Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Shalat dan Kebahagiaan

Shalat dan Kebahagiaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: asosiasipenulisislam-sby.blogspot.com)
Ilustrasi. (Foto: asosiasipenulisislam-sby.blogspot.com)

dakwatuna.comSuatu saat, ketika sedang berkunjung di sebuah masjid ada seorang bapak sedang shalat. Menarik untuk saya cermati gerakan shalat yang sedang ia peragakan saat itu. Dengan cepat dan cekatan sang bapak melakukan shalat Zhuhur 4 rakaat yang selesai kurang dari 1 menit. Gerakan yang begitu gesit bahkan ketika sujud, dahinya belum menempel ke lantai masjid sudah diangkat lagi. Terheran saya melihatnya, hingga sempat berkata dalam hati, bapak itu baca doa sujudnya yang versi apa ya? Kok cepat sekali.

Padahal sujud dalam shalat mempunyai kedudukan yang sungguh mulia. Teringat sebuah hadits keutamaan sujud, yaitu ”Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka maka Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenal karena ada bekas sujud pada wajahnya dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Semua anggota anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.” (HR Bukhari & Muslim).

Hingga tak terasa empat rakaat shalat Zhuhur selesai dengan sekejap tak kurang dari 1 menit. Aku pun berhusnuzhan mungkin saja si bapak sedang ada urusan yang penting hingga harus menyudahi shalatnya dengan segera.

Melihat peristiwa itu, saya menjadi termenung seraya duduk di serambi masjid. Sebenarnya apa hakikat shalat bagi manusia? Kalau melihat peristiwa tadi, saya bisa menyimpulkan bahwa shalat itu hanya bernilai sebuah kewajiban. Kewajiban yang harus ditunaikan tetapi kemudian berubah arti menjadi sebuah rutinitas dan dilaksanakan karena ingin menggugurkan kewajiban tersebut.

Padahal seperti yang kita ketahui, shalat itu adalah momen terindah pertemuan makhluk dengan Tuhannya. Shalat itu adalah bentuk dialog antara sang ciptaan dan penciptanya. Ketika kita membaca Al Fatihah ayat per ayat bukankah Allah menjawab bacaan kita tersebut? Bukankah dalam sujud, kita bisa merasakan begitu dekatnya kita dengan Allah? Aku pun teringat sebuah hadits, ”Seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR Muslim, Abu Uwanah dan Baihaqi).

Lalu mengapa ketika kesempatan itu datang, kita harus cepat-cepat berpamitan menyudahi perjumpaan dan dialog dengan sang Pencipta. Bukankah itu sangat disayangkan?

Dalam arti yang lain, perjumpaan tersebut selayaknya menjadi rasa bahagia yang tak terkira. Kebahagiaan karena masih diberikan kesempatan untuk bercengkerama dengan pemilik jiwanya. Kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk menikmati dan merasakan kenyamanan dalam aktivitas spiritual yang memberikan rasa tenang dan damai pada jiwanya.

Kebahagiaan dalam shalat selalu dapat memberikan energi positif dalam kehidupan kita. Pancaran energi kebahagiaan senantiasa mengiringi langkah kita. Maka dari itu, sudah selayaknyalah kita menikmati waktu-waktu shalat kita untuk bercengkerama dengan Sang Pencipta. Mencurahkan semua kebahagiaan, keluh kesah ataupun rasa syukur yang tak terkira kepada Allah, Tuhan semesta raya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tama Yudhistira
Seorang pengajar tinggal di Surakarta yang senantiasa belajar memaknai hidup dan menuliskannya.

Lihat Juga

Tarawih, Allah Memudahkannya, Kita Hendaknya Membaguskannya