Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Segenggam Tekad, Segerak Amal, Sejumput Impian: Tarbiyah Madal Hayah

Segenggam Tekad, Segerak Amal, Sejumput Impian: Tarbiyah Madal Hayah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Dok. Mohamad Khaidir)
(Dok. Mohamad Khaidir)

“Mimpi adalah kunci..

Untuk kita menaklukkan dunia..

Berlarilah tanpa lelah..

Sampai engkau meraihnya..”

(NIDJI, Laskar Pelangi)

dakwatuna.com Ada seorang bocah yang belum lama menginjak usia ideal remaja, usianya sekitaran 17-18 Tahun. Bocah ini masih terus mencari apa yang harus dicari, masih sering terombang-ambing dalam gelombang tinggi nilai-nilai sekulerisme. Ia sedang mencari apa keidealan itu sebenarnya, apakah memang hanya materi yang menjadi indikator utamanya. Apakah masih harus memandang sesuatu yang keren dan gagah itu berdasarkan persepsi orang-orang yang sesungguhnya belum utuh memahami dirinya. Apakah harus kemudian sekedar menjadi followes para orang-orang yang katanya beken dan eksis tapi sangat tidak pantas untuk dijadikan teladan. Bocah ini sedang berada di penghujung masa studi SMAnya dan tengah mencari hakikat kebenaran. Beberapa kali mencoba untuk meraih peluang kebaikan itu namun sekelompok orang yang berasal dari kalangan organisasi intra, sepertinya memang sengaja tak memberikan kesempatan itu padanya.

Dengan tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam kebaikan, bocah ini pun ingin mencari arti hidup yang sesungguhnya dari sumber yang lain. Atas berbagai realita, muncullah worldview yang baru dalam gejolak pemikiran pemuda ini tentang masih begitu banyak peluang kebaikan di luar sana. Entah datang dari momen seperti apa,mungkin karena sering berada di Masjid muncul secara spontanitas keinginan yang menggebu-gebu, dan semangat bocah ini semakin membuncah ketika peluang kebaikan yang akan ia ambil adalah dalam bentuk partai politik. Dengan pikiran yang masih sedikit kekanak-kanakan peluang kebaikan ini di ambil dengan segala prasangka baik. Dalam pertemuan tiap pekanan yang sebelumnya sudah pernah diikuti pada masa SMP-nya, bocah ini kemudian mengenal tentang sebuah institusi peradaban dengan kompleksitas permasalahan yang bernama partai dakwah.

Saat itu pikiran bocah ini mulai mencari-cari tentang kebenaran absolut atau minimal jalan terjal dan jalan alternatif menuju kebenaran tunggal tersebut. Dari pertemuan pekanan yang rajin ia ikuti, terbentuk sebuah pemahaman visioner tentang dakwah dan peradaban namun gagasan ini masih terlalu besar dan berat menurut bocah ini. Pikirnya, perlu mengenal nama Presiden, Wakil Presiden dan Menteri-menterinya adalah salah satu bagian dari ilmu pengetahuan standar yang tak terlalu penting. Masa itu adalah masa-masa kampanye dan bagi bocah ini politik hanya perlu untuk diketahui saja tak penting untuk berkontribusi dan terlibat aktif, cukup belajar agama saja dari partai dakwah ini dan selanjutnya hidup akan beres dunia akhirat. Sebuah pemahaman yang sangat sederhana dan masih cenderung memisahkan antara urusan agama dan negara. Yang ternyata ini adalah salah satu poin dari sekulerisme yaitu desacralization of politics, memisahkan antara agama dan negara.

Kontestasi politik semakin memanas saat semakin dekatnya hari pemilihan umum tersebut. Ditengah carut marutnya konstestasi ini, ada seorang tokoh yang tiba-tiba menarik perhatian bocah ini. Tokoh tersebut adalah tokoh pemuda yang berasal dari Sulawesi Tengah, tepatnya kelahiran Donggala. Tokoh muda ini sepertinya menjadi idola baru baginya, karena tokoh muda ini memberanikan diri untuk meju menjadi calon anggota legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah bersama sebuah gerbong partai dakwah. Bocah ingusan tadi secara sadar bercita-cita dan bermimpi suatu saat akan bertemu dengan tokoh muda tersebut, perkenalkan tokoh muda yang sangat menginspirasi bocah tersebut bernama Bapak Adhyaksa Dault.

Mimpi untuk bertemu Bapak Adhyaksa Dault dari bocah ini sepertinya biasa-biasa saja, namun kehendak Allah dan kekuatan mimpi, serta semangat perubahan berkata lain. Bocah ingusan ini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Mungkin saja faktor dominan yang membuat bocah ini berubah adalah karena secara istiqamah mengikuti agenda pekanan yang bernama liqa’. Agenda pekanan ini terlihat melelahkan namun secara nyata mebentuk karakter bocah itu sebagai pribadi yang bersemangat dan mau terus menerus untuk belajar.

Singkat cerita setelah pemilihan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia bersatu Jilid I Bapak Adhyaksa Dault terpilih sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga RI. Bocah ingusan tadi kemudian terpicu semangatnya untuk terus berproses, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan terus berusaha menjadi yag terbaik secara akademik maupun organisatoris. Di awal Tahun 2011 bocah yang mulai beranjak menjadi pemuda ini diberi amanah yang luar biasa untuk memimpin organisasi. Organisasi Lembaga Dakwah Fakultas yang bernama MPM Al-Iqra’. Untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk berkontribusi secara besar yaitu sebagai pimpinan lembaga. Karena tak mempunyai pengalaman memimpin sebelumnya, maka pemuda ini harus menjadi quick learning. Dengan metode learning by doing dan bimbingan para senior pemuda ini terus berusaha mewujudkan mimpinya.

Menteri Pemuda dan Olahraga RI pun beralih kepemimpinan kepada salah seorang Putra terbaik Sulawesi, Bapak Andi Malaranggeng. Di Tahun ini pula, pemuda ini merasa bahwa mimpinya untuk bertemu dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan tercapai, pemuda ini terpilih sebagai salah satu peserta perwakilan Sulawesi Tengah untuk mengikuti Training Of Trainer (TOT) penanggulangan faktor destruktif remaja lebih spesifik bidang pornografi dan pornoaksi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tetapi sekali lagi takdir berkata lain, kesempatan untuk bertemu Pak Menteri harus tertunda karena berbagai kesibukan dan padatnya jadwal acara Pak Menteri, sehingga beliau tidak sempat menghadiri acara TOT yang kami ikuti di Taman Wiladatika Cibubur.

Pupusnya harapan untuk bertemu Menteri ini tidak kemudian menjadikan pemuda ini menyerah dan menyudahi upayanya dalam mengejar mimpi. Ia masih meyakini bahwa para pahlawan penuntas mimpi harus mengalami banyak kegagalan baru kemudian bisa mewujudkan mimpinya. Di Tahun 2012 pemuda ini kemudian terpilih sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UPIM Universitas Tadulako. Aktualisasi dirinya untuk perbaikan umat terus dilakukan secara totalitas dan optimal karena sejatinya Dakwah akan terus meminta perhatianmu, jiwa, dan ragamu, semua demi Umat yang engkau cintai.

Sambil terus menjalani proses, pemuda ini terus mengeluarkan segala potensinya bahkan ketika ia sudah tidak menjadi ketua lembaga lagi. Baginya tak penting posisi atau jabatan, yang paling penting masih bisa berkontribusi sekuat tenaga. Di momen inipun ia banyak belajar dan sedikit memahami tentang karakteristik Generasi yang Rabbani. Kata Ibnu Jarir Ath-Thabari atau yang sering dikenal dengan Imamul Mufassirin, pimpinan para ‘Ulama Tafsir, Generasi Rabbani itu memiliki 5 karakteristik. Yang pertama faqih ; memahami Islam dengan sangat baik, kedua ‘alim ; miliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, ketiga bashir bi as-siyasah ; tahu perkembangan politik, keempat bashir bi at-tadbir ; memiliki kemampuan manajemen dan strategi yang baik, dan kelima qaim bi syu’uni ar-ra’iyah bimaa yuslihuhum fi dunyahum wa diinihim ; melaksanakan segala urusan umat yang mendatangkan kemaslahatan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.

Sampai pada Tahun 2014 ia bersama kawan-kawan seperjuangannya harus kemudian siap mengimplementasikan ciri generasi rabbani, menjadi salah satu garda terdepan dalam pemenangan salah satu partai dakwah. Ia menikmati peran ini dengan segenap potensi dan kemampuannya sampai menjadi tim inti pemenangan salah satu pasangan Capres-Cawapres di Kota Palu.

Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilaksanakan sekitar 8 hari lagi, malam itu di tanggal 1 Juli 2014, seusai Shalat Tarawih pemuda ini seperti telah dibukakan pintu takdirnya agar mimpinya terwujud. Ia mendapat telefon dari Bapak Ibnu Hasan,S.Pd.,M.Pd yang saat itu menjabat sebagai salah satu asisten deputi di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Pemuda ini beserta salah seorang kawannya dipilih mewakili Sulawesi Tengah sebagai peserta TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014. Sampai kemudian mimpi pemuda ini diwujudkan dengan cara dan skenario yang begitu indah dari Allah SWT. Ia terpilih sebagai salah satu peserta terbaik TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014 dan berkesempatan untuk bertemu dan bersua dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang sedang menjabat, Bapak Roy Suryo beserta istrinya.

***

Kawan-kawan sekalian, segores tulisan ini hanya sekadar ingin berbagi tentang pengalaman dan perjuangan. Tentang mimpi yang harus begitu besar dan visioner, tentang harapan dan motivasi, tentang tekad yang harus kokoh melampaui kekokohan logam mulia, tentang potensi yang harus selalu dikembangkan, tentang semangat untuk tak pernah jera menuntut ilmu, tentang semangat untuk menginspirasi banyak orang, tentang sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Mimpi, ketika ditanamkan dan diresapi dalam jiwa, pikiran, hati, dan perasaan maka akan menstimulus diri ini agar mencapai mimpi tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Mimpi yang akan kita rumuskan langkah-langkah realistis untuk menggapainya, mimpi yang tak serta merta dicapai dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Jangan pernah takut untuk bermimpi, Seperti 3 tabiat jalan dakwah ini, thulut thariq (panjang jalannya), katsirul aqabat (banyak timpaannya), qilaturrijaal (sedikit orangnya). Bahkan jika Surga adalah salah satu mimpimu, pantaskanlah dirimu untuk mencapainya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: inet)

Aku, Tarbiyah, dan Dakwah Kampus