Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Impianmu Belum Tercapai, Bermimpi dan Beramal Baiklah!

Jika Impianmu Belum Tercapai, Bermimpi dan Beramal Baiklah!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Kadang iri sama Ummi (ibu), setiap hari mengisi pengajian Majlis Taklim di mana-mana tapi masih sempatnya mengais ilmu untuk menambah pengetahuan agamanya kepada para ustad/ustadzah di Bekasi dan Jakarta.

Entah, anaknya ini malah kesusahan untuk mencari guru agama –kehidupan- lagi. Sebab merasa ilmu yang di dapat belum cukup -masih kurang- untuk diri sendiri dan untuk yang lainnya. Mungkin, kalau posisi sedang berada di Mesir tak akan merasa sulit seperti ini. Rasanya patokan mencari guru agama terlalu berat -seakan sangat langka sekali-, seorang guru agama itu harus sesuai antara apa yang diucapkan kepada khalayak ramai dengan perilakunya terhadap diri sendiri dan masyarakat sekitar.

Uniknya, malah sering belajar arti kehidupan yang sebenarnya dari seorang pemulung, pembantu rumah tangga, dan yang lainnya –kalau dalam istilah kasta mungkin mereka berada paling bawah. Tapi bagi saya, mereka adalah orang hebat dan bisa dikatakan berada di kasta paling atas –jika dinilai dari kesederhanaan dalam segala hal. Ketegaran mereka sangat hebat. Pelajaran bagi saya, jangan memandang orang lain lewat kulitnya saja.

Bukan berarti saya memandang orang yang berada dalam kasta menengah ke atas tergolong orang yang tidak baik semua, tidak demikian. Lagipula saya tidak suka rasis dan mengkotak-kotakkan seperti itu. Bagi saya, taqwa menempati urutan nomor satu. Tapi jarang ditemukan di antara mereka yang benar-benar harus dijadikan panutan. Tenang, orang-orang baik dan ikhlas di antara mereka itu tetap ada dalam catatan kehidupan saya. Meski bisa dihitung dengan jari tangan.

Kemarin malam, saya bermuhasabah, merenung sejenak sebelum tidur. Saya merasa sangat sedih ketika kesulitan menemukan tempat halaqah ilmu yang isinya Mu’allim kompeten (ilmu dan amal). Saya merasa butuh asupan ilmu lagi. Ternyata, malam itu juga Allah hadirkan jawaban renungan saya itu lewat mimpi. Walau hanya lewat mimpi, rasanya bahagia sekali. Setidaknya bersyukur bisa belajar kepada seorang Mu’allim yang kapasitas ilmu dan amalnya luar biasa. Bahkan memandang wajah beliau pun memiliki kesejukan tersendiri. Subhanallah.

Sekarang, perasaan iri itu tertuju kepada Mu’allim saya sewaktu di Kairo. Kecerdasan beliau luar biasa -anugerah seorang Hamalatul Qur’an (Pemikul al-Qur’an). Beliau juga baik hati dan suka bersedakah. Meski terkadang saya tahu uang di kantongnya sedang menipis. Yang membuat saya iri adalah waktu itu beliau bercerita pernah mimpi bertemu Rasulullah Saw. Saya meyakini, mimpi itu benar adanya sebab ada hadis yang mengatakan jika ada seseorang mimpi bertemu Rasulullah Saw. dalam bunga tidurnya, dapat dipastikan itu benar dan bukan karangan dari setan.

Saya sadar, kini saya jauh dari lingkungan yang benar-benar memiliki mulazamah tinggi, berkomitmen kuat untuk menjalani segala sunnah Rasul. Makanya cukup sulit untuk mimpi bertemu Rasulullah Saw. Memang, seharusnya kita yang harus membuat lingkungan baik itu ke dalam lingkungan kita. Bukan ikutserta dalam lingkungan yang tidak baik. Makanya, harapan mimpinya pun jadi tergeser sedikit. Ingin mimpi bertemu dengan para ulama. Meski kondisi demikian terbilang masih tetap baik karena ulama adalah pewaris para Nabi. Jadi, tetaplah bermimpi dan beramal baik. Jangan khawatir! Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Kun Fayakun.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Irhamni Rofiun
Moderat, pecinta Al-Quran, suka menulis dan berbagi informasi, juga blogger mania.

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers