Home / Berita / Internasional / Asia / Pertama kali, Khutbah Jumat di Masjidil Haram Dalam Tiga Bahasa

Pertama kali, Khutbah Jumat di Masjidil Haram Dalam Tiga Bahasa

Masjidil Haram - Foto: hajis.co.uk
Masjidil Haram – Foto: hajis.co.uk

dakwatuna.com – Mekah.  Untuk pertama kalinya, khutbah Jumat di Masjidil Haram, Mekah, akan disampaikan dalam tiga bahasa. Yakni Arab, Inggris, dan Urdu.

Penyampaian khutbah dalam selain Arab ditujukan agar pesan yang disampaikan khatib bisa pula dipahami orang-orang yang bukan penutur bahasa Arab.

Dilansir World Bulletin, jamaah Jumat di Masjidil Haram akan diberi perangkat earphone untuk mendengarkan khutbah sesuai dengan bahasa yang mereka pilih.

“Selanjutnya, mereka tinggal mendengarkan terjemahan khutbah secara live seperti yang sedang dibacakan oleh khatib melalui frekuensi FM,” tulis media Turki tersebut, Sabtu (1/3).

Khutbah Jumat dalam tiga bahasa ini sekarang masih sedang diuji di Mekah. Menurut rencana, pengujian skema baru ini akan segera pula disusul oleh Masjid Nabawi, Madinah, situs paling suci kedua bagi umat Islam. (ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Mr. Dean

    Saya heran,
    Menggunakan biji tasbih saja,oleh orang2 yang berhaluan mereka, dibilang bid’ah,
    ini mau pakai earphone segala…
    Benar2 tidak konsisten!

    Kalau ada yang bilang ini masalah dunia (bukan akhirat),
    Saya nggak habis pikir, ternyata sebegini piciknya cara mereka memandang sesuatu.
    Mungkin peribahasa yg cocok adalah : “Semut di sebrang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”
    Wallahu a’lam.

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Darurat Tapi Belum Terlambat