Home / Berita / Internasional / Asia / Fotografer Militer Suriah Berikan Kesaksian di Amerika

Fotografer Militer Suriah Berikan Kesaksian di Amerika

Caesar (berbaju biru) memberikan kesaksian di dewan legislatif Amerika (Anadolu)
Caesar (berbaju biru) memberikan kesaksian di dewan legislatif Amerika (Anadolu)

dakwatuna.com – Washington. Komisi hubungan negeri dewan legislatif Amerika Serikat, mendengarkan kesaksian seorang fotografer militer Suriah bernama Caesar, Kamis (31/7/2014) kemarin.

Caesar adalah seorang fotografer yang bergabung ke militer Suriah sebelum pecahnya revolusi Maret 2011 yang silam. Awalnya dia hanyalah fotografer biasa, tapi kemudian tugasnya berubah menjadi fotografer yang mendokumentasikan mayat para korban tewas di penjara-penjara rezim Asad.

Nama Caesar tentunya hanyalah nama samparan. Hal itu untuk menjaga kerahasiaan dan keselamatannya. Tidak ada yang mengetahui data pribadinya. Kehadirannya di dewan juga dengan penutup wajah dan kepalanya. Media hanya diberi kesempatan mendokumentasi dengan memfoto dari arah belakang.

Dalam kesaksiannya di depan dewan yang dipimpin oleh Edward Royce itu, Caesar mengatakan bahwa dirinya bersama seorang fotografer lainnya bertugas mendokumentasikan gambar para korban tewas di penjara-penjara rezim. Hasil dokumentasinya disimpan dengan baik dan hati-hati dalam sebuah komputer. Namun dia mengaku berhasil membocorkan dan menyelundupkan secara pelan-pelan gambar-gambar tersebut kepada pihak revolusi.

Caesar, yang kini telah keluar dari militer Suriah dan sedang berada di Amerika, mengatakan, “Mayat-mayat tahanan itu dibawa ke rumah-rumah sakit militer. Awalnya hanya ada 5-10 mayat per hari. Namun kemudian bertambah menjadi 50-60 mayat per harinya.”

Caesar menambahkan, “Aku melihat kejahatan yang sangat kejam. Banyak yang meninggal karena kelaparan sehingga tubuhnya seperti kerangka. Mayat-mayat itu diberi nomor urut di tubuhnya.”

Ada beberapa contoh gambar ditampilkan dalam kesaksian itu. Caesar mengatakan, “Gambar-gambar itu adalah sebagian dari 10 ribu mayat korban yang aku dokumentasikan. Mereka telah mati dan tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka. Tapi kini ada 100 ribu lainnya yang masih berada dalam penjara, Anda sekalian bisa menyelamatkan mereka.”

Sidang itu menyimpulkan akan memberikan rekomendasi kepada pemerintah Amerika untuk mendorong pemerintah Suriah dan kelompok-kelompok yang terlibat dalam krisis di Suriah untuk menghentikan baku tembak dan memulai perundingan. Hal itu untuk menghentikan pertumpahan darah lebih banyak. Amerika juga akan mengajukan para tersangka dalam kejahatan perang, baik dari rezim Asad maupun kelompok revolusi, ke mahkamah kriminal internasional. (msa/dakwatuna/anadolu)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir

Organization