan karena kekesalan atau alasan pribadi semata, melainkan karena ketakutannya terhadap generasi mendatang yang nanti turut tidak taat karena pengaruh generasi sebelumnya. Menyadari bahwa keluhan sangat mudah keluar dari bibir kita, padahal ujian yang datang jauh sekali dari ujian saat dakwah Nabi Nuh tidak didengarkan, peringatannya tidak diindahkan, dan bahtera buatannya justru dilecehkan.

Mengenal rasul adalah menyadari bahwa betapa jauhnya diri kita dibanding diri mereka. Menyadari bahwa akal pemberian Allah ini masih jauh dari senantiasa memikirkan ciptaan-Nya yang akan berbuah menjadi ketaatan yang kian bertambah. Sebagaimana kekritisan berpikir Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dalam pencarian Tuhannya. Bagaimana kita harus belajar menggali segala sesuatu, sebagimana Allah berulang kali mengatakan ‘afalaa ta’qiluun’ dan ‘afalaa tatafakkaruun’ dalam Al Quran. Menyadari bahwa keteguhan hati ini belum seteguh hati Nabi Ibrahim dalam mendakwahi ayahnya, orang terdekat yang justru pencipta patung-patung sesembahan masyarakat kala itu. Menyadari bahwa keteguhan tauhid ini amat jauh dari keteguhan tauhid Nabi Ibrahim untuk tetap mengimani Allah walau berbagai pinta Allah yang tak masuk akal ditujukan padanya. Allah meminta agar ia meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail kecil di tanah Arab, ia lakukan. Kecintaannya pada Allah jauh melampaui kecintaan pada anak dan istrinya. Pun ketika Allah memintanya untuk menyembelih Nabi Ismail. Seberat apapun perasaannya, tidak menghalangi ketaatannya pada Allah untuk melakukannya.

Mengenal rasul adalah menyadari bahwa betapa jauhnya diri kita dibanding diri mereka. Menyadari bahwa jauh sekali kesabaran diri ini dibanding kesabaran Nabi Ayyub ‘alaihi salam ketika ujian datang bertubi-tubi menghampirinya. Bukan hanya anaknya yang meninggal, kekayaannya menjadi bangkrut, penyakit kulit yang menimpanya, serta istri yang kian hari menjadi tidak sabar atas penderitaannya. Namun Nabi Ayyub tetap menghadapinya dengan kesabaran.

Mengenal rasul sejatinya adalah mengenal idola yang sudah dikenalkan Allah sejak jauh-jauh hari. Dipersiapkan-Nya agar dapat kita teladani. Sifat yang mulia, keshalihan yang sempurna, serta penghambaan yang luar biasa dipercontohkan oleh para rasul untuk kita ikuti. Tentu masih jauh diri ini dari sifat-sifat mulia mereka. Namun selalu menafakuri dan menghayati sejarah cerita mereka akan dapat membuka hati untuk memacu diri dalam meneladani. Jika terasa masih jauh dari meneladani para rasul, bisa jadi itu karena kita pun belum mengenal mereka. Maka kenalilah. Dengan mengenalnya, kita akan mempelajari sifat-sifatnya yang dapat senantiasa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bish shawwab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Fitri Hasanah Amhar
Tergabung di Forum Lingkar Pena wilayah Yogyakarta. Staf Media Informasi Islam di Keluarga Muslim Fakultas di kampusnya Bercita-cita menjadi penulis yang dapat menginspirasi sekitarnya dan tidak hanya berkarya untuk kepentingan dunia.

Lihat Juga

Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)

Aroma Badan Nabi Yusuf AS, Bounding Antara Ayah dan Anak

Organization