Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Indikasi Ketidakbahagiaan dan Tolak Ukur Bahagia

Indikasi Ketidakbahagiaan dan Tolak Ukur Bahagia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
(Guntara Nugraha Adiana Poetra)
(Guntara Nugraha Adiana Poetra)

dakwatuna.comDalam kehidupan ini tentu manusia akan bergesekan dengan satu sama lainnya sebagai makhluk sosial, maka tak heran jika ada orang yang merasa iri dengan kelebihan dan prestasi yang dimiliki oleh orang lain. Hal ini adalah sesuatu yang wajar jika kita tidak memasukkannya ke dalam hati dan menjadikan iri di sini sebagai motivasi agar kita bekerja lebih keras lagi.

Terkadang manusia iri dengan kesuksesan orang lain, iri melihat kekayaan orang lain, bahkan terkadang merasa iri melihat orang lain yang lebih tampan, lebih cantik dan memiliki kelebihan lainnya, atau iri melihat suami orang lain yang lebih tampan dan lebih mapan dibandingkan dengan suaminya atau iri kepada istri orang lain yang lebih cantik jelita dan pintar dari istrinya. Yang menjadikan lebih iri lagi adalah orang lain yang dimaksud di sini adalah kerabat, sahabat, rekan kerja dan handai taulan.

Sikap iri yang berlebihan hanya akan menjadikan seseorang tidak bahagia, berharap memiliki nasib yang sama dengan sahabat dan teman-temannya, berharap memiliki kemewahan yang dimiliki oleh orang lain bahkan berharap menjadi orang lain dengan terus berpura-pura menjadi orang lain. Ini tentulah tidak mungkin, karena bagaimanapun juga manusia yang satu dengan yang lainnya itu berbeda dan kehidupan yang dijalani serta latar belakang pun berbeda, terlalu banyak keinginan yang tidak realistis hanya akan mengakibatkan ketidakbahagiaan dalam kehidupan seseorang, seyogyanya seorang muslim pandai bersyukur dan bersabar agar hidup menjadi bahagia.

Seyogyanya juga seorang muslim harus tetap hidup dengan kehidupannya tanpa mengabaikan potensi-potensi yang ada di depannya, usahlah kita hidup dengan kehidupan orang lain karena jalan manusia tentu berbeda.

Janganlah heran dengan hal normatif

Tidak heran di dalam kehidupan ini akan ada saja mereka yang iri kepada kesuksesan yang kita raih, akan ada orang di sekitar kita yang iri karena kelebihan yang kita miliki, iri kepada kepintaran kita, iri kepada segala karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita karena kerja keras kita. Seperti halnya saat kita berada di lingkungan yang baru atau tempat kerja yang baru, biasanya tidak semua orang di lingkungan baru kita akan mendukung dan bersama kita, paling tidak ada satu atau dua orang yang nampak kurang bersahabat kepada kita lantaran kelebihan yang kita miliki. Hal ini sangatlah wajar, usahlah minder atau berkecil hati karena omongan orang lain yang selalu memojokkan kita, ketahuilah ketika ada orang lain yang memiliki kedengkian atau iri terhadap kita, maka sesungguhnya anda telah menjadi orang yang sukses. Dalam pepatah Arab disebutkan.

Artinya: “Jika anda tidak memiliki orang-orang yang dengki kepada anda, maka ketahuilah bahwa anda adalah orang yang gagal.”

  • Apakah kita hendak memaksa semua orang suka terhadap kita?
  • Ataukah kita ingin mendapat ridha dari semua orang?
  • Ataukah kita ingin nama kita selalu baik di hadapan semua orang dan tak satupun orang lain membenci kita?

Renungkanlah…..

Manusia yang paling baik di dunia saja, peduli terhadap sesama dan bersih hatinya yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak terlepas dari kedengkian dan omongan negatif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, bahkan mendapat caci maki, dikatakan kepadanya oleh orang-orang yang membencinya sebagai penyihir, pendusta, penyair yang sakit jiwa dan cacian atau omongan yang menyudutkan lainnya.

Begitu berat dan dahsyat omongan negatif dari kaumnya membuat Rasulullah pun akhirnya menjadi tertekan hingga Allah Ta’ala kuatkan dan berikan penawar kepada hatinya agar menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa bertasbih dan tetap beribadah kepada-Nya.

“…dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al Hijr: 97-99)

Bahkan Allah Ta’ala pun tidak terlepas dari omongan miring dari para makhluk-Nya, di dalam Al Quran disebutkan bahwa Allah Ta’ala dikatakan miskin dan dikatakan pula oleh orang-orang Yahudi bahwa tangan Tuhan terbelenggu.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah miskin dan Kami kaya”. Kami akan mencatat Perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.” (Ali ‘Imran: 181)

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”[[1]], sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu[[2]] dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” (Al Maa-idah: 64)

Duhai jiwa yang merindukan kebahagiaan.

Ketahuilah bahwa mengharapkan semua orang untuk suka terhadap kita adalah suatu kemustahilan, akan tetapi kita juga harus ingat tidak semua orang akan membenci kita, jadikanlah ini sesuatu hal yang normatif dalam kehidupan yang penuh dinamika dan gesekan.

  • Usahlah kedengkian atau rasa iri orang lain terhadap kita menjadikan kita pribadi-pribadi pendengki apalagi pendendam.
  • Usahlah melawan perbuatan buruk dengan keburukan.
  • Usahlah kita menjadi ikut terseret arus yang menyebabkan kita tidak bahagia karena terjangkit virus penyakit-penyakit hati.
  • Perbanyaklah mengingat Tuhan dan segala keagungan-Nya
  • Tetaplah menjadi pribadi-pribadi yang pandai bersabar dan pandai bersyukur agar senantiasa berbahagia
  • Bukankah kita tidak menjadi hina lantaran kedengkian dan omongan negatif dari orang lain  selama kita berada dalam jalan kebenaran dan menjadi pribadi yang jujur.
  • Bukankah tidak sama antara kebaikan dan keburukan
  • Maka tolaklah keburukan itu dengan cara yang bijak yaitu cara yang menjadikan anda manusia yang mulia.

“…dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34)

“…dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al Furqaan: 63)

“…dan apabila mereka mendengar Perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi Kami amal-amal Kami dan bagimu amal-amalmu, Kesejahteraan atas dirimu, Kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (Al-Qashash: 55)

Tolak ukur kebahagiaan

(Guntara Nugraha Adiana Poetra)
(Guntara Nugraha Adiana Poetra)
  • Jika kebahagiaan diukur dengan status sosial, tentu mereka para pesohor Quraisy lebih berbahagia dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan.
  • Jika kebahagiaan diukur dengan materi atau kekayaan, tentu Qarun lebih berbahagia dari nabi Musa ‘Alaihi assalam yang hidup dengan kerendahan hati.
  • Jika kebahagiaan diukur dengan jabatan, pangkat dan kekuasaan, tentu raja Namrud lebih berbahagia dari nabi Ibarahim ‘Alaihi assalam yang hidup dengan keteguhan hati.
  • Jika kebahagiaan diukur dengan popularitas, tentu orang-orang terkenal di zaman sekarang tidak hidup dengan ketergantungan obat-obatan terlarang dan tidak mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

Apa jadinya jika….!

  • Jika kebahagiaan terletak pada materi, tentu akan sangat sedikit mereka yang bisa berbahagia dalam hidupnya, karena sebagaimana kita ketahui jumlah orang-orang kaya lebih sedikit dibanding orang-orang miskin atau tidak banyak orang yang memiliki uang melimpah, adapun yang memiliki hutang atau tidak punya uang sama sekali itu jumlahnya sangat banyak.
  • Apa jadinya jika kebahagiaan diukur lewat banyaknya pangkat dan jabatan, tentu akan lebih sedikit lagi mereka yang bisa berbahagia dengan mudah, karena tidak semua manusia bisa memiliki pangkat dan jabatan dalam kehidupannya.
  • Apa apa jadinya jika kebahagiaan dinilai dari popularitas atau suksesnya karier seseorang, tentu tidak banyak mereka yang bisa berbahagia dalam hidupnya, karena tidak semua orang bisa dikenal oleh banyak orang dan tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi orang terkenal dan bisa berkarir.
  • Dan apa jadinya jika kebahagiaan hanya bisa dipastikan dengan kebanggaan menjadi seorang PNS atau menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau memiliki status sosial lainnya yang sering dielu-elukan banyak orang di zaman sekarang, tentu akan lebih sedikit lagi mereka yang bisa berbahagia dengan mudah. Kenapa saya katakan demikian?

Karena sebagaimana kita ketahui bahwa jatah atau lowongan PNS yang dibuka setiap tahunnya tentu sangatlah terbatas, sedangkan yang mendaftar bisa mencapai jutaan orang, adapun yang diterima jumlahnya hanya ribuan saja, maka secara otomatis berapa banyak dari mereka yang tidak masuk menjadi PNS, jumlahnya pun tentu sangatlah banyak.

Begitu juga menjadi anggota dewan perwakilan rakyat, ramai-ramai orang ingin mendaftar menjadi anggota dewan, mereka sangat berharap namanya bisa masuk sebagai pemenang dan bisa melenggang ke rumah barunya. Berapa banyak jumlah para calon legislatif, jumlahnya tentu sangatlah banyak, sedangkan kursi yang diperebutkan tidaklah sebanding dengan banyaknya peserta yang ikut dalam pemilihan.

Cobalah anda pikirkan berapa banyak persaingan yang sudah tidak sehat dalam hidup ini, tentu terlampau banyak jumlahnya, hingga tak jarang dari kita yang rela menghilangkan akal sehat dan hati nuraninya karena terlena dengan tipu daya dunia sehingga menyebabkan kita menjadi saling bergesekan satu sama lain, saling hujat menghujat, saling sikut, saling cakar dan yang lebih parah lagi adalah saling menjatuhkan demi mendapat status sosial dan hasrat pribadi atau haus akan kekuasaan yang belum tentu menjadikannya bahagia.

Ada dari mereka yang menghilangkan akal sehat demi mencapai ambisinya, rela membayar uang yang begitu besar demi memuaskan syahwatnya sekalipun cara yang ditempuh dengan memudahkan untuk menghutang ke sana kemari. Sekali lagi saya katakan ini bukanlah jalan menuju bahagia melainkan ini adalah pintu gerbang dan jalan-jalan yang dengan mudah bisa mengantarkan seseorang kepada kemelaratan, kebinasaan dan ketidakbahagiaan dalam hidupnya. Merasa yakin akan mendapat apa yang dikejarnya, Alih-alih berhasil, yang terjadi malah sebaliknya hutang semakin menumpuk, entah bagaimana caranya untuk bisa melunasi hutang yang begitu banyak, alhasil hidup pun menjadi hampa karena menjadi pribadi-pribadi yang suka berpikir pendek dan sempit.

Sebagai seorang muslim sebaiknya menutup rapat-rapat pintu yang bisa mengantarkannya kepada ketidakbahagiaan. Kebahagiaan sejatinya adalah milik mereka yang mempunyai pikiran-pikiran yang jernih, berpandangan luas, jiwa-jiwa dan hati yang merdeka dari segala hal yang membelenggu diri, keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa menjadi bahagia di dunia, karena bahagia adalah suasana hati.

Catatan Kaki:

[1]. Maksudnya ialah kikir.

[2]. Kalimat-kalimat ini adalah kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc. MA.
Dosen Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA) & PIMRED di www.infoisco.com (kajian dunia Islam progresif)

Lihat Juga

10 Tips Hidup Bahagia dan Penuh Percaya Diri