Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Fase Berbeda Perjalanan Tarbiyah

Fase Berbeda Perjalanan Tarbiyah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Ketika sahabat yang menemani perjuangan ini nyaris tak lagi bertambah, malah satu per satu berguguran pergi. Memandangi hengkangnya kawan-kawan terbaik, meninggalkan jalan ini yang telah sekian lama bersama-sama dilalui dalam suka dan duka.

Dari kesendirian, menjadi lautan manusia, berbondong-bondong, menyisakan kenangan indah.

Keterbatasan tak menyurutkan tekad. Kekurangan tak membatasi semangat. Kecilnya raga tak melemahkan jiwa. Dari keadaan tak punya apa-apa, terasing, tak dikenal, berada dalam kondisi serba keterbatasan, tapi terus tumbuh dan tumbuh, menakjubkan, mewujudkan satu per satu mimpi yang dicitakan.

Perjuangan ini, pasang surutnya menghempaskan sebagian kita, terjatuh dan tenggelam.

Dengan kebesaran raga, berbagai sarana yang dimiliki, bahkan kekuasaan, tetapi makin sarat dengan beban, lelah, derap langkahnya kian senyap, semakin sepi.

Berharap membangkitkan kembali azzam, mendapatkan kembali izzah, bangkit, tetapi raga ini tak lagi berdaya. Tak mampu lagi mengobarkan semangat yang dulu pernah menyala-nyala. Terjebak dalam berbagai problematikanya, terbelenggu dalam pusarannya. Apa yang pernah dicapai, hanya untuk mendapatkannya kembali, yang dulu mampu diraih, tapi situasinya memang telah berbeda, begitu terasa.

Mengenang kebesaran, tapi tak berdaya. Berharap masa itu terulang kembali, masa-masa indah perjuangan ini, kebahagiaan bersamanya. Meski waktu telah berlalu, tak mungkin kembali, tapi bukankah waktu masih terus berlanjut?

Bersama asa yang tersisa, menjaga agar cita ini tak lepas, atau ia tak luruh, dan mungkin juga harus karam bersama cita ini, riuh kejayaan yang berangsur-angsur sepi. Akankah menjadi ajal bagi sebuah gerakan dakwah?

***

Seperti fase-fase yang dialami sebuah pohon. Bukan untuk terus tumbuh, tapi ada saatnya ia harus mempersiapkan buahnya. Saat harus merelakan kesuburannya memudar, berguguran daunnya, menghabiskan cadangan makanan yang disimpannya, agar pada saatnya, sebaik-baik buah yang dihasilkan.

Bukan merindukan masa lalu yang indah, tetapi menikmati tantangan ini, untuk merangkai masa depan, ketika fase yang dijalani pasti berbeda dari yang telah dialami sebelumnya. Agar penat dan letih ini menjadi indah pada suatu saat nanti.

Bukan hanya tumbuh dan tumbuh, bukan menikmati dan memperindah, ada saat-saat harus belepotan, berkubang tugas-tugas berat.

Beban ini, kesulitan ini, kesemuanya adalah ujian terbaik untuk kita, yang sesuai dengan tingkatan kita. Bukan saatnya menikmati masa-masa indah ditimang dan disuapi, saat-saat menyenangkan bermain-main dan dimanja, tetapi saat-saat harus memikul beban dan menanggung tanggung jawab yang berat.

Sebuah ujian, terasa berat ketika dihadapi, pasti. Setelah ia terlampaui ia akan terasa manis. Dan ujian selanjutnya yang dihadapi akan lebih sulit. Kemungkinan itu tetap menanti, gagal atau berhasil melampauinya. Menjadi sejarah atau tenggelam, hanya sedikit yang sampai pada puncak tertinggi. Jalinan cerita antara keteguhan seorang hamba dan pertolongan Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Kusmanto, SH, MH., ketua DPW PKS Papua. (Sunardi)

Kusmanto, Mutiara dari Timur Indonesia yang Memaknai Amanah dan Jabatan sebagai Jalan untuk Pengabdian

Organization