Home / Pemuda / Cerpen / Memproses Proses

Memproses Proses

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Aku merindukannya. Rindu senyum manisnya, kelembutannya, tatapan polosnya, dan pertanyaan-pertanyaan aneh yang seringkali ia lontarkan. Aku rindu menikmati senja di teras masjid bersamanya, bahkan aku merindukan keranjang tahu miliknya. Duh Rabbi.. sungguh aku rindu semua yang ada pada dirinya.

***

Pertama kali melihatnya, saat aku berada di sebuah masjid di persimpangan jalan menuju rumahku. Sesaat setelah aku selesai mengajar adik-adik TPA di masjid yang bertetangga dengan kosan-ku itu. Kudengar azan Ashar berkumandang, aku tergopoh-gopoh berlarian ke tempat wudhu takut ketinggalan shalat berjama’ah, adik-adik TPA berlalu sambil berteriak, “Ustadzah Azwa, kami pulang yaa!!”.

“Hati-hati! Langsung pulang kerumah, jangan main keluyuran lagi. Sudah sore!” Timpalku.

“Iya, ustadzah!!”

Aku tersenyum melihat tingkah adik-adik TPA-ku yang menggemaskan. Ada yang mengambil peci dari kepala temannya dan saling kejar, ada juga yang menyembunyikan sebelah sandal temannya dan setelah ketemu mereka tertawa bersama. Ah, ada-ada saja.

Tak kusadari seorang gadis Tionghoa telah lama berdiri mematung di hadapanku. Ia bahkan mendengar jelas percakapanku dengan adik-adik TPA yang aku ajar itu. Gadis itu menatapku sembari bertanya, “Toilet di mana ya?”

“Oh di sana.” Kutunjuk tempat yang barusan aku singgahi untuk berwudhu.

“Terimakasih.” Balasnya. Aku mengangguk tersenyum dan segera mengambil shaf untuk berjamaah.

Lepas shalat, aku mengedarkan pandangan mencari sandal yang kutaruh sebelum memasuki masjid ini. Ah itu dia! Tapi ternyata sang gadis penanya toilet tadi masih duduk di teras masjid, tepat di samping sandalku. Penasaran membuatku berani untuk bertanya padanya.

“Maaf, kalau boleh tahu, apa kamu warga di sekitar sini?” Aku perlahan duduk di sampingnya.

“Oh bukan, aku hanya sekedar lewat, selesai mengantarkan pesanan pelanggan.” Senyumnya yang tulus menggambarkan sebuah kejujuran.

“Perkenalkan saya Azwa, saya mahasiswi yang kos di sekitar sini.” Kuulurkan tanganku dan mencoba mengakrabkan diri.

“Aku Morin.” Ia menjabat tanganku cepat dan mengulang senyumannya yang menurutku begitu indah, mata sipitnya hampir saja tak kelihatan.

“Apa yang kamu jual, Morin?”

“Pamanku yang berjualan. Beliau punya usaha produksi tahu dan setiap sore aku disuruh mengantarkan pesanan di daerah sini.” Jelasnya.

“Ooh..” Kembali kutatap gadis berwajah oriental nan ayu yang sedang menyunggingkan senyuman kepadaku.

Senja kala itu ditutup dengan percakapan kami untuk mengenal satu sama lain. Kukenalkan diriku sebagai mahasiswi universitas swasta yang setiap hari mengajar di masjid sepulang dari kuliah. Untunglah, kuliahku hanya sampai jam dua siang sehingga aku bisa mengajar di TPA sorenya. Morin juga memperkenalkan dirinya sebagai saudara jauh Sang Paman, namun ia telah dianggap sebagai anak sendiri oleh Pamannya. Mengenai orangtuanya, ia bercerita bahwa keduanya telah lama meninggal dan sedihnya lagi, ia hidup semata wayang jika tidak ada pamannya yang mau mengurusnya. Morin tak segan menceritakan panjang lebar tentang kehidupannya hingga tak terasa sudah sampai di depan kosan-ku. Morin mengantarku karena jalan pulang menuju kediamannya harus melalui kosanku dulu. Kutawari ia mampir dan ia menolak, ia bilang lain kali saja.

Morin, nama itu asing bagiku. Namun tak kusangka akan mengakrabi hari-hariku selanjutnya, bahkan begitu dekat. Pertemuan hari itu ternyata sebuah gerbang awal bagi kami untuk merajut sebuah persahabatan. Hampir setiap hari Morin mampir ke masjid setelah ia mengantar pesanan. Ia bertanya tentang ritual apa yang aku lakukan setiap kali di masjid lalu apa yang aku ajarkan ke anak-anak kecil di masjid itu. Ia bertanya mengapa aku memakai kain penutup kepala, mengapa aku membasahi tubuh sebelum ritual ibadahku, dan hal-hal lain yang menurutnya aneh. Aku menjawab sebisaku, untunglah aku aktif di kajian kampus yang sering membahas mengenai Islam dimata agama lain. Jadi aku lebih mudah untuk menebak kira-kira apa yang ingin dipertanyakannya.

Hari-hari berlalu membuat jarak kami semakin dekat. Ia seringkali membuatkanku Cakue dankami makan bersama di teras masjid setelah aku mengajar. Cakue adalah makanan khas China, nama aslinya adalah Youtiao yang dikenal juga dengan donat China. Hal ini kutahu dari Morin sendiri ketika aku bertanya apakah makanan ini mengandung unsur daging atau tidak. Ia ternyata mulai paham makanan seperti apa yang boleh kumakan, mana yang halal dan mana yang tidak.

Tak terasa sudah dua minggu aku mengenalnya. Aku menatap dua buku berbungkus kertas kado cantik yang kutenteng sepanjang perjalanan ke masjid untuk mengajar TPA kali ini. Aku berharap bahwa sore itu Morin kembali menemuiku. Tak terlalu lama menunggu setelah seluruh muridku pulang, Morin dengan keranjang tahunya yang telah kosong datang dengan pernyataan mengejutkan.

“Setelah kupikirkan, semakin hari aku semakin tertarik dengan agama yang kau anut, selama ini aku menganggap agama hanyalah milik orangtua yang memang telah pantas memikirkan kehidupan setelah kematian. Namun setelah mengenal agamamu, aku merasa menemukan sebuah hal indah yang selama ini tak pernah kudapat dari agamaku, yaitu sebuah keyakinan.” Ungkap Morin.

Kurasakan melodi alam mengalun merdu setelah kudengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Hatiku penuh dengan kebahagiaan atas kalimat yang baru saja kudengar. Begitu cantiknya ia saat itu. Dipadukan dengan jingga senja di teras masjid dan keindahan hidayah yang sekarang menghiasi dirinya. Sempurna.

Saat itu juga, kubawa ia menghadap ketua pengurus masjid, seorang ustadz yang sangat dicintai dan disegani warga disini. Saat itu, aku menjadi saksi seorang hamba yang mencoba mereguk nikmat Islam yang indah, seorang mualaf yang mengucap syahadat dengan tetes bening keharuan yang menyeruak di matanya lalu menular ke mataku.

“Ambillah hadiah ini. Awalnya ini sebagai bentuk sikap yang Rasulullah anjurkan pada umatnya, yaitu saling berkasih sayang meski berbeda agama. Namun, kini kau telah menjadi saudariku satu aqidah, ini hadiah untukmu, saudariku.”

Kuulurkan sebuah hadiah yang isinya buku seputar tanya jawab tentang Islam. Matanya berkaca-kaca menerima pemberianku. Karena awalnya ia tak bosan-bosannya menanyakan segala sesuatu tentang Islam. Aku harap buku itu dapat menjawab semua pertanyaaannya dan dapat meneguhkan hatinya dengan Islam yang ia yakini sekarang.

“Sebaiknya kita shalat Maghrib di kosan-ku, lalu setelahnya aku antar kamu pulang.” Morin mengangguk.

Kurang lebih sudah lima belas menit aku  mengayuh sepada, membonceng Morin yang duduk manis dibelakangku. Jalan ke rumah morin berliku, hampir saja aku tak bisa mengingatnya.

“Itu dia.” Morin menunjuk sebuah rumah, aku berhenti tepat di depan rumah tersebut.

Rumah bercat abu-abu itu terlihat rapi dan mewah. Meski tergolong kecil namun ornamen khas China mewakili pribadi sang pemilik rumah.

“Yuk ikut masuk ke dalam, kukenalkan pada paman dan dua keponakanku yang lucu.”

Ia menarik lenganku namun dengan halus kutolak sebab sebentar lagi waktu Isya’ tiba. Bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Akhirnya morin mengerti dan mengizinkanku pulang.

“Hati-hati Azwa, Wa’alaikumsalam.” Tutup Morin.

Aku geli mendengarnya. Bukankah aku belum mengucap salam padanya? Hehe.. Sudahlah, setidaknya Morin sedang berusaha ‘mengislamkan’ dirinya sendiri. Bayangan Morin sudah menghilang ketika aku menoleh kembali pada rumah ‘antik’ itu. Namun baru kusadari, hadiah untuk Morin masih kugenggam. Dengan langkah cepat aku segera merapat menuju rumahnya untuk menyerahkan buku itu pada Morin. Belum sempat aku mengetuk pintu depan yang sedikit terbuka, terdengar suara menggelegar dari dalam rumah,

“Siapa gadis berkerudung itu hah?! Temanmu?! Jangan pernah mau berteman dengan orang-orang seperti dia!! Nanti kamu diajari macam-macam lalu kamu dihipnotis mengikuti agamanya, mau kamu?!”

Aku gemetar mendengarnya. Aku bersandar sembari bersembunyi di balik pintu.

“Azwa tidak seperti itu, dia baik sekali.”

“Tau apa kamu tentang dia?!”

“Dia yang akhir-akhir ini mengajari Morin tentang hakikat hidup ini. Morin nyaman berteman dengannya, Paman.”

“Hati-hati!! Jangan sampai kamu tertipu kebaikan mereka, nanti ujung-ujungnya kamu pindah agama seperti mereka!!”

“Morin sudah.. sudah..” Ujar morin gemetar sembari menarik nafas panjang.

Tidak morin! Jangan katakan itu dulu! Nuraniku mencoba menjerit. Tapi sama sekali tak ada suara yang keluar. Lututku mulai lemas menunggu kata-kata Morin selanjutnya.

“Sudah apa?! Jawab!” Laki-laki paruh baya itu mengguncang-guncangkan tubuh Morin dengan sangat kasar. Tak tega aku melihatnya.

“Morin sudah meyakini Islam sebagai agama baru Morin sekarang, Paman. Mohon Paman mengerti.”

Plakk!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi halus Morin sembari mengakhiri percakapan malam itu. Aku terduduk lemas. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Morin menerima kenyataan sang Paman yang tak menyetujui keputusannya. Aku beringsut perlahan meninggalkan rumah yang telah menggoreskan luka di jiwaku itu, atau lebih tepatnya di jiwa Morin.

***

Kutatap jalanan yang ramai di depan masjid, berharap Morin menghampiri. Ingatanku masih segar atas perlakuan Pamannya semalam. Bergerak cepat waktu kemudian, hingga tak terasa sosok itu telah duduk di sampingku kembali.

“Azwa,” sapanya.

“Ah, eh, Morin!” Sontak aku peluk ia dengan haru. Kucurahkan padanya seluruh perasaanku setelah melihat kejadian semalam. Aku menangis di pelukannya lalu ia juga menangis.

“Sudah.. Sudah.. Lupakan kejadian semalam. Paman memang seperti itu orangnya, nanti lambat laun akan aku beri pengertian. Sekarang jelaskan aku tentang jilbab, mengapa kebanyakan wanita muslimah enggan memakainya atau sebagian besar dari mereka memakainya namun tidak sesuai dengan batasan syar’i yang dulu pernah kau jelaskan, bagaimana hal itu dapat terjadi?”

Aku mengusap airmata yang mengalir di pipiku seraya melepaskan pelukanku. Kuhela nafas panjang dan mencoba menjawab pertanyaannya.

“Itu bagian daripada sebuah proses, bukankah tidak ada yang instan di dunia ini? Kita hanya dituntut untuk ber-husnudzon dengan apa yang kita lihat dari saudara kita. Asal kita terus berusaha memperbaikinya.” Morin mengerutkan dahinya namun sejurus kemudian ia mengangguk seperti menyepakati jawabanku.

Setelahnya, seperti biasa, ia mengantarku dan aku memintanya menunggu sebentar di kosan-ku. Aku memilih beberapa helai jilbab dan juga gamis yang baru saja aku beli beberapa hari yang lalu, spesial untuknya. Ukuran tubuh Morin tak jauh berbeda denganku, jadi aku yakin pemberianku ini akan pas jika dipakainya.

Tak henti ia ucapkan terimakasih padaku. Ia berjanji akan memakainya. Matahari kembali ke peraduannya menutup hari itu dengan bias sinar yang indah.

***

Satu, dua, tiga, hingga tujuh hari berlalu. Aku tak melihat Morin lagi. Mengapa ia tak mengunjungiku lagi? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya? Bagaimana pemberianku kemarin, apakah telah dipakainya? Bagaimana dengan keyakinannya, apa masih sekuat waktu itu? Semua pertanyaan itu memenuhi benakku dan mampu membawa kakiku menuju kediamannya.

Mendung bergelayut dengan semilir angin yang sesekali menyibak ujung jilbabku. Ban sepedaku kini beradu dengan kubangan lumpur di jalan setapak yang kulalui sampai ke rumahnya.

Assalamu’alaikum..!” Kuketuk pintu besar dari kayu jati itu.

“Assalamu’alaikum..!” Ulangku. Barulah kudengar jawaban salam khas dari suara Morin yang serak.

Wa’alaikumsalam.. Azwa!” Ia terkejut melihat kedatanganku. Namun senyum dan pelukannya tidak berubah, masih hangat seperti dulu.

Satu hal yang membuatku terkejut. Ternyata ia memakai pemberianku. Gamis dan jilbab berwarna biru muda itu dipakainya di rumah. Mengingat banyak pegawai Pamannya yang lalu lalang hingga ke dalam rumah.

Aku terharu melihatnya. Cantik dan anggun sekali. Ia menarik tanganku, aku mengikuti dibelakang. Ia mengajakku memasuki kamar yang menurutku begitu antik dan mewah.

Allahu rabbi.. Di kamar itu aku melihatpaman Morin yang begitu gagahnya dulu kini terbujur kaku di pembaringannya. Ia lumpuh. Terakhir kali ucap Morin, ia terjatuh di kamar mandi dan hingga kini tak dapat menggerakkan sekujur tubuhnya.

Terasa nyeri hatiku melihat keadaan Morin dan pamannya. Paman yang menduda, hanya memiliki Morin anak angkatnya dan juga anak-anak hasil pernikahannya yang masih kecil-kecil. Sekarang, Morinlah yang mengurus semuanya. Perusahaan tahu, pegawai, hingga keluarganya. Terjawab sudah pertanyaanku tentangnya mengapa ia menghilang seminggu terakhir ini. Ah, Morinku.. Setiap malam aku berdoa semoga Allah meneguhkannya dengan cahaya hidayah yang tak pernah putus di hatinya.

***

Hari minggu. Pengurus TPA membuat acara rihlah ke arena bermain yang ada di pusat kota. Aku bertugas untuk memandu perjalanan hingga sampai ke lokasi. Kami melalui sebuah pemakaman khusus orang-orang Chinese. Dan, ah… Apa aku salah lihat? Ada Morin di pemakaman itu! Aneh pikirku, mengapa ia berada di sana?

Aku menyuruh supir angkot untuk berhenti. Lalu meminta tolong ustadz dan ustadzah lain menggantikan tugasku. Kuhampiri Morin dengan seribu pertanyaan. Apa yang kulihat? Dupa yang ada ditangannya, gamis dan jilbab yang telah ia tanggalkan berganti kemeja tanpa lengan dan rok selutut yang dulu seringkali ia pakai, lalu sedang apa ia? Bergaya seperti sedang sembahyang di depan sebuah makam, ada apa dengan Morin?

“Paman meninggal.” Ia mulai merobek keheningan yang kuciptakan.

“Innalillahi.” Batinku.

“Aku merasa bersalah.” lanjutnya sembari melirik dua keponakannya yang duduk mematung di depan makam sang ayah, seakan mereka menjadi peninggalan berharga pamannya untuk Morin.

“Lalu bagaimana dengan apa yang kau yakini dulu? Dengan Islam yang indah? Dengan surga dan neraka? Dengan kewajiban menutup aurat? Dengan…”

“Azwa, cukup! Kumohon, pahami aku!”

Aku tersentak dan membisu.

“Biarkan aku berproses..” desah Morin, lebih mirip bergumam untuk dirinya sendiri.

Tetes bening jatuh juga di pipiku. Aku berbalik badan meninggalkan ia yang kembali khusyuk berdoa di depan makan sang paman. Wangi kenanga yang tergeletak di sepanjang pemakaman itu menusuk hidungku. Namun, tak ada apa-apanya dibanding hatiku yang tertusuk atas keadaan ini.

Morinku bilang bahwa ia sedang berproses. Ah, mungkin dirinya lupa, bahwa sebuah proses mestilah bergerak kedepan, bukan mundur ke belakang…

(Selesai)

Cerpen ini spesial untuk siapapun yang sedang berproses dalam hidup ini

About these ads

Redaktur: Pirman

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus