Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Peran Guru untuk Indonesia

Peran Guru untuk Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (padang-today.com)
Ilustrasi (padang-today.com)

dakwatuna.com – “Guru adalah pelita ilmu.” Kita seringkali mendengar ungkapan ini. Memang benar adanya. Tanpa seorang guru, kita tidak akan bisa membaca dan menulis. Tanpa membaca, kita tidak akan memliki pengetahuan yang banyak.

Jika negara ini diibaratkan rumah, maka gurulah yang menjadi tonggaknya. Tanpa adanya guru sebagai penopang, sebuah negara tidak akan bisa berdiri kokoh. Tanpa adanya guru sebagai penyangga, sebuah negara tidak akan bisa berjaya.

Hal ini telah telah lama diketahui oleh Macannya Asia, Jepang. Setelah negaranya diporakporandakan oleh Amerika Serikat tahun 1945 tepatnya di Hiroshima dan Nagasaki, yang pertama dikumpulkan bukanlah tentara, dokter ataupun para direktur, melainkan guru.

Orang-orang mengatakan jika ingin melihat nasib suatu bangsa, maka lihatlah kondisi pemudanya. Jika hancur akhlak pemudanya, maka akan hancurlah negara itu. Tapi jika akhlak pemudanya bagus, maka akan berjayalah negara itu. Memang, nasib negara di masa yang akan datang ditentukan oleh pemuda. Namun untuk mendapatkan pemuda yang berkualitas luar dan dalam diperlukan tempaan dari guru.

Sebenarnya, guru seperti apakah yang  dapat mencetak pemuda berkarakter? Tentu, gurunya terlebih dahulu yang memiliki karakter. Guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik dan pemimpin.

Pemuda yang berkarakter tentunya adalah pemuda yang pada masa sekolah dasarnya diajari oleh guru yang tidak hanya menempanya menjadi manusia yang cerdas fikiran saja. Tetapi juga menanamkan nilai moral kepada sang murid. Sekolah dasar adalah jenjang pendidikan yang akan menentukan karakter anak. Jika selama enam tahun guru telah menanamkan nilai moral, itu adalah modal bagi sang anak untuk menjadi pemuda yang berkarakter.

Tapi sayang sekali, saat ini sedikit sekali guru yang selain mengajar mampu mendidik sang anak menjadi seseorang yang berkepribadian. Kebanyakan guru saat ini hanya menganggap bahwa ketika datang ke sekolah hanyalah untuk mentransfer ilmu. Jika anak sudah menguasai materi yang diajarkan, guru tersebut merasa kewajibannya telah gugur. Padahal sejatinya, selain membuat anak tersebut cerdas secara otak,  guru juga harus membuat muridnya menjadi cerdas secara moral. Inilah yang sulit. Tapi seberat apapun itu, guru harus bisa menjalankan perannya sebagai pendidik yang baik.

Guru yang mengajar dengan hati adalah suatu hal yang langka saat ini. Apakah sang guru mengajar tidak sepenuh hati karena gaji yang tidak cukup? Guru bukanlah profesi untuk mencari kekayaan. Profesi guru sejatinya adalah panggilan jiwa. Ikhlas berbagi dengan siswa untuk sama-sama membangun Indonesia.

Bobroknya akhlak orang Indonesia saat ini adalah tanda gagalnya guru menjadi guru yang sesungguhnya. Kebanyakan kita saat ini hanyalah menyalahkan keadaan tentang ketepurukan pendidikan Indonesia. Banyak sekali alasan yang dicari-cari, kenapa pendidikan Indonesia masih begini-begini saja tanpa ada solusi kongkrit dari kita.

Nasib bangsa Indonesia saat ini ada di tangan guru. Berdasarkan teori domino, seorang guru itu bisa diibaratkan sebagai bagian terkecil dari negara yang dapat memberikan pengaruh besar terhadap Indonesia. Jika saja semua guru dapat memanusiakan muridnya, maka tak lama lagi Indonesia akan berjaya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Menjadi Guru yang Dirindukan