Home / Pemuda / Cerpen / Segores Warna yang Terukir di Masa Remaja

Segores Warna yang Terukir di Masa Remaja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Masa remaja adalah masa terindah bagi siapapun yang pernah melewati masa-masa ini. Masa yang penuh dengan rasa ingin tahu, masa yang senantiasa dilalui dengan ceria dan semangat yang bergelora. Aku pun merasakan masa remaja layaknya anak-anak lain. Hanya saja yang membedakan aku harus melaluinya dengan penuh intrik yang membuat aku lebih menghargai masa remajaku. Hidup dalam kesederhanaan dan bahkan penuh kekurangan tidak menjadikan aku berhenti untuk bermimpi. Walaupun tidak sedikit orang yang meragukan keteguhanku ini. Dengan bermodalkan tekad bagaimana mungkin dapat mewujudkan mimpi yang terkesan terlalu tinggi. Namun sesungguhnya mereka tengah meragukan kekuasaan-Nya.

***

Bulan April 2011, ketika itu aku tengah menunggu pengumuman Ujian Nasional (UN) dan SNMPTN IPB. Aku mengisi waktu luang dengan mengajar siswa kelas X di SMA tempat aku sekolah menggantikan guruku yang sedang sibuk mengurusi tesis dan sidangnya. Sebenarnya aku kurang percaya diri karena aku bukanlah siswa teladan di sekolahan akan tetapi seorang guru percaya begitu saja dengan diriku.

Aku mengerti ternyata bukan kemampuanku yang beliau lihat, tetapi semangat dan kerja keras yang membuat beliau percaya bahwa aku bisa. “Bapak kenapa saya yang menggantikan bapak mengajar? Saya kurang pandai dalam pelajaran matematika pak.” Kalimat itulah yang aku lontarkan ketika beliau meminta aku untuk mengajar. “Karena saya melihat semangatmu nak” jawab beliau singkat dan tegas. Aku tidak bisa mengelak lagi, akhirnya aku menjalaninya dengan senang dan alhamdulillah luar biasa pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan.

***

Siang itu sekitar pukul 12.30 wib, seperti biasa aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah untuk mengajar. Suatu kebiasaan yang tidak pernah terlewatkan yaitu pamitan dan meminta doa restu ibu ketika hendak berangkat. Namun pada saat itu ada yang berbeda, ada seseorang yang tengah ngobrol serius dengan ibu. Karena takut telat aku langsung menghampiri ibu untuk pamitan. “Ibu ceuceu* berangkat ya, mohon doanya” kataku sambil mencium tangan ibu. “Iya hati-hati ya didoakan sama ibu”. Seperti biasa ibu mendoakan aku, tidak lupa aku juga pamit pada saudara aku yang tengah bersama ibu. Sebenarnya aku penasaran apa yang mereka bicaran tapi sepertinya aku akan terlambat jika ikut ngobrol dengan mereka. Aku pun memutuskan untuk berangkat mengajar.

***

Setelah selesai mengajar aku kembali ke rumah. Berita berat kuterima ketika aku tepat selesai menaruh sepatuku pada rak sepatu. Pada saat itu seakan detak jantungku berhenti sesaat menahan rasa kaget. Berita berat tersebut adalah sebuah perjodohan antara aku dengan orang yang telah dipilihkan saudaraku. Tanpa meminta pertimbangan dariku ibu mengiyakan perjodohan ini. Pada saat itu aku harus memutuskan untuk memilih tetap berpegang teguh dengan pendirian dan terus melanjutkan perjuangan menggapai mimpiku, ataukah berhenti sampai di sini dan memilih untuk hidup bersama orang asing yang telah dipilihkan saudaraku.

Inilah yang mereka bicarakan pada siang itu yang awalnya membuat aku penasaran. Sungguh aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Mengapa aku yang tengah asyik menikmati kehidupan remajaku dengan menuntut ilmu yang harus menerima ini semua. ‘Kenapa mesti aku?’ Itulah pertanyaan sedih dalam hatiku, meskipun aku yakin bahwa Allah tak akan memberikan ujian di luar kesanggupan hambanya.

Jika aku memilih melanjutkan mimpi maka ketidakpastian pasti aku dapatkan, karena aku belum lulus UN dan belum diterima SNMPTN. Sedangkan jika memilih perjodohan ini hidupku sudah dijamin senang. Begitulah yang aku ingat pendapat saudara yang bersikeras menjodohkan aku dengan orang yang sama sekali tidak pernah aku kenal.

Apa sebenarnya yang membuat suadara aku berani masuk dan mencampuri urusan pribadiku, apakah karena aku miskin? Apakah takut ketika aku keterima di PTN dan harus kuliah kemudian meminta uang untuk biaya kepadanya? Apakah itu yang membuat beliau mantap mengajukan perjodohan ini. Seakan-akan dialah pengendali hidup aku.

Pertanyaanku di atas ternyata bukan hanya pertanyaan yang aku reka-reka untuk menebak saja. Akan tetapi benar adanya setelah aku mendengar langsung dari mulut saudara yang sangat perhatian itu. “Heh, kamu! Ayah sebagai buruh aja kok sok-sokan sih mau kuliah di IPB? Punya jaminan apa? Emangnya kuliah gak mahal apa? Daripada buang-buang uang lebih baik menikah dengan yang jelas-jelas sudah mapan dan ada di depan mata. Mau apalagi tinggal diam di rumah hidup enak selesai kan. Emangnya kamu gak kasian sama ayah kamu yang setiap hari banting tulang di sawah saya. Lagian belum pasti juga kan keterima atau tidaknya di IPB?”

Kalimat-kalimat di atas masih jelas tersimpan dalam rekaman ingatan aku. Mungkin betul aku miskin harta, tapi aku tidak miskin mimpi dan iman. Yang ingin aku capai bukan hanya sekedar hidup enak tapi hidup penuh Ridha-Nya. Aku sudah terbiasa hidup miskin dan penuh kekurangan maka akan tidak menjadi masalah jika tetap hidup seperti ini, asalkan prinsip hidupku tetap aku pegang.

Mungkin benar juga ayah pernah merasakan lelah, letih dan jenuh. Tapi apakah ayah pernah meminta aku untuk menikah dengan orang kaya? Tidak pernah, mungkin ayah pernah melarangku untuk melanjutkan sekolah baik ke tingkat SMP, SMA dan PTN tapi ayah belum pernah memintaku untuk menikahi orang kaya agar kehidupan kami berubah. Namun yang menjadi pertanyaan mengapa saudara yang jauh tidak berhak akan hal ini turut campur dan sibuk mengatur hidup aku.

Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kemapuan hamba-Nya, itulah yang aku yakini bahwa Allah memilihku karena Allah yakin aku bisa dan kuat. Bersyukurlah ketika kita diuji karena sesungguhnya ujian itu bukti kasih sayang ALLAH pada hamba-Nya.

Secara psikologis aku mengalami “shock” (kaget) yang mengakibatkan sakit selama satu minggu. Jujur perjodohan ini adalah hal yang terberat yang harus aku hadapi. Terlebih dengan sikap ibu yang sempat setuju dengan perjodohan ini. Aku tidak semata-mata menyalahkan ibu, mungkin sesuatu yang wajar karena aku tahu pada saat itu keluarga kami tengah diuji dengan keterbatasan materi.

Aku hanya bisa membujuk ibu dan meyakinkan ibu, bahwa bukan dengan seperti ini, bukan dengan menikahi orang kaya aku ingin membahagiakan ibu. Bukan juga dengan menumpang hidup pada orang yang sudah mapan. Tapi aku ingin membahagiakan ibu dan ayah setiap hari dengan prestasi dan cerita-cerita indah yang aku lalui. Aku ingin membahagian ibu dan ayah dengan kerja kerasku dan dengan hidupku yang sesungguhnya. Bukan dengan bayang-bayang hidupku.

Dalam kondisi sakit aku berpikir keras bagaimana caranya agar ibu luluh. Keputusan yang mana yang harus aku pilih ya Rabb. Begitulah isi doaku di sepertiga malam-NYA, aku memohon petunjuk dan meminta keputusan terbaik yang harus aku ambil. Agar bukan keputusan yang salah yang aku putuskan nantinya. Mengapa aku sampai berhari-hari belum bisa meutuskan, karena selama hidupku aku belum pernah berani menolak perintah ibu. Apapun itu ketika baik dan membuat mereka bahagia aku rela melakuakannya. Namun untuk hal ini aku masih ragu, karena aku masih memiliki harapan lain yaitu bisa kuliah di PTN yang selama ini sudah aku rintis dari awal. Haruskah impian ini terhenti? Egois kah aku jika bertahan dengan mimpi ini?

Aku tahu menikah bukan sesuatu yang tidak baik, bahkan Allah memerintahkan kita untuk menikah. Akan tetapi tidak ada unsur paksaan, didasarkan rasa cinta dan niatan ibadah karena-Nya, dan yang terpenting ketika sudah siap lahir dan batin. Pada saat itu semua persyaratan di atas belum terpenuhi maka bukan suatu kesalahan jika aku tidak mengharapakan perjodohan ini terjadi. Aku dengan usia remajaku yang belum genap 17 tahun tengah gemar menuntut ilmu dan mencari jati diri tentu belum siap jika harus dihadapkan dengan hal yang amat berat ini.

Allah menunjukan kasih sayangnya dan kekuasaan-Nya padaku. Pagi itu, ibu menghampiriku dan berkata “Ceu maafin ibu ya, ibu terlalu egois dan khilaf sayang. Ibu tidak memikirkan perasaan dan cita-cita mulia putri ibu. Mulai sekarang ibu tidak akan ikut campur lagi, semuanya terserah ceuceu aja ya. Jika akan menolak perjodohan ini sampaikan penolakannya dengan baik ya sayang” dengan suara yang sedikit tersendat-sendat karena menahan tangis ibu memohon maaf dan menasehatiku. Aku tidak sanggup berkata-kata lagi pada saat itu, aku hanya memeluk ibu dan menangis sejadi-jadinya.

Apa yang sebenarnya yang aku tangiskan? Harusnya aku bahagia karena ibu sudah mengizinkanku untuk memutuskan semuanya. Itulah mengapa aku hampir tidak pernah bisa membedakan kapan sedih dan kapan bahagia. Karena di setiap kebahagianku dan kesedihanku selalu diwarnai dengan tangis penuh rasa syukur.

Subhanallah, Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan (Ar-Rahman). Kembali bertambah proses pendewasaanku. Di usia remaja yang mayoritas remaja lain habiskan dengan kesenang-senangan bermain. Sedangkan aku harus berhadapan dengan permasalahan yang seharusnya menjadi bagianku ketika aku dewasa nanti. Tapi sekali lagi aku telah dipilih Allah karena Allah yakin aku bisa dan aku kuat. Kasih sayang Allah sangat nyata.

Malam itu di rumah, telah terjadi jejak baru dalam hidupku. Seorang wanita belum genap berusia 17 tahun dengan penuh keyakinannya menolak seorang laki-laki berumur yang telah mapan secara materi. Dengan penuh rasa takut dan khawatir aku berhadapan langsung dengan orang yang sebelumnya tidak aku kenal dan aku harus menolaknya. Apa yang aku pikirkan saat itu, hanya dengan mengingat ALLAH dan berdoa agar aku jangan sampai salah berucap ataupun bertindak, sehingga proses penolakan ini tidak menimbulkan perpecahan tetapi terjalinnya kekeluargaan yang aku harapkan.

Alhamdulillah dengan berpegang teguh pada keyakinan dan doa yang tidak terputus. Tidak ada kata-kata yang menyakiti ataupun menyinggung perasaan orang tersebut. Aku tidak mengungkapkan banyak alasan, aku hanya menyampaikan satu alasan. Bahwa aku belum ada niatan untuk menikah karena sedang menuntut ilmu.

“Sebelumnya terima kasih banyak sudah memilih saya di antara perempuan yang lain. Tapi saya yakin bapak bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari saya, mohon maaf karena tidak bisa menerima niat baik dan tulus bapak karena pada saat ini saya sedang menuntut ilmu dan sedang semangat mengejar mimpi. Semoga bapak dapat menerima alasan saya dan bersedia membatalkan perjodohan ini”. Bgitulah penggalan kalimat yang sempat aku lontarkan pada saat itu.

Semuanya tidak langsung terjadi sesuai harapan walau sudah sebaik apapun ucapanku. Namun pada akhirnya orang tersebut menerima keputusanku untuk membatalkan perjodohan ini. Bahkan beliau memohon maaf karena telah mengganggu pendidikanku. Beliau hanya meminta dicarikan calon isteri dan saudara aku yang terkesan gila harta tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Namun bagaimanapun tidak ada alasan bagiku untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kembali lagi bahwa ini adalah ujian dan bukti cinta-Nya padaku.

***

Dengan diterimanya keputusan aku yang ingin membatalkan perjodohan ini, maka aku berhasil menyelamatkan mimpiku, mendapatkan pengalaman, pembelajaran dan kekeluargaan. Sungguh Allah kembali menampakkan kekuasaan-Nya begitu agung dan luhur.

Setelah kejadian ini keluarga kami masih bisa bertahan hidup walau tanpa materi yang berlimpah. Aku bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negeri yang aku harapkan tanpa meminta bantuan kepada saudara yang sangat mengkhawatirkan biaya studi aku. Allah telah menetapkan untuk setiap takdir umatnya, maka kembali lagi kepada kita. Pergi menjemputnya atau hanya diam dan menunggu yang tak pasti. Segala sesuatu yang berkaitan dengan kita memang betul sudah Allah tetapkan, namun kita sebagai manusia harus tetap berikhtiar dan membuatnya menjadi semakin nyata.

Hidup ini adalah proses di mana kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Seperti apa hidup kita tergantung keputusan yang kita pilih. Mungkin jika aku memilih menerima perjodohan tersebut maka aku tidak akan bisa melanjutkan masa remaja yang penuh dengan cerita. Hidup ini tidak harus selalu melihat dan berorientasi pada hasil tapi cobalah menikmati prosesnya. Di mana dalam proses tersebut banyak menghadirkan semangat, pelajaran, pengalaman dan kecintaan kepada Allah agar kita senantiasa dekat dengan-Nya. Maka jika orang lain menganggap perjodohan ini adalah masalah tapi bagiku hal ini adalah bukti Cinta-Nya padaku. Karena aku selalu melihat masalah dan ujian adalah bukti kasih sayang-Nya padaku.

Warnailah masa remajamu dengan semangat mengejar mimpi dan kecintaanmu pada Rabb-mu. Insya Allah hidup ini akan semakin berarti.

*“Ceu” adalah panggilan sama seperti kaka. Ceu/ceuceu adalah panggilan untuk anak perempuan yang paling tua biasa digunakan di keluarga Sunda.

“Selamat pagi”. Di sejuknya fajar yang masih malu-malu.. Bogor 7 Juni 2011 _TSA_

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 4,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tika Sri Amelia
Lahir di Lebak, bulan Oktober 1993. Mahasiswi semester ke-7 di Institut Pertanian Bogor, Jurusan Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian. Penulis mendapatkan beasiswa Bidik Misi untuk periode 2011-2015. Masih sebagai pemula dalam dunia kepenulisan, semakin jatuh cinta kepada dunia kepenulisan setelah mencoba menuliskan kisah hidup pribadi yang membuat orang terinspirasi. Tulisan pertama Surat Kecil untuk Rektor masuk 10 besar penulis terbaik tingkat kampus pada tahun 2013. Penulis memiliki hobi menulis, membaca, memasak, memotivasi dan jalan jalan. Menyukai novel, buku motivasi dan suka akan tantangan. Alhamdulillah saat ini diberi amanah sebagai ketua divisi keputrian di Lembaga Dakwah Fakultas.

Lihat Juga

Kasih Ayah Sepanjang Masa