Home / Berita / Nasional / Jelang Usia Satu Abad, Apa Harapan NU

Jelang Usia Satu Abad, Apa Harapan NU

Logo Nahdlatul Ulama (NU) - Foto: uninus.ac.id
Logo Nahdlatul Ulama (NU) – Foto: uninus.ac.id

dakwatuna.com – Jakarta. Jelang usia satu abad Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Abdul Wahid Maktub, berharap agar NU dapat mengimplementasikan fungsi dan tujuan utamanya. Yakni, Rahmatan lil A’lamin atau memberi rahmat untuk seluruh alam.

“NU berdiri dengan tujuan utama melaksanakan misi Ketuhanan di muka bumi, yakni Rahmatan lil A’lamin. NU tidak didirikan untuk menjadi Rahmatan lil Islam, Rahmatan lil Nahdliyin atau Rahmatan lil Indonesia,” ujar Abdul Wahid saat dihubungi, Sabtu siang (17/5).

Fungsi dan tujuan utama NU ini, papar Abdul Wahid, masih sering dilupakan baik oleh warga Nahdliyin maupun pengurus NU di berbagai level. Hendaknya, seluruh pengurus menjadikan NU sebagai instrumen untuk mewujudkan kesadaran keagamaan baru untuk mewujudkan misi utama ke-Tuhan-an itu,  Islam Rahmatan lil A’lamin.

Jangan sampai NU dijadikan sarana oleh pengurusnya sendiri untuk mewujudkan egoisme individual, ungkap Abdul Wahid, apalagi menjadi institusi sosial kegamaan yang kaku, terkotak-kotak, dan seperti penjara bagi pengurusnya sendiri untuk berhubungan dengan institusi lainnya di Indonesia.

NU pun harus menjadi gerakan budaya dan pemikiran Islam yang mampu menjawab tantangan masa depan Indonesia, tegas Abdul Wahid, khususnya dalam hal menghargai keberagaman dan saling menghormati antar institusi atau golongan yang berbeda-beda.

“Ajaran Islam yang saling menghormati terhadap keberagaman (mutual respect), berjiwa progresif dan berdaya juang maju, namun tetap memiliki koeksistensi damai dengan kelompok lainnya inilah yang hendak dikedepankan oleh falsafah Pancasila,” papar Abdul Wahid.

Jadi,  ujar Abdul Wahid, warga Nahdliyin dan pengurus NU di berbagai level tidak dibenarkan untuk mengedepankan egoisme individual dan merasa benarnya sendiri dalam menjalankan roda organisasi. Bahkan, NU harus mampu menjembatani berbagai perbedaan bangsa Indonesia melalui dialog dengan tetap saling menghormati. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Kisah Persahabatan KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan