Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sekali PKS, Tetap PKS

Sekali PKS, Tetap PKS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3) - viva..co.id
Kampanye terbuka PKS di Gelora Bung Karno (GBK), Ahad (16/3) – viva..co.id

dakwatuna.com. Memilih partai harus jeli. Agar tidak menyesal di kemudian hari. Bagi saya, cara untuk menentukan pilihan adalah dengan merasakan terlebih dahulu masuk sebagai anggota partai itu. Karena selamanya, antara pengalaman sangatlah berbeda dengan teori. Komentator, tak akan pernah mengerti bagaimana cara pemain bermain.

Keluarga saya (sebagaimana keluarga lainnya), adalah loyalis partai pemerintah kala itu. Alasannya sederhana, meski agak menggelitik. Yakni sebagai bentuk terimakasih kepada pendiri partai itu lantaran mencetuskan program transmigrasi. Tidak ada alasan selain itu. Hingga akhirnya, saya mengetahui kebobrokan  partai keluaga kami yang luar biasa dan sistemik. Hingga akhirnya, saya memutuskan satu hal: pindah partai.

Tahun 1999, saya masuk ke dalam partai yang merupakan kepanjangan tangan dari rezim orde lama. Alasannya: ikut-ikutanan teman. Mayoritas anak muda pada waktu itu masuk ke dalam partai yang akhirnya menang dalam pemilu kala itu. Keren dan sangar katanya. Merah membara warna benderanya. Akhirnya, saya termasuk anggota fanatiknya waktu itu. Sampai-sampai beberapa baju sayapun digambar dengan logo partai itu, bersama dengan  teman-teman. Kamar sayapun, tidak luput dari lambang ‘kebanggaan’ itu.

Tahun 2004, saya menjadi kader partai Islam besutan almarhum Gus Dur. Ikut-ikutan menempel spanduk, stiker dan lainnya dari partai milik keluarga NU ini. Tidak nyaman disana, tapi saya bertahan disana.

Sampai akhirnya, saya masuk bangku kuliah pada tahun 2006.  Bertemulah saya dengan teman-teman dan senior kampus. Di kos-kosan itulah, saya mengenal kader tarbiyah yang berafiliasi ke sebuah partai politik.  Saya ingat betul, mereka tidak pernah sekalipun mengenalkan saya tentang partai itu. Bahkan saya sendiri yang mendekati mereka untuk bertanya-tanya tentang partai unik ini.

Bagi saya yang sudah pernah menjadi kutu loncat sebagai anggota partai, partai ini tergolong lengkap dan mendekati sempurna. Itulah yang saya rasakan.  Sejak saat itulah, saya memutuskan untuk hijrah dan menjadi kader partai ini. Sama sekali, tidak ada rencana untuk lama berada di dalamnya, seperti biasanya saya memasuki sebuah partai. Saya hanya ingin mengetahui dan merasakannya saja. Kalau tidak cocok, maka saya akan keluar. Kalau cocok, saya akan bertahan.

Alhamdulillah, partai ini  pas di hati saya. Maka sejak tahun 2006 hingga sekarang dan semoga nanti, selamanya, saya akan tetap berada dalam barisan lurus partai ini. Insya Allah, partai inilah yang akan saya pilih di Pemilu April mendatang.  Semoga, partai ini menang! Sekali PKS, tetap PKS!

About these ads

Redaktur: Rio Erismen

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Supadilah, S.Si
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Sandiaga Uni - Mardani Ali Sera.  (PKSFoto/Julianto)

Mardani: Selain Anies, Ada Nama Lain yang Disiapkan