Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kursi Terakhir

Kursi Terakhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Semestinya membuahkan rasa syukur. Mengingatkan tentang keberuntungan, mengerti rasa sebuah pertolongan, saat terselamatkan dari keadaan genting. Kursi terakhir, menanti dengan harap-harap cemas untuk mendapatkannya, bertaruh pada sisa suara yang tersisa.

Agar menjadi cambuk untuk kerja keras, berbuat sebaik mungkin. Kursi terakhir, memang ia bersama dengan kursi pertama dalam gerbong. Tapi sesungguhnya, ia dekat dengan kursi pertama yang terdepak, dekat dengan sebuah penyesalan. Kursi terakhir yang terangkut, meski menempati gerbong paling belakang. Memandang kursi pertama yang terdepak, mesti merasakan sungguh sebuah karunia.

Menjadi pelajaran, sebelum kehilangan benar-benar terjadi. Pelajaran tentang abai dan waspada dalam sebuah kompetisi. Tak ada tempat untuk bersantai. Bukan waktunya untuk main-main. Tak ada zona aman sebelum usai, tak boleh sedikit pun lengah. Bersiap dan waspada akan segala kemungkinan terburuk dan tantangan yang tak terduga. Mungkin ia  menjadi kursi terakhir yang sesungguhnya, akhirnya terlempar dari gerbong.

Menjadi penggugah, agar tak menyia-nyiakan kesempatan. Kesempatan terakhir yang dimiliki, mungkin itu terjadi. Untuk menumbuhkan semangat, totalitas dalam melayani, dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tak mengulangi kesalahan, agar perjalanan senantiasa berlanjut dan memiliki kesempatan untuk meneruskannya.

Tantangan untuk bisa menjawab, ketika nilainya dipertanyakan. Tantangan untuk berbuat, ketika dipandang sebelah mata. Pengorbanan menjadi sebuah keharusan. Untuk menjawab pertanyaan, apakah akan terus melaju menuju kursi pertama ataukah akan terlempar dan tenggelam: ajal bagi sebuah gerakan dakwah.

Dakwah ini tak kan terhenti, akan terus melaju, memang benar demikian. Tapi wasilah dakwah bisa berganti, tak ada jaminan. Menjadi peringatan bagi para penempuh jalannya, agar ajal tak terburu menghampiri.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus