Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Biarkan Rezeki yang Mengalir  

Biarkan Rezeki yang Mengalir  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)
Ilustrasi. (rezadewangga.deviantart.com)

dakwatuna.com – Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. Berkata, Rasulullah yang jujur dan terpercaya ucapannya memberitahu kami, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah (sperma) kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menggantung) selama waktu itu juga kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu itu pula. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan menyampaikan empat perkara: menulis rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan akan menjadi orang sengsara atau bahagia …” (HR.Bukhari dan Muslim)

Jika Allah saja sudah sedemikian mengatur rezeki kita, mengapa kita masih gundah gulana dengan rezeki kita ke depannya? Mengapa masih mengejar-ngejar harta? Mengejar-ngejar materi? Yang merupakan salah satu bentuk nyata dari rezeki kita. Bahkan Allah sudah mengaturnya sejak kita belum terlahir ke dunia. Belum lagi peran serta malaikat Mikail  yang bertugas memberikan rezeki dan menurunkan hujan.

Binatang sekecil semut pun sudah Allah tetapkan rezekinya. Apalagi kita, manusia, yang berkali-kali lipat lebih besar dari semut. Dan Allah pun tidak menggariskan semua orang akan sama rezekinya. Semuanya memiliki rezeki masing-masing, tidak terkecuali seorang pun. Allah sudah mencukupkan rezekinya. Baik dia adalah orang kaya maupun orang miskin sekalipun. Lantas mengapa kita masih merasa risau?

Seorang anak dilahirkan ke dunia pun bukanlah beban bagi orangtuanya. Ia merupakan rezeki bagi orangtuanya. Karena setiap anak sudah ditetapkan rezekinya masing-masing. Oleh karena itu, ada yang menyebutkan: banyak anak banyak rezeki. Memang tidak mustahil. Rezeki orangtuanya akan bertambah dikarenakan rezeki anaknya. Perkara rezeki memang sudah diatur sebaik mungkin oleh Allah.

Boleh jadi ia adalah seorang miskin yang tidak punya apa-apa. Tapi suatu saat nanti, ia akan menjadi kaya. Jika tidak kaya di dunia, maka ia akan kaya di akhirat. Atau bahkan ia sudah menjadi kaya: kaya hati. Karena kehidupannya yang sudah dirasa cukup dan tidak menginginkan apapun lagi. Disebabkan keinginannya yang sederhana. Sehingga kehidupannya lebih tentram, tenang dan damai.

Orang kaya yang terlihat seperti rezekinya begitu lancar mengalir. Tapi kita tidak pernah tahu, apakah ia merasa cukup atau tidak? Bagaimana jika hartanya yang banyak tak mampu membuatnya tenang? Ia selalu merasa takut kehilangan. Belum lagi dengan penyakit-penyakit yang identik dengan orang kaya: jantung, stroke, dll. Penyakit orang kaya, pengobatan pun pengobatan orang kaya.

Seperti kita lihat di sekeliling kita, justru kebanyakan Allah berikan kemudahan kepada orang yang kekurangan. Ia tak pernah didera penyakit berat, cukup penyakit ringan yang kadang tanpa obat pun masih bisa sembuh. Sedangkan orang kaya? Memang Allah berikan harta yang berlimpah, tapi hidupnya tak tenang. Harus selalu check up, terapi, cuci darah dan lain sebagainya. Belum lagi masalah keluarga yang juga tak ada habisnya, yang juga disebabkan oleh harta.

Allah Maha Melihat. Ketika seseorang di PHK, bukan lantas rezekinya berhenti. Tapi Allah memberinya rezeki dari tempat yang lain. Ketika ia berusaha ternyata usahanya sukses. Semakin digeluti, omsetnya semakin besar, melebihi ketika ia bekerja di perusahaannya terdahulu. Meskipun dalam berusaha tidak semudah membalikkan telapak tangan, selalu ada ujian. Rugi di awal, bangkrut. Tapi mau bangkit lagi. Hingga akhirnya harta kekayaannya bisa melebihi bos di perusahaannya dahulu.

Subhanallah. Maha Suci Allah. Semakin kita dekat dengan-Nya, justru semakin besarlah rezeki yang kita dapatkan. Itulah bukti kecintaan Allah pada hamba-Nya. Jika kita mendatangi-Nya dengan merangkak, Dia akan berjalan. Dan ketika kita mendatangi-Nya dengan berjalan, Dia akan berlari. Sesungguhnya Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri. Allahu Akbar.

Ya. Yang namanya rezeki biarkanlah mengalir. Tidak usah ngoyo, mengeruknya, membendungnya. Karena Allah sudah menggariskannya untuk kita. Dan kita sebagai manusia, yang memang tak pernah merasa puas dan akan tetap merasa kurang jika rezeki itu tak disyukuri. Bagaikan meminum air laut ketika sedang haus, kita justru akan semakin merasa kehausan. Oleh karena itu, syukurilah. Berterimakasihlah pada-Nya. Mengabdilah, jadikan hidup ini jalan untuk mengabdi kepada-Nya, sebagai wujud rasa syukur kita pada-Nya. Kelak Allah akan makin mencintai kita, menyayangi kita.

Ketika hanya dunia yang dikejar, rezeki kita akan tersumbat. Karena kerannya belum dibukakan oleh-Nya. Sibuk mengurusi bisnis tanpa ada korelasinya. Bisnis pun semakin buntu. Tak ada pergerakan sama sekali. Lalu memutuskan untuk kembali pada-Nya. Memelas bantuan-Nya. Keran itu pun terbuka, rezekinya mengalir. Lebih lancar, sangat lancar. Seolah-olah bisnis yang tadinya hanya terdiri dari satu pintu, menjadi dua pintu, tiga pintu, bahkan banyak pintu.

Mengapa? Kuncinya, rezeki itu mengalir dan Allah-lah yang mengalirkannya. Ketika kita berterimakasih pada-Nya, sudah pasti Allah akan semakin memperlancar rezeki kita. Tanpa kita mengingatnya pun Allah sudah menetapkan rezeki kita, takdir kita. Apalagi jika kita mengingat-Nya, berterimakasih pada-Nya, rezeki akan semakin mengalir lancar. Tanpa perlu meminta, Allah langsung memberi apa yang kita butuhkan.

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 8,19 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hafizhotunnisa Ishmatullah
Lahir di Sumedang, 20 Mei 1992. Tinggal di Bandung. Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Hobi menulis artikel, cerita fiksi baik dalam bentuk serial ataupun cerita pendek, puisi dan lain-lain. Merupakan salah satu tim redaksi Teen Zone tahun 2013 dan kontributor Ummi Online. Karya-karya yang dipublikasikan bisa dilihat di hiishma.tumblr.com
  • laras

    Ya rezeki sdh diatur dr Sblm lahir…benar juga suami saya jd tdk mau kerja…cukup di rmh aja sdh terpenuhi semua kebutuhan….

  • Obek Jrk Plur

    Bagai mana kalau semisal orang berdagang dimana daganganya itu sepi hingga hampir bangkrut…dan ketika ia pergi kedukun minta di lariskan dagangannya trus daganganya laris manis itu gmna penjelasanya….

    Suwon…

Lihat Juga

Realisasi Peran LAZ Sebagai Mitra Pemerintah Dalam Memandirikan Umat Melalui Advokasi Kebijakan