Home / Konsultasi / Konsultasi Keluarga / Bagaimana Cara Kendalikan Diri Agar Tidak Beri Hukuman Fisik Kepada Anak?

Bagaimana Cara Kendalikan Diri Agar Tidak Beri Hukuman Fisik Kepada Anak?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kompas.com)
Ilustrasi. (kompas.com)

Pertanyaan:

Saya adalah ibu dari dua orang putra. Putra pertama saya berusia 5 tahun dan yang kedua berusia 4 bulan. Saat ini saya memutuskan tidak bekerja, dan ingin fokus terhadap anak-anak. Sejak kelahiran anak kedua, putra pertama saya menjadi sangat manja, dan membuat saya sering marah terhadap kenakalannya. Bahkan karena kenakalannya terkadang membuat saya tidak mampu menahan diri untuk menghukum anak secara fisik seperti mencubit, atau menjewer. Hal ini membuat saya menyesal, karena telah menyakiti anak. Pertanyaannya saya adalah mengapa anaknya mengalami perubahan sikap sejak kelahiran adik? Bagaimana mengendalikan diri agar tidak memberikan hukuman fisik kepada anak di saat anak melakukan kesalahan? Terima kasih atas jawabannya.

Ibu Wiwit, 28 Tahun

Jawaban:

dakwatuna.com Ibu Wiwit yang dirahmati Allah, pilihan ibu untuk fokus pada keluarga suatu hal yang patut diapresiasi karena menjadi seorang ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan sulit bagi kebanyakan orang. Hal ini menunjukkan bahwa ibu memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan segala yang terbaik bagi anak-anak. Namun, ini tentu bukanlah tugas yang mudah, karena banyak hal yang harus ibu lakukan seorang diri di rumah. Bahkan hal ini terkadang mengabaikan kebutuhan psikologis ibu sendiri untuk sekedar libur dari rutinitas mengasuh anak.

Perilaku anak sulung seperti yang ibu ceritakan merupakan bentuk kekhawatirannya akan berkurangnya kasih sayang yang ibu berikan ketika hadirnya adik. Anak sulung selama ini sudah terbiasa menjadi pusat perhatian kedua orang tuanya. Anak-anak terkadang kesulitan mengekspresikan emosi yang mereka rasakan secara tepat. Sehingga bentuk cari perhatian yang ia tunjukkan adalah dengan melakukan hal-hal yang justru ibu larang. Anak sulung ibu yang berusia 5 tahun belum mampu memahami bahwa adiknya yang balita membutuhkan perhatian ibu yang lebih besar ketimbang dirinya.

Bagaimanapun ia tetap menuntut perhatian yang sama seperti sebelum kehadiran adiknya. Di  usia 5 tahun ia belum  memahami kondisi ini, dan kita tidak dapat menuntutnya bersikap lebih dewasa dan mandiri dalam kesehariannya. Sikap ibu yang kerap memarahinya justru menambah kekhawatirannya akan berkurangnya kasih sayang tersebut. Untuk mengatasi kecemburuan ini, yang perlu dilakukan adalah dengan mengungkapkan rasa kasih sayang ibu kepada anak. Katakan pada anak bahwa ibu mencintainya sama dengan sang adik serta berikan sentuhan kasih sayang seperti pelukan sebelum tidur atau sebelum berangkat sekolah. Dengan begitu anak merasakan  bahwa ibu selalu memberikan kasih sayang kepadanya. Libatkan anak dalam aktivitas bersama mengurus adiknya, seperti membantu mengambilkan handuk saat adik akan mandi, dan hal kecil lainnya yang dapat dilakukannya dengan pengawasan ibu.

Berikan pujian pada anak bahwa ia dapat menjadi kakak yang baik bagi adiknya. Dalam menerapkan aturan kepada anak, sampaikan aturan tersebut dengan jelas, serta konsekuensi yang ia terima ketika tidak menjalankan aturan tersebut. Berikan motivasi kepada anak dengan menggunakan reward (hadiah). Reward atau hadiah yang diberikan tidak harus berbentuk benda namun bisa juga dalam bentuk pujian saat anak berhasil menjalankan aturan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan melihat seberapa besar usaha yang harus dilakukan anak dalam menjalankan sebuah aturan. Komunikasikan kepada suami aturan apa saja yang diberikan kepada anak, agar dapat konsisten dalam menerapkannya kepada anak. Sehingga antara suami dan istri tidak ada perbedaan dalam pola asuh dan memiliki sikap yang sama dalam memberikan pendidikan.

Sikap marah dan memberikan hukuman fisik kepada anak yang ibu lakukan adalah bentuk  frustasi ibu dalam menghadapi perilaku negatif anak dan kelelahan secara emosi dan fisik yang ibu alami.  Hal ini tentu berdampak tidak baik bagi anak, karena ia akan meniru perilaku dan sikap yang ibu tunjukkan kepadanya.  Cobalah untuk meluangkan waktu sejenak buat diri sendiri untuk relaksasi, seperti melakukan hobi sederhana, menikmati waktu sendiri atau bersama suami  tanpa anak-anak. Kondisi rileks akan membuat ibu lebih mudah mengontrol emosi dan mengendalikan diri ketika menghadapi perilaku negatif anak. Untuk itu diharapkan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar senantiasa dimudahkan dalam mendidik anak dan mengurus rumah tangga dan senantiasa belajar dan mencari tahu informasi mengenai pendidikan anak dan keluarga, Wallahu’alam moga selalu dimudahkan dalam menjadi orang tua teladan bagi anak-anak tercinta.

Untuk pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat kirimkan langsung melalui email: [email protected]

banner-konten-bersponsor-rumah-konseling

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. H. Muhammad Iqbal, M.SocSc (Psy)
Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Kemudian melanjutkan S2 Program Magister Profesi Psikologi Konseling dan S3 Psikologi dari School of Psychology and Human Development Faculty Social Science and Humanities Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Alumni ILO Labour Migration Academy ILO Training Center Turin Italy dan Asian Graduate Students Fellowship National University of Singapore (NUS). Saat ini Iqbal bekerja Ketua Program studi Psikologi, Universitas Mercubuana Jakarta dan Direktur Rumah Konseling (PT.Namary Insan Solusi), bergerak dalam bidang Konsultan Psikologi SDM dan Keluarga. Mendirikan Praktik layanan psikologi, Rumah Konseling di Jl. Saidin No. 17 Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Layanan pelatihan (Life Skill), konseling dan asesmen psikologi melalui temu janji dengan psikologi terlebih dahulu melalui no 021-7491577/081283352311. Pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat dikirim ke: [email protected]

Lihat Juga

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), terduga kasus penistaan Agama.  (sindonews.com)

Ini Alasan Ahok Tidak Ditahan dan Hanya Dicekal Ke Luar Negeri