Home / Narasi Islam / Wanita / Wanita Shalihah adalah Bidadari  

Wanita Shalihah adalah Bidadari  

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto:  hiiru16.wordpress.com dengan modifikasi)
Ilustrasi. (Foto:
hiiru16.wordpress.com dengan modifikasi)

dakwatuna.com – Pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang menghiasi manusia tersebut, pakah menjadi manusia yang baik tetap dalam Islam atau ia menjadi manusia yang buruk bahkan keluar dari Islam.

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. (Hr. Abu Hurairah).

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik. Lalu seorang laki-laki bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab, “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.” (H. R Abu Hurairah).

Wanita adalah satu sosok yang begitu mulia di muka bumi ini. Bahkan wanita, Allah abadikan dalam al-Quran dengan nama surat An Nisa dan surat Maryam. Namun, realita sekarang, kebaikan dan keburukan yang dinisbahkan kepadanya adalah tidak terlepas dari tingkah laku dan perbuatannya. Sungguh sangat disayangkan, ia sendiri tidak pernah menghargai al-Quran yang telah menghargainya. Sebutan-sebutan yang merusak marwahnya, ia yang menyebabkan sendiri. Ia dipanggil PSK, wanita penghibur, cabe-cabean, ayam kampus, dan masih banyak istilah yang lain yang sangat disayangkan.

Wanita Shalihah adalah Bidadari

Wanita-wanita shalihah adalah Qanitaat (orang yang taat) dan Hafidhaat (orang yang menjaga diri) saat suaminya tidak ada (Syaikh Halim).

Wanita shalihah adalah wanita-wanita yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, menjaga kemaluan (aurat)nya, dan taat kepada suaminya, (‘Uqudul Lijain).

Tiga kewajiban diatas yang mesti dilakukan oleh seorang wanita agar ia dikategorikan wanita shalihah, surga wanita yang telah menikah adalah tergantung bagaimana suaminya ridha kepadanya selama yang ia lakukan tidak bertentangan dengan syariat.

Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki. (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka dengan jumlah terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantaranya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim)

Sifat-sifat wanita shalihah yang sesuai dengan al-Quran dan Hadits, yaitu:

  1. Patuh dan taat kepada suaminya, “Laki-laki adalah pemimpin atas perempuan-perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan dengan sebab sesuatu yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shaleh ialah yang taat lagi memelihara diri balik di depan maupun belakang suaminya sebagaimana Allah telah memelihara dirinya.” (An-nisa: 34).
  2. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya, “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata, “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (H. R. An-Nasai).
  3. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami), seperti yang dilakukan Asma’ binti Abi Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhuma yang berkhidmat kepada az-Zubair bin Awwam Radhiallahu ‘anhu, suaminya.
  4. Tidak memberikan Kemaluannya kecuali kepada suaminya. “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (an-Nuur: 2-3).
  5. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya.
  6. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (H.R. Abu Dawud).
  7. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta’ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya.” (H. R. Al-Bukhari).
  8. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur. Ada yang bertanya kepada beliau, ‘Apakah mereka kufur kepada Allah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.’’” (HR. Al-Bukhari).
  9. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar’i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (H. R. Muslim).
  10. Melegakan hati suami bila dilihat. “Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah swt, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.” (H. R Ibnu Majah).
  11. Amanah. “Ada tiga macam keberuntungan (bagiseorang lelaki) Pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu …” (HR Hakim).
  12. Istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. “Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri. Agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.” (Ar Rum : 21).

Wanita shalihah adalah penghuni surga yang akan menjadi bidadari bagi suaminya yang shalih, dan ia akan menjadi permata hidup didunia sampai dengan akhirat.

Advertisements

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 8,58 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zulkifli, S.Pd.I
Alumnus STAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara.

Lihat Juga

Wanita Hebat