Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sujud Terakhir

Sujud Terakhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (jr-photos.com)
Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.com Langit masih gelap dan hawanya masih sangat dingin, walaupun cerah. Orang-orang yang shalat di masjid baru saja selesai shalat shubuh berjamaah. Tidak seperti biasanya, telepon rumah berbunyi saat hari masih menyongsong fajar. Ibu pun segera ke ruang tengah untuk menjawab panggilan telepon itu. Rasanya aneh, kok ada gitu ya yang menelpon sepagi ini? Dari ruang tengah, terdengar suara suara ibu, lirih, “Innalillahi..”

Saya yang sedang menyeruput kopi sampai bengong dibuatnya. Kemudian ibu langsung berteriak, memberitahu pada kami bahwa paman baru saja meninggal. Rumah paman cukup dekat, hanya sekitar 200 meter dari kediaman kami. Tanpa menghabiskan secangkir kopi yang masih hangat itu, saya yang merupakan salah seorang tim pengurus jenazah di RW pun langsung bergegas pergi menuju rumah paman. Khawatir ada yang harus segera dikerjakan.

Sesampainya saya di rumah paman, ternyata jenazah beliau masih di rumah sakit. Jadi sambil menunggu jenazahnya datang di antar, saya dan beberapa tetangga menyiapkan rumah dan segala yang dibutuhkan untuk memandikan. Mulai dari ruangan untuk mengkafani, menshalatkan, sampai tempat dan segala keperluan untuk memandikan. Meski saya dan beberapa teman sesama tim pengurus jenazah tengah sibuk mempersiapkan ruangan, kami masih bisa mendengar obrolan keluarganya tentang alur kisah kepergian almarhum.

Sehari sebelumnya, saya diminta ibu untuk mengantarkan makanan ke rumah paman. Saat itu, paman sendiri yang menerimanya di teras. Kiranya, saya dan beberapa warga menganggap bahwa paman sudah sehat dari sakit yang memaksanya rawat inap di RS. Hasan Sadikin beberapa hari silam. Ya, beliau sudah sehat. Itu pula yang terdengar dari penuturan seseorang yang tengah menangis di ruang tengah. Karena paman sudah sehat, paman tampak memperbanyak ibadah hariannya. Mampu berjalan sendiri ke WC, mampu shalat sendiri tanpa membutuhkan bantuan. Itu jelas tanda cukup sehat bagi orang yang baru saja pulang rawat inap. Menurutnya, paman mendadak tampak jauh lebih shalih ketimbang biasanya.

Lebih dari sehat. Malamnya, paman mampu bangun jam tiga dini hari untuk menunaikan shalat malam. Usai shalat malam, paman pun masih duduk di atas sajadahnya untuk menunggu adzan shubuh. Paman orangnya aktif bergaul dan biasa bicara. Jadi saat menanti adzan shubuh pun istrinya mendengar paman berbicara sendiri, “Ieu shubuh jam sabaraha? Asa lila kieu.” (artinya: ini shubuh jam berapa? Rasanya lama begini.)

Kalau kita sedang menunggu, yang sesaat pun terasa lama. Barangkali itu yang dirasakan paman saat menunggu adzan shubuh. Padahal jarum pendek jam sudah menunjukkan pukul empat lebih. Ya, hanya sekitar 10 menit menuju adzan shubuh, tetapi rasanya lama. Padahal kita sering bergumam, “Nggak kerasa ya udah setahun kita nggak ketemu.. Nggak kerasa ya, kayak baru kemaren lulus sekolah.. dan lain sebagainya.” Barangkali, bagi paman adzan shubuh begitu istimewa sampai sebegitunya ditunggu-tunggu.

Adzan shubuh pun berkumandang. Paman tampak menunaikan ibadah shubuhnya. Segalanya tampak wajar. Sampai akhirnya, istri beliau merasa aneh karena beliau begitu lama duduk dalam posisi berdoa usai shalat. “Pak.. Pak.. bangun, Pak.” Tubuh paman terjatuh dari duduknya, yang sontak membuat sang istri berteriak dan meminta anaknya untuk meminta bantuan. Shubuh itu, paman langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil tetangga. Tubuhnya belum kaku, barangkali ada kesempatan untuk menolong.

Hanya itu yang saya dengar dari ruang sebelah. Saya segera ke halaman depan garasi untuk menyiapkan area pemandian. Beberapa saat kemudian, sebuah ambulance datang. Jenazah yang dinanti pun datang. Kami bergegas menyambut ambulance, lalu mengangkut keranda yang di dalamnya terbaring jenazah beliau.

Setelah jenazah disimpan di ruang tengah, saya segera ke luar untuk kembali menyiapkan pemandian. Persediaan air yang mengalir, sabun, ember, handuk, dan perlengkapan lain. Tidak lama, sampai terdengar panggilan. “Pemuda, mana pemuda? Tolong angkat!” Maksudnya pemuda (yang tenaganya masih kuat dan fisiknya bugar) diminta untuk menggotong jenazah ke pemandian. Saya pun bergegas untuk ikut menggotong jasad yang mengenakan pakaian putih bersarung itu.

Sebagaimana tata cara memandikan jenazah, kami melucuti pakaiannya satu per satu. Saya lumayan terkesima. Ya, terkesima. Karena jasadnya begitu bersih, seperti orang yang sehat tanpa sakit sebelumya. Sangat bersih untuk sebuah fisik yang baru menerima perawatan intensif di rumah sakit. Tidak ada tanda-tanda darah beku atau bekas-bekas penyakit kronis yang pernah diderita. Jangankan tanda-tanda darah beku, bekas keringat pun tidak saya temukan.

Pakaian putihnya sama sekali tidak berbau keringat. Sendi-sendi tangannya pun masih lentur, sehingga memudahkan kami untuk melepaskan pakaiannya. Sejenak, saya terlarut dalam lamunan tentang bagaimana detik-detik beliau dijemput. Tubuh paman begitu santai saat malaikat merangkulnya.

Pikiran saya kemudian melanglangbuana mengingat-ingat tentang kematian yang konon rasa sakitnya seperti ditusuk oleh 300 pedang. Jangankan oleh 300 pedang, jatuh saat lari saja sudah cukup sakit. Sakitnya sih saat pengobatan, dan saat merasakan sakit karena pendarahan itu, badan berkeringat dan otot-otot kita mengejang. Semakin sakit, semakin berkeringat. Semakin sakit, semakin kejang otot-ototnya, sehingga badan menjadi semakin kaku dan keras.

Saya mulai berpikir: kematian seperti apa yang membuat jasad almarhum sampai sedemikian santai dan tidak berkeringat?

***

Jenazah dikebumikan pukul 10-an. Setelah papan nisan tertancap, seluruh pelayat mendoakan almarhum. Satu per satu perwakilan berpidato menyampaikan pesan duka dan barangkali ada hal-hal terkait almarhum yang perlu diurus, dimohon untuk segera menghubungi pihak terkait.

Tidak banyak yang disampaikan oleh perwakilan dari pihak RT, DKM, ataupun keluarga. Pihak dari rekan-rekan kerja ternyata lebih banyak. Mereka mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat dalam. Di antara berbagai pihak yang menyampaikan pesan, terlihat hanya pihak dari rekan-rekan kerjanya yang sampai menangis tersedu-sedu. Lelaki yang menangis itu kemudian bercerita tentang seperti apa almarhum saat di kantor. Baginya, almarhum adalah sosok yang sangat baik, taat menjalankan ajaran Islam, bisa membimbing anak buahnya, dan mampu menjadi pengayom. Itulah yang membuat mereka merasa kehilangan, dan tinggal lebih lama di makam, sementara pelayat lain sudah mulai bubar. “Mau banyak berdoa dan mengenang.” Begitu katanya.

Duh, ya Allah. Kami? Sekuat apakah kami agar husnul khatimah saat nanti malaikat menjemput?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Adit Purana
Seorang warga dari pinggir Kota Bandung yang gemar jalan-jalan menelusuri hiruk-pikuk kehidupan di negeri ini, terutama sisi lain kehidupan pinggiran yang jauh dari popularitas. Selalu tertarik dengan tema Kesederhanaan dan Kebersahajaan. Penikmat Bus DAMRI yang suka naik angkot. Setelah merampungkan sekolah Psikologi jenjang S-1, melanjutkan studi untuk bidang yang lebih spesifik: Magister Psikologi Sosial. Menjalani keseharian dengan beraktivitas di bidang sosial melalui forum-forum, komunitas, dan tim kecil.

Lihat Juga

Sujud - Ilustrasi

Denting Cinta di Sujudku