Home / Berita / Rilis Pers / KAMMI Dukung Pilkada Oleh DPRD Demi Selamatkan Demokrasi Pancasila

KAMMI Dukung Pilkada Oleh DPRD Demi Selamatkan Demokrasi Pancasila

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

dakwatuna.com – Jakarta. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menyatakan dukungannya kepada DPR untuk mengembalikan Pemilihan Kepala Daerah kepada DPRD. Hal ini disampaikan Ketua Umum KAMMI Andriyana dalam siaran Pers, jumat (12/9/14). Dalam siaran pers-nya, KAMMI menilai dengan dikembalikannya hak Pemilihan Kepala Daerah kepada DPRD akan menyelamatkan masa depan Demokrasi Pancasila.

Menurut Andriyana, Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila sebagaimana amanat Pancasila Sila Keempat. Demokrasi yang melalui Sistem Permusyawaratan Perwakilan dan bertujuan menjaga Keutuhan NKRI dan Kepentingan Nasional Bangsa Indonesia. Bukan Demokrasi Liberal yang sarat transaksi uang dan kekuasaan yang berujung pada Penjajahan Politik dan Ekonomi yang dilakukan oleh Kepentingan Asing melalui kekuatan modal dan media massa. Dengan mengembalikan Pilkada ke DPRD adalah solusi mencegah demokrasi liberal yang mengancam Ideologi Pancasila dan Kepentingan Nasional Bangsa Indonesia.

Andriyana menambahkan, ada tiga alasan mengapa Pilkada harus dikembalikan ke DPRD demi menyelamatkan Demokrasi Pancasila di Indonesia. Alasan Pertama mengembalikan implementasi Demokrasi Pancasila pada tempat yang sesuai dengan Pancasila Sila Keempat. Demokrasi Pancasila mengedepankan Permusyawaratan Perwakilan. DPRD adalah representasi suara rakyat, sehingga Kepala Daerah yang dipilih oleh DPRD merupakan representasi suara Rakyat.

Alasan kedua, Pilkada Langsung adalah Demokrasli Liberal yang menjadi pintu masuk bagi kepentingan asing dan aseng yang mengancam Ideologi Pancasila, keutuhan NKRI dan Kepentingan Nasional Bangsa Indonesia. Kepentingan Asing dan Aseng yang menguasai modal telah menguasai dan menghegemoni Pilkada dengan kekuatan media massa, politik uang, dan lembaga survey abal-abal mereka.

“Kini semakin banyak kepala daerah terpilih karena telah menghabiskan modal besar yang diperoleh dari para cukong dan pengusaha hitam. Ini adalah lonceng kematian bagi Demokrasi Pancasila dan Kepentingan Nasional Bangsa Indonesia karena loyalitas mereka milik cukong dan pengusaha hitam. Kepala Daerah ini harus memenuhi komitmen mereka terhadap cukong dan pengusaha hitam melalui Korupsi kekuasaan dan penjualan kekayaan daerah. Mau dikemanakan Nasib Bangsa dan Rakyat Indonesia bila para kepala daerah adalah hamba para cukong dan pengusaha hitam?”, terang Andriyana.

Alasan ketiga, lanjut Andriyana, mengembalikan nalar sehat Rakyat Indonesia yang kini terjangkit virus pragmatisme akibat transaksi jual beli suara massif di Pilkada. “Kita patut cemas dan sedih melihat banyaknya broker suara dan tidak sedikit rakyat yang memperjualbelikan suara mereka. Ini akibat Pilkada yang bertabur uang. Para pendiri bangsa tentu sangat sedih bila melihat praktik jual beli suara yang sangat massif. Karenanya ini harus dihentikan dengan mengembalikan mandat Sila Keempat Pancasila dimana Pilkada cukup melalui DPRD”, imbuh Andriyana.

“Atas alasan dan kajian inilah KAMMI mendukung sepenuhnya DPR RI untuk mengembalikan system Pemilihan Kepala Daerah ke DPRD demi menyelamatkan Demokrasi Pancasila dan Kepentingan Nasional Bangsa Indonesia. KAMMI akan menggelar aksi dukungan di berbagai daerah untuk mendukung fraski-fraksi dan anggota DPR saat ini agar komitmen dan tidak goyah mengesahkan Pilkada oleh DPR”, pungkas Andri.

Jakarta, 12 September 2014

Ketua Umum PP KAMMI
 

Andriyana

(sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ahok

KAMMI: Ahok Harus Minta Maaf kepada Umat Islam

Organization