Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berceloteh Pada Rintik Hujan

Berceloteh Pada Rintik Hujan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (aeny07.wordpress.com)
Ilustrasi. (aeny07.wordpress.com)

dakwatuna.com Bismillahirrahmanirahim…

Berhari-hari sudah setiap insan menunggu tetesan air hujan yang telah lama tak menyapa tanah di mana mereka berpijak. Semua saling berdoa mengharap kedatangannya. Panasnya udara yang menyengat kerongkongan, membuat tubuh merasa lebih cepat letih dengan keringat yang bercucuran.

Ketika tetesan air hujan itu mulai menyapa, begitu banyak sorak terdengar di sana- sini, syukur pun terlantun dari beberapa bibir yang telah lama bermohon pada-Nya. Dan kini hari-hari pun berbalut mendung yang telah memenangkan pergulatan dengan sang surya.

Hampir setiap sore hujan pun turun. Dan hampir setiap sore pula aku berceloteh padanya. Mencelotehkan segala yang terpendam di dada dan sering tak mampu aku ungkap. Tetesan hujan itu terkadang membuat kita mengingat yang sempat terlupa. Mengbangkitkan jiwa yang tak lagi bersemangat. Bahkan menghadirkan tawa pada bibir yang telah terlupa.

Tetesan hujan itu seakan berceloteh padaku. Ia menyapa tanganku dengan dinginnya. Seakan berujar “bagaimana kabar komitmenmu kawan?”. Akupun tersentak dengan dinginnya. Mengingat kembali masa gemilangnya semangat itu. Saat aku dan teman-temanku mengatakan komitmen adalah totalitas dalam perjuangan. Sudahkan kalimat itu beku dalam dingin sore ini? Akupun sedang berpikir.

Ia menyapa dengan percikan gerimis yang menyapu hijab ini. Seakan berujar “bagaimana kabar izzahmu kawan? Masihkan terjaga dalam mulianya akhlak?”. Ah bak diguyur air es se-tong. Khilaf yang masih saja senantiasa menyapa diri ini, seakan mengikis prinsip yang sempat terbangun. Ah aku harus kembali waspada pada senyum-senyum yang mengganggu jiwa agar ia takkan merobek sebongkah izzah.

Kadang aku menginjaknya dan ingin kudengar apa yang akan ia katakan. Ia berteriak padaku “masihkah kakimu tegap melangkah meraih visi kehidupan yang sempat engkau rencanakan?”. Allah… kini aku berpikir keras apa saja visi kehidupan itu? Ah seakan aku tak menyadari bahwa aku sempat dengan lantang mengucapkannya. Di mana aku taruh semua itu? Akupun sedang mencarinya kembali.

Sampai kapan engkau akan senantiasa datang berceloteh padaku? Inilah yang membuatku senantiasa tersenyum ketika melihat mendung, karena aku tahu rintik hujan itu senantiasa mengingatkanku untuk memaknai kehidupan ini. Mengingatkanku tentang siapa aku, untuk apa aku di sini, hingga aku tahu ke mana aku akan melangkah.

Ia semakin deras berjatuhan, dan aku semakin termenung dalam lamunan. Bukan, bukan sekedar melamun, tapi aku sedang mengumpulkan puing-puing iman untuk membangunnya kembali. Ah, aku tak mau malu lagi pada tetesan hujan itu. Agar kelak ketika ia datang kembali berceloteh padaku, aku bisa berceloteh padanya dengan bangga. Inilah aku dan imanku.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Isnaini Nurhidayati
Isnaini Nurhidayati akrab di panggil mbak Is atau Na. Gemar Menulis segala hal yang kebetulan terlintas di pikirannya. Mencari Keberkahan d setiap kata...

Lihat Juga

Cerita di Kala Hujan