Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / “Ini Bukan Urusanmu!”

“Ini Bukan Urusanmu!”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Siapa kau?” bentak seorang sahabat dalam satu aplikasi percakapan di piranti genggam, “Ini bukan urusanmu!” timpalnya lagi. Keduanya adalah balasan untuk pesan singkat yang aku tulis untuknya, dalam rupa sederhana, untuk sekadar mengingatkan agar segera istirahat, karena malam sudah terlalu larut. Hanya sekedar bingkisan kecil, penanda peduli, tapi sekali lagi kebaikan menjumpai kekasih sejatinya, yaitu rupa-rupa penolakan. Apakah selalu begitu adanya?

Mungkin sering di antara kita menerima hal serupa, bahwa niat yang tak lebih dari untaian nasihat, penanda peduli tadi, dari kawannya sendiri, pada akhirnya mendapat hardikan. Maka selanjutnya ada dua kubu yang bertikai, antara niat awal berhadapan langsung dengan tekanan yang dihasilkan. Sungguh ini yang dihadapi kawan-kawan aktifis pengajak kebaikan. Dalam tiap pintu yang diketuk, dan salam sapa yang diungkapkan, tak sedikit menuai caci, maki dan hinaan menggerus hati. Lalu, keikhlasan menyelamatkan, inilah sebuah konsekuensi, lalu diri pun siap melangkah lagi.

Menebak-nebak isi suasana sahabat tadi, yang mungkin sedang gundah, kalau bahasa anak zaman dahulu itu disebut galau. Atau memang pembawaan lahiriyah, memang seperti itu caranya berkomunikasi. Dan pada akhirnya, aku menuliskan “Oh, maaf ya”, di ruang percakapan, untuk dia baca. Rasanya memang harus seperti itu, kita perlu meminta maaf untuk kebaikan yang berada pada tempat yang bukan semestinya.

Semoga dalam keseharian nanti, ketika kita menjumpai hal yang sama, hati ini jauh lebih siap, melakukan hal-hal baik dengan niat yang lebih mantap. Kebaikan tetaplah akan jadi kebaikan, apapun bentuk penolakannya, bagaimanapun tentangan dan hujjah-hujjah balasannya. Kita bisa lihat itu di sekeliling, bahwa dalam berbuat baik tentu saja ada halangan. Tiket ke surga itu gratis, tapi untuk mendapatkannya sulit, berbelit, berliku, penuh duri, menanjak, sering sakit hati, berjarak, namun lekat di sanubari.

Intinya tetaplah berbuat baik, tetaplah memberikan nasihat, sebab kebaikan tetaplah akan jadi kebaikan. Ia bagai air yang akan cembung ketika mengisi mangkuk, pipih ketika menggenangi piring, lonjong ketika wujudnya ada di dalam botol. Tak berubah, tak kurang nilainya, tak khianat kadarnya, meskipun penerimaannya berbeda-beda. Tetaplah berbuat kebaikan, sebab ada hadiah kebaikan berlipat-lipat, bertumpuk-tumpuk, untuk setiap kebaikan yang kita torehkan.

Lebih dari itu semua, kebaikan adalah cahaya terang di wajah, laksana lentera. Kebaikan pandu penerang jiwa, ianya selaksa cinta. Sahabat tadi, lewat barisan kata yang menyeramkan, “Ini bukan urusanmu!”, berpesan bahwa, memang segalanya bukan menjadi urusan kita, tapi kebajikan dan kebaikan tak mengenal itu. Ia harus tetap sampai, terlepas diterima atau tidak, menyesakkan atau sesuai kehendak.

Jadi, jika kemudian hari kebaikan lurus-lurus saja, tak menuai kesulitan, tak mendapat hardikan, kita perlu bertanya dalam-dalam, apa yang barusan kita lakukan?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanda Koswara
Pendiri #MakingPeopleSmileProject wadah kreatif untuk berekspresi di bidang sosial.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa