Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seimbang Berinteraksi dengan Teknologi Informasi

Seimbang Berinteraksi dengan Teknologi Informasi

Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)
Ilustrasi. (Foto: unipd-centrodirittiumani.it)

dakwatuna.com Sudah cukup lama saya tidak membaca postingan artikel dari seorang teman yang secara rutin mengirimnya melalui email. Alhamdulillah malam hari ketika sedang melepas penat setelah seharian beraktifitas, bismillah saya menyalakan laptop dan membuka postingan email masuk. Artikel yang menarik, tentang urgensi sedekah. Dengan cermat dan analisa yang mendalam tulisan tersebut menguraikan betapa dahsyatnya dengan merutinkan sedekah menjadi pintu keberkahan rezeki, lengkap dengan hitung-hitungan matematisnya. Sehari sebelumnya, saya juga membaca postingan melalui broadcast di Handphone, yang berkisah tentang seorang buta yang selalu rajin tilawah Al-Quran, meski teman-teman di masjid terhenti membaca karena mati listrik dan dia masih terus membaca (mudah ditebak, karena dia menggunakan Al-Quran Braille yang pastinya tetap bisa dibaca meski listrik mati) Alhamdulillah, seperti baterai selesai dicharge, hati tergerak untuk mencontoh tokoh dalam tulisan tersebut, tergerak untuk mempraktekkan langsung isi artikel tersebut. Sekali lagi Alhamdulillah. Tsumma Alhamdulillah.

Alhamdulillah, keberadaan teknologi Informasi, telah banyak berkontribusi untuk mencerdaskan, mencerahkan, memotivasi, bahkan dalam banyak hal juga mensejahterakan kehidupan masyarakat, dalam semua sisinya. Broadcast terjemahan ayat, hadis Nabi, kata –hikmah/bijak dan segudang motivasi, baik terkait kehidupan sehari-hari, bisnis, etos kerja, sejarah dan sebagainya, termasuk iklan produk dan jasa, sekarang sudah bukan menjadi sesuatu yang asing. Bukan hanya tulisan, bahkan termasuk gambar, baik yang masih orisinil atau yang sudah diotak-atik dengan berbagai program photoshop dan lainnya, telah banyak mewarnai kehidupan masyarakat, bukan hanya di daerah perkotaan, bahkan sudah sampai ke masyarakat pedesaan. Inilah salah satu pengaruh positif dari perkembangan teknologi Informasi yang makin berkembang pesat. Ini kisah nyata, teman dipertemukan dengan jodohnya melalui facebook, setelah sekian tahun ditinggal wafat oleh pasangan masing-masing. Seorang ibu pernah bercerita, bahwa sepupunya di kota yang cukup jauh dari Ibukota, dengan bekal kecerdasan mengelola teknologi Informasi dengan membuat sebuah program sistem tertentu, bisa menghasilkan income per 15 menit, sekian puluh juta rupiah.

Namun tidak dapat dipungkiri, perkembangan teknologi Informasi yang sedemikian pesat juga menghadirkan pengaruh negatif. Pernah dengar istilah “ Yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat?” kalimat tersebut untuk menggambarkan sedikit pengaruh negatif yang saya maksud. Dengan gadget (berbagai merek dan type) yang ada di tangan, seseorang tidak berkomunikasi atau menyapa teman duduk sebelahnya, yang terjadi adalah saling menyapa bahkan kadang saling tertawa dengan teman grup WA, BBM, FB, twitter, skype dan entahlah ke depan akan ada program media sosial apa lagi. Yang jelas, fenomena seperti ungkapan yang saya tulis di atas (yang dekat menjadi jauh, yang jauhmenjadi terasa dekat) memang ada dalam kenyataan. Setiap kali menggunakan transportasi kereta api commuter line (murah meriah dan insya Allah anti macet) Jakarta Bogor, saya sering sengaja memperhatikan, apa yang dilakukan oleh para penumpang. Sepanjang mata memandang, boleh dibilang tiap penumpang yang duduk (jika kondisi tidak berdesakan), semua sibuk dengan gadget masing–masing. Teman duduk sebelah, belum tentu disapa, apalagi dikenali dan diajak ngobrol. Ini barang langka. Kecuali kalau penumpang rombongan yang satu gerbong.

Begitulah, teknologi buatan manusia, selalu ada sisi negatif dan positifnya. Yang mutlak membawa kebaikan dan kebenaran hanyalah yang dari sisi Rabb. Lantas bagaimanakah kita sebagai seorang mukmin menyikapi fenomena demikian? Ambil semuanya sesuai porsinya, secara seimbang, tidak berlebihan, tidak tasyadud (terlalu ketat, terlalu mempersulit diri, terlalu antipati, terlalu alergi, dan terlalu terlalu yang lain) dan juga tidak tasahul (terlalu tergantung, terlalu memudah-mudahkan, terlalu terikat, terlalu terpercaya, dan terlalu lain yang intinya sedemikian lekatnya dengan perangkat Teknologi Informasi, sehingga bisa melalaikan kewajiban yang lain. Benarlah apa yang Allah sampaikan dalam surat Arrahman ayat 7-8 “Dan langit telah ditinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.” Ya.. marilah kita hidup seimbang (tawazun), semoga hidup menjadi berkah dunia akhirat. Wallahu a’lam bishawwab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I
Ibu dari 7 anak yang sehari-hari beraktivitas dakwah dengan mengisi halaqah dan majelis taklim. Lahir di Tegal, lulusan S1 Jurusan Teknologi Pertanian IPB, dan S2 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Aktif menjadi narasumber di berbagai kajian seputar keluarga dan muslimah. Dalam keorganisasian pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), Yayasan Ilman Nafian Bogor, dan Yayasan Nurul Muslimah Medan Sumatera Utara.
Organization