Home / Pemuda / Cerpen / Mendung Menyelimuti Agam  

Mendung Menyelimuti Agam  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kristogun.deviantart.com)
Ilustrasi. (kristogun.deviantart.com)

dakwatuna.com – Kabut menyelinap dalam keheningan pagi, menyelimuti hamparan hijau tanaman padi yang kian memudarkan pandang. Daun-daun runcing tipis itu bergoyang pasrah dimainkan semilir angin pagi, menumpahkan sisa-sisa bening embun yang hinggap semalaman, mengalir tumpah-ruah dalam sela-sela  batang padi. Bercampurlah dengan berpuluh-puluh liter air yang mendiami persawahan itu.

Pagi, benar-benar menghebuskan udara yang amat-sangat membuat badan menggigil. Agam, hampir tidak kuasa menahan tusukan angin pada tubuhnya yang munggil, dengan gelagat ayunan langkah berat. Agam  menyelusuri jalan setapak itu menuju kesekolahnya, tidak ada kendaraan untuk ia tumpangi, semuanya sepi, sesepi hatinya selama ini.

Ah… Jarak tempuh dua kilometer itu, bahkan tidak pernah menyurutkan semangat langkahku. Demi untuk megenal  dengan si Budi. Jalanan berkerikil ditumbuhi rerumputan kecil, berlubang penuh dengan genangan keruh air, sekeruh hatiku kini. Terkadang, tumpukan kotoran kerbau yang berserakan, bukal jadi soal. Saban hari  aku jejali  jalan itu dengan berjalan kaki.

Entah mengapa, di sekolah tidak begitu bergairah. Padahal sebelum pergi, aku selalu berusaha menyempatkan diri untuk sarapan. Dan memang, akhir-akhir ini lebih banyak diam, persis pada pagi itu aku duduk bersimpuh di kursi paling depan,  panjang berukuran dua meter,  dan tangan kulipatkan  di atas meja, berperawaka sopan, begitu juga dengan kawan-kawanku yang lain. Kami sedang menunggu ibu Marli, seorang guru honorer yang mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas kami.

Entah ada gerangan apa, jarum jam sudah menujukkan pukul  sembilan. Matahari mulai naik meninggalkan sarang. Hanya pesona dingin  yang masih mengelus kulit, membuat bulu-bulu kecil merinding tegak. Tapi ibu Marli belum menampakkan dirinya pagi ini.

Biasanya jam segini sudah meneriakkan, “Ini Budi.” Mengajarkan kami membaca, dengan suara khasnya. Sambil  menunjuk coretan  di papan tulis dengan rol yang berukuran panjang.

Suara kegirangan burung Gereja bersahutan sembari berkejaran terbang bebas mengudara di langit. Anak–anak pun berhamburan berlarian di sela–sela meja belajar, setelah sekian lama menunggu ibu Marli tak kunjung tiba.

Tangan si Agam sibuk mengores–gores uapan embun di jendela kaca. Tiba-tiba, suara kretak krutuk  langkah sepatu  terdegar dari kejauhan mendekati. Menuju ke arah kelas Agam,

“Ibu Marli katroh”(Ibu Marli sudah sampai) teriak Dian, dalam bahasa Aceh. Anak–anak kembali diam. Duduk rapih di atas kursinya masing–masing.

Seorang pria paruh baya muncul di balik daun pintu kelas satu. Bukan orang yang ditunggu, melainkan Pak Nyakna, kepala sekolah Agam. Tanpa diawali basa-basi,  ia menyuruhku ke ruang guru.  Tidak ada bantahan, aku mengekor dari  belakang. Dengan  sedikit rasa sok  tahu, “Pasti menyuruhku merapikan buku di pustaka,” lirih hatiku.

Kakiku menyelusuri lantai licin ruangan guru. Aku mendapati seorang pemuda yang sedang berbisik-bisik duduk membelakangi pintu. Entah apa yang dibisiknya. Dia bukanlah guru di sini. Dia Bang Adi, tetangga rumahku. Aku telah lama mengenalnya. Tidak hanya itu, yang aku tahu, ia juga masih keluarga jauh ibu. Gumam hatiku, “Ada keperluan apa ia kemari?” Mungkin ada keperluan pribadi dengan salah seorang guru di sini. Aku mereka-reka.  Mulanya, aku tidak mau menghiraukan keberadaanya itu, terus mengekor  mengikuti bapak Nyakna.

Saat berpapasan, dengan raut  wajah sedih, Bang Adi berpaling ke arahku, serta beberapa guru yang ada di sana pun menatap dengan wajah yang sama. Tetap saja Aku tidak mempedulikan tatapan itu. Terus melangkah mendekati Pak Nyakna.

“Apa bapak akan menyuruhku merapikan buku itu lagi?” Tanyaku kepada Pak Nyakna.

Seperti memedamkan rasa kesedihan, ia menjawab, “Hari ini tidak ada yang harus kamu rapikan Gam. Lekaslah pulang nak! Ibumu sedang menuggu! Bang Adi ini mau menjemput kamu pulang sekarang” Jawab Pak Nyakna.

Keningku kerut- kecut.  Penasaran melihat gelagat yang agak ganjil ini.  Tidak sering seperti ini. Apalagi menyuruh pulang pada saat jam belajar. Lagi pun tidak  pernah ada yang menjemputku ke sekolah selama ini. Bukankah Ibu menemani  Abu di ladang?  Jika ia pulang pun menghabiskan waktu  setengah hari berjalan baru sampai di tempat tujuan. Tidak mungkin sampai  ke rumah sepagi ini.

Aku  bergeming. Tidak mau pulang.

“Kenapa harus pulang secepat ini? Bukankah aku harus menunggu Ibu Marli  belajar membaca? Memperkenalkan kami dengan ‘keluarga’ si Budi?”

“Ayah Budi, Ibu Budi, dan Adik si Budi!”

“Lagipula, kalau sudah waktunya pulang aku bisa pulang sendiri!”

“Tanpa harus dijemput,”  Jelas Agam dengan lugu sedikit lucu.

“Kita pulang saja dulu, Gam!” Bujuk Bang Adi. Terbata-bata. “Kan, besok bisa sekolah lagi, Gam?” Bang Adi seperti merahasiakan sesuatu kepadaku.

“Ada gerangan apa sich, Bang?” Tanyaku lagi.

“Kenapa wajah Abang kelihatan gugup?”

“Abang sakit ya?”

Bang adi berpaling. Menepis pertanyaanku. Benar-benar ia tidak mengupayakan untuk menjawab dan tiba-tiba, “Ibu Marli hari ini tidak datang. Katanya kurang sehat.” Sahut Ibu Dahlia, guru matematika. Dia duduk mematung di sudut ruangan yang sejak awal  mendengar percakapan kami.

Mendengar ucapan Ibu Dahlia, aku mengurungkan untuk menabuh kembali genderang perlawanan itu. Ia seorang guru yang paling lembut diantara guru-guru yang lain dan pandai mengambil hati para murid. Aku pun luluh dibuatnya. Sebelum beranjak pulang,  aku memasang wajah kesal kepada Bang Adi yang masih berdiri mematung di sampingku.

Hari menjelang siang, bongkahan awan mengepul di angkasa, dan mulai mengirimkan ribuan prajurit hujan menghantam kerikil-kerikil jalanan. Dan tumpukan-tumpukan kotoran itu mulai mencair tergerus air. Hujan itu membawanya habis tak tersisa. Debatanku menuai kekalahan. Meski tidak ada alasan tepat yang menguatkan ajakan Bang Adi. Apa boleh buat?  Tidak ada seorang guru pun yang mau berusaha mencegatku untuk dibawa pulang Bang Adi pada hari itu.

Akhirnya, aku mengorbankan jam belajarku untuk pertama kali. Dengan diboncengi sepeda ontel Bang Adi, aku terpaku. Duduk di belakang. Tangan mungilku memegang erat pingangnya. Di bawah lembut rintik hujan,  kaki Bang Adi berayun dengan sempurna. Mengayuh sepeda ontelnya menelusuri jalan pulang.

“Apa ibu sudah pulang, Bang?” Tanyaku membuka pembicaraan.

Bang Adi tetap saja membisu, mengalahkan orang bisu. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ada sesuatu yang dirahasiakan padaku.

Mendengar pertanyaan itu, seperti ada halilintar sedang mengejap-ejap dalam hatinya. Hatinya seakan remuk digebuk pertanyaan-pertanyaan yang terus-terusan dilontarkan Agam.  Bang Adi menyimpan rasa kepedihan di balik ketegarannya. Tapi ia enggan menampakkan kesedihan di depan bocah ingusan itu.

Adi berusaha menjawab, sekenanya, ”yaa!” Singkat. Sambil menoleh ke arahku.

“Bersama Abu?” Tanyaku lagi.

“Tadi Abu menyuruh Abang menjemputmu ke sekolah!” Jelas Bang Adi

Mendengar ucapanya, jelas saja membuat sorak ceria hati  kian membuncah. Melambung ke langit-langit menyiratkan rasa rindu menggebu sejak sekian lama tidak  bertemu. Apalagi bermanja-ria seperti kebanyakan anak-anak lainnya. Hatiku  lega. Sudah lama menantikan kepulangan Abu dan Ibuku. Akhirnya,  rasa rindu itu baru saja terlunasi dari Bang Adi. Meski baru sekedar berita kepulangan yang dikabarkan. Ah… rasa bahagia itu.

Dan yang paling membuat hati bahagia ketika berita kepulangan itu disambut oleh jemputan Bang Adi. Sebelumnya, selama bersekolah tidak pernah ada yang menjemput ke sekolah. Meskipun dengan hanya ditumpangi sepeda ontel ringkih sekalipun. Benar-benar hari istimewa bagiku. Sepertinya, Tuhan telah menunjukkan kuasa-Nya dengan mencurahkan kebahagiaan itu. Hanya untukku pada kesempatan ini.

Ayah Agam seorang petani yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri. Beberapa tahun lalu, pemerintah mencanangkan program pembukaan sawah baru secara besar-besaran,  khusus bagi para petani yang tidak memiliki lahan sendiri.

Pemerintah akan memberi bibit melalui subsidi dan pembebasan lahan yang dikucurkan miliaran rupiah.  Ikutlah ayah Agam di dalamnya.  Di tengah belantara hutan Beutong Benggalang yang serba keterbatasan. Ayah Agam bertahan mempertaruhkan hidupnya demi masa depan cemerlang.

Tempat itu berada jauh dari kampung Agam tinggal sekarang. Selama masuk sekolah, terpaksa Agam tinggal bersama neneknya. Sebagai ibu rumah tangga yang penurut, ibu Agam pun mengikuti jejak suaminya dan turut membawa Dek Cut, adik Agam yang masih kecil. Kedua orangtuanya hanya pulang sesekali mengunjungi Agam dan mengurus segala keperluan sekolahnya jika pulang.

Tidak lama lagi, sekolahnya akan ada libur panjang menyambut bulan Ramadhan. Pasti abu dan ibunya akan membawanya ke ladang. Agam senang sekali bila berada di tempat itu. Apalagi  jambu–jambu monyet liar yang tumbuh di sekitar ladangnya akan menemui kematangannya.

Jambu–jambu putih itu akan dipetiknya dan dimasukkan ke dalam bejana yang dianyam dari daun pandan. Kemudian dilahapnya Jambu Putih itu sesampai di Rangkang.

Hari ini, mereka sudah pulang. Dan Abu menyuruh Bang Adi untuk menjemputku agar segera pulang. Rasanya gerak roda sepeda pun  semakin lamban berputar. Hatinya ingin segera mencium wajah murung Dek Cut. Di saat ia merapatkan hidung di pipi adiknya itu, hanya teriak, “Mak” yang  keluar dari mulut mungil adiknya. Agam suka mengganggu adiknya itu.

Gejolak rindu hati Agam bukan kepalang. Tak sabar ingin segera menumpahkan kerinduan itu dalam pelukan ibunya. Apalagi sudah lama sekali tidak lagi mendegar Hikayat Indra Budiman yang sering dikisahkan ibunya menjelang tidur. Dan berhenti sesudah ia meringkuk dalam pelukannya.

Di sepanjang jalan,  Agam  menyaksikan orang berduyun-duyun seperti mau pergi melayat. Berjalan satu arah dengan kami. Mereka menatap kami dalam-dalam. Menyebarkan aura wajah kesedihan. Aku hanya menyaksikan tatapan ganjil itu dengan heran.

Rasa senang itu kini bercampuraduk di antara duyunan orang-orang entah mau kemana. Semakin mendekati rumah, semakin ramai pula kerumunan itu menyesaki. Aku tidak menarik lagi untuk bertanya. Percuma. Tidak ada jawaban untuk kuperoleh. Jika Bang Adi masih saja  membisu tidak mau menjawab pertanyaanku. Hanya kakinya yang sibuk mengayuh sepeda. Dan tangannya menjaga keseimbangan setang sepeda saat putaran roda itu menaiki batu cadas.

Bang Adi menghentikan sepeda ontelnya tepat di sentral kerumunan orang-orang itu berada. Kami tiba dirumah. Aku turun dari sepeda dengan risau. Rumahku disesaki orang-orang kampung. Ada kejadian apa gerangan? Rumah yang kutinggal tadi pagi sepi, kini berubah drastis. Aku berdiri kaku menatap orang-orang  itu. Mereka membalas menatapku dengan tatapan penuh iba. Aku bingung. Suara teriak tangis dari dalam rumah bercampur menjadi satu dengan Yasinan.

Seseorang menarik tanganku membimbing masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu entah siapa yang telah menarik tanganku. Aku terdiam. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut. Meskipun untuk menanyakan perihal apa yang sedang berlaku, selain termangu dengan buku yang masih melekat di tanganku.

Tidak pernah ada dalam firasat, tidak pernah bisa menerka, semuanya berada jauh di balik duga. Orang yang selama ini aku tunggu dengan rindu itu sudah terbujur kaku. Hatiku hancur, jantung nyaris kehilangan detak. Penyakit asmanya kambuh dan merenggut nyawanya pada subuh itu.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 6,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Teuku Hendra Keumala
Teuku Hendra Keumala, Mahasiswa Administrasi Negara Fakultas Fisipol Universitas Iskandar Muda.

Lihat Juga

anak-di-rusia-bicara-7-bahasa

(Video) Luar Biasa, Anak Kecil Ini Mampu Bicara Dengan 7 Bahasa

Organization