Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pertarungan Dedikasi (Catatan Caleg Naif)

Pertarungan Dedikasi (Catatan Caleg Naif)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: Detti Febrina)
Ilustrasi. (Foto: Detti Febrina)

dakwatuna.comBerikut 3 potret para punggawa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang bisa saya rekam. Tentunya dari jutaan mata air kebaikan yang tak henti dari para kader PKS di tempat lain. Semata semoga bisa diambil semangat dan manfaatnya.

***

Satu

Sebagaimana banyak caleg PKS lain, berkali ia mengelak agar namanya tak tertera di daftar Bakal Calon Anggota Dewan (BCAD). Namun pada akhirnya ibu lima anak itu memilih setia.

Berat nian saat akhirnya mengiyakan jadi CAD untuk DPR RI dapil Lampung 1. Sekalipun bergelar master, tawadhu dan kepolosan beliaulah yang justru sukses membuat saya tunduk takzim setiap berhadapan muka.

Dengan modal seadanya, ia masih bisa mencetak atribut yang tak terbilang sedikit. Maklum caleg DPR RI. Ia butuh bersosialisasi di 7 kabupaten-kota di Lampung. Tak cukup dengan menitipkan atribut, ia bahkan ‘berkelana’ menyambangi dapil-dapil terjauh yang untuk pulang pergi mencapainya tak bisa tidak harus dengan bermalam.

Pertarungan tinggal 60 hari, ketika saya terhenyak mengetahui bahwa SPP putrinya yang SMP sudah 3 bulan belum dibayar. Raut sedih mendramatisirkah saat menceritakan itu? Tidak. Beliau justru tertawa. “Ga papa. Insya Allah saya bisa minta penangguhan sampai akhir semester.”

Ya Allah, Umi …

Dialah Ir. Mardiani, M.T.A., sejak dulu hingga kini hanya dedikasi dan dedikasilah yang kami temukan dari beliau.

***

Dua

Di jenak yang lain, medio 2009 – juga Pemilu -, saya tak bisa tidak menyebut para akhwat wal ummahat di sudut Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah.

Anda mengerti ketika kita berjumpa dengan seseorang atau sekelompok orang, maka aura positif itu begitu terasa hingga membuat yang sudah lemahpun menjadi kuat? Ketika kita teramat merindukan mereka karena begitu bersemangat, begitu ceria walau di tengah keterbatasan?

Itulah yang saya rasakan – mengetikkan ini dengan kerinduan sungguh – pada teman-teman di Kalirejo, BangunRejo, PadangRatu – Lampung Tengah.

Setelah berminggu-minggu aktif melakukan aksi sosial atau kesehatan, suatu kali salah seorang dari mereka menyela, “Untuk kali ini saja, Bu, boleh ya aksi yang pekan depan saya izin tidak hadir?” tanya ibu mungil yang selalu ceria itu seraya menggendong bungsunya. “Soalnya mau nandur (menanam padi) dulu, demi sesuap nasi segenggam berlian,” tuturnya lepas.

Ia tak ceritakan bahwa di tengah infak tenaga dan finansial yang senantiasa dikerahkan untuk partai dakwah, keluarganya juga butuh makan. Mereka hanya keluarga petani biasa. Tapi dedikasinya lebih sering mengalahkan kebutuhan keluarganya. Allah … Mungkinkah ia tak saya izinkan?

***

Tiga

Saya menyebut tim ini palu gada. Apa yang lu mau, gua ada. Karena aksi-aksinya selalu one stop action. Semua tersedia. Layanan kesehatan komplit bahkan berkeliling ke rumah-rumah. Lomba ibu-ibu sampai anak-anak, tim direct selling, bazar murah, dan macam-macam lagi. Bagi-bagi nasi kotak sampai yang hepi-hepi seperti freeze mob juga siap.

Tergantung napas dan saldo kas, kata mereka.

Dibarengi agenda liqa tansiqi yang dimulai pukul 06.30, sekali turun tim ini bisa blusukan di dua sampai tiga titik. “Tinggal 40 hari lagi, mestinya tiap minggu bisa 5 titik,” kata Ridho, salah satu anggota tim pelayanan kesehatan ini bersemangat. Dan jumlah massa yang diladeni di satu titik bisa mencapai 500 orang. Menurut saya, itu Waw!

Koordinasipun bukan hanya temu sepekan dua sampai tiga kali, tapi juga riuh rendah di grup koordinasi WhatsApp. Maklum saja, namanya juga tim palu gada. Semua printil dan detil harus dikoordinasikan.

Apakah mereka orang-orang yang tak punya pekerjaan hingga mau saja ‘dikerjain’ PKS tanpa bayaran sepeser pun? Mereka justru para profesional yang tawadhu. Yang cukup bahagia namanya tertera di lauh mahfudz sebagai sekumpulan orang yang beramal shalih.

PKS sila dibully karena berbagai alasan, tapi saya menemukan jauh lebih banyak dedikasi yang bersebangun dengan pemahaman akan militansi. Lagi dan lagi.

Saya bangga mengenal Antum, kawan- kawan. Dan saya masih terus belajar memungut dedikasi dari orang-orang seperti kalian.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Detti Febrina
Berkhidmat di dunia literasi media, tinggal di Bandar Lampung

Lihat Juga

Pilkada DKI

Tak Usung Kader Sendiri, Ini Pertimbangan PKS Usung Anies-Sandi