Home / Berita / Rilis Pers / Tanggapan MIUMI Aceh Atas Pemberitaan Media Terhadap Kasus di Langsa

Tanggapan MIUMI Aceh Atas Pemberitaan Media Terhadap Kasus di Langsa

miumi aceh.jpgdakwatuna.com – Jakarta.  Sehubungan dengan gencarnya pemberitaan negatif dari media-media nasional maupun asing, terhadap pelaksanaan syariat Islam dalam kasus perzinaan dan pemerkosaan di kota Langsa, Aceh, beberapa hari yang lalu, maka Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh memberi tanggapan sebagai berikut:

Pertama, menyesali dan menyayangkan pemberitaan media tersebut yang tidak adil dan benar. Seharusnya media-media tersebut menjelaskan persoalan ini dengan adil dan benar agar tidak timbul fitnah dan perspektif negatif terhadap syariat Islam di Aceh. Media-media tersebut seharusnya menjaga kode etik dalam pemberitaan dengan jujur, adil dan benar serta melakukan tabayun (cross check) terhadap suatu persoalan.

Kedua, mengecam setiap upaya untuk melecehkan dan mendiskriditkan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Pemberitaan negatif dari media-media tersebut jelas-jelas bertujuan untuk melecehkan dan mendiskriditkan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Tentu saja hal ini sangat menyinggung perasaan umat Islam di Aceh secara khusus, dan umat Islam di Indonesia secara umum.

Ketiga, mengecam setiap intervensi dari pihak luar Aceh terhadap pelaksanaan syariat di Aceh, karena pemberlakuan Syariat Islam di Aceh adalah merupakan pilihan dan kebutuhan rakyat Aceh. Maka diharapkan kepada pihak luar Aceh, terlebih lagi orang yang non muslim agar tidak ikut campur dalam persoalan syariat Islam di Aceh.

Keempat, meminta kepada semua pihak di luar Aceh untuk menghormati dan menghargai aturan hukum yang berlaku di Aceh. Pemberlakuan syariat Islam di Aceh merupakan hukum yang sah dan diakui oleh Undang-Undang negara Indonesia. Selain itu, aturan syariat yang berlaku di Aceh merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) masyarakat Aceh dalam menjalankan kebebasan beragama mereka yang harus dihormati oleh semua pihak.

Kelima, meminta media-media tersebut untuk menghentikan pemberitaan negatif terhadap syariat Islam di Aceh. Masyarakat Aceh bahagia dengan pemberlakuan aturan syariat Islam di Aceh, karena dalam aturan syariat inilah terwujudnya keadilan dan keamanan. Masyarakat Aceh siap berjuang untuk mempertahankan syariat Islam sampai kapanpun.

Keenam, mendesak media-media tersebut untuk mengklarifikasi pemberitaan mereka dan meminta maaf kepada umat Islam di Aceh khususnya dan umat Islam di Indonesia secara umum.

Demikian tanggapan MIUMI Aceh terhadap pemberitaan negatif media nasional dan asing terhadap pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

Banda Aceh, 10 Mei 2014

Wassalam

Ketua MIUMI Aceh

Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA

(sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Sultan Raja Bungsu

    sudah seharusnya undang2 Syariah diberlakukan kepada propinsi2 yg penduduknya banyak memeluk Islam.

Lihat Juga

Sekelompok rakyat Tunisia menentang terjadinya kudeta militer di Turki. (aljazera.net)

Bagaimana Reaksi Dunia Arab dalam Masalah Kudeta Militer di Turki?