Home / Berita / Opini / Murabbi Kurang Sensitif

Murabbi Kurang Sensitif

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mengamati fenomena dalam liqa’, masih banyak akhwat-akhwat memasuki usia 30 tahun bahkan lebih dari itu belum juga menemui pasang hidup. Meskipun dalam jama’ah tersebut ada sarana untuk mengajukan diri dalam bentuk proposal. Ketika proposal diajukan kepada murabbi atau siapapun ini, pertanda bahwa ikhwan maupun akhwat sudah siap menuju sunnah Rasul-Nya (berumah tangga).

Ada juga sebagian akhwat yang tidak mau memasuki proposal nikah. Beranggapan bahwa belum tentu akan diproses karena melihat pengalaman sebelumnya banyak di antara akhwat yang sudah memasuki proposal hingga kini belum tentu ke mana ending dari proposal tersebut.

Tentu bertanya, apakah proposal tersebut ditumpuk begitu saja atau tidak satupun ikhwan yang siap untuk menikah? Sesungguhnya jodoh adalah rahasia Ilahi. Manusia hanya mau merencanakan atau berusaha untuk mencari pasang hidup. Seharusnya, ketika banyak akhwat memasuki usia genting, sang murabbi tidak perlu menanyakan bahwa mereka sudah siap atau tidak untuk menikah, tidak perlu pula menanyakan mana proposalnya dan sebaiknya murabbi harus sensitif dengan kondisi seperti itu. Karena ada sebagian akhwat yang tidak berani mengutarakan niat pada teman atau murabbinya.

Apakah murabbi tidak sensitif dengan hal-hal seperti itu? Atau, pura-pura tidak tahu? Atau, beranggapan bahwa itu bukan bagian dari tugas mereka? Akhirnya, ada sebagian akhwat maupun ikhwan mencari jalan sendiri untuk mencari pasangan. Bahkan, mutarabbi hanya mengabarkan saja bahwa akan menikah. Sehingga, murabbi tidak tahu proses tersebut dan adapula murabbi yang kaget. Tiba-tiba, mutarabbinya akan menikah? Jangan sampai ada akhwat lain mengikuti jejak seperti itu!

Malahan, murabbi seperti asyik membahas elektabilitas partai, bagaimana seharusnya akhwat ikut andil dalam politik. Bahkan, hampir setiap pertemuan materi yang banyak dibahas bernuansa politik? Padahal, kurikulum liqa’ yang sudah diatur seindah mungkin oleh elit politik tidak hanya seputar politik? Tetapi, kenapa begitu jarang mendapat materi tentang kewanitaan, apakah hal itu dipersilahkan mencari sendiri-sendiri? Tanpa murabbi jelaskan dalam lingkaran jamaah, sesungguhnya banyak sedikit yang sudah memahami tentang kewanitaan. Akan lebih elok, murabbi juga menyentuh materi tentang peran akhwat sebagai istri, ibu dan pendidik.

Apakah hal tersebut dianggap hal yang tabu untuk dibahas? Atau karena mutarabbi belum menikah jadi porsi berkaitan rumah tangga belum saatnya dibahas? Padahal, dalam teori apapun, suatu teori dipelajari dahulu baru suatu saat diaplikasikan? Jangan sampai ketika menikah baru sibuk membahas peran sebagi istri, ibu, menantu dan pendidik. Seharusnya, bekal tersebut dipersiapkan sebelum mengalami sesungguhnya. Ini tidak hanya terjadi dalam satu liqa’, pun dengan liqa’ di tempat yang lain. Dimana materi liqa’ asyik membahas politik? Kenapa selalu dibahas politik? Apakah karena level liqa’ kami sudah memasuki fase untuk memahami politik secara nasional maupun global?

Padahal ketika materi liqa seputar itu saja, maka akan menumbuhkan kebosanan. Dan akan menumbuhkan anggapan bahwa dalam liqa’ lebih diutamakan pembahasan politik dibandingkan membingkai rumah tangga. Akhirnya, hanya bisa terdiam begitu saja ketika setiap pekanan materi itu saja. Tidak berani untuk menggugat karena kami paham bagaimana adab-adab dengan murabbi.

Semoga dengan adanya tulisan ini, menyentuh hati murabbi di manapun berada dan tulisan ini bukan bentuk protes. Terima kasih murabbi telah mengajak kami mengenal Allah, membuat kami istiqamah di jalan yang dicintai Allah dan menjadi kami terus berproses menjadi wanita shalihah.

Meski begitu, kami yakin. Ada banyak murabbi di luar sana yang amat peduli dengan mutarabinya. Yang selayak teman diskusi untuk membahas kehidupan dan masa depan, selayak ayah yang semangat mencarikan jodoh untuk anaknya. Pun, selayak ustadz yang meneduhkan dengan taujih-taujih rabbaninya.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Izinkanlah Aku Menjadi Murabbi