Home / Berita / Nasional / Tangisan Keinsafan di Sebuah Jumat

Tangisan Keinsafan di Sebuah Jumat

Budi Banjir, Relawan ACT menggapai hidayat di shalat jumat pertamanya - Foto: Yusnirsyah/ACT
Budi Banjir, Relawan ACT menggapai hidayat di shalat jumat pertamanya – Foto: Yusnirsyah/ACT

dakwatuna.comJangan terkecoh penampilan lahiriah seseorang. Tetaplah berprasangka positif dan hikmati hasilnya. Seperti kisah yang didapat dari kawasan yang baru terpapar impak erupsi Kelud di desa Satak, Puncu, Kediri.

Sapaannya, unik. Budi Banjir. Lelaki beralis tebal kelahiran Puncu tahun 1974 ini, dikenal sosok yang ringan tangan. “Mas Budi orangnya loman, kalau punya duit tak segan menyerahkan sebagian besar rezkinya untuk saudara-saudaranya yang memerlukan. Dia juga mudah merasa iba,” ujar Anisah (34), adik sepupu Budi.

Budi punya masa lalu kelam. Itu akibat salah gaul. Sebelas kali ia keluar masuk bui karena kriminal, bahkan salah satunya kriminal berat. Budi penyuka volleyball. Dengan kepiawaiannya men-smash, ia bisa menggaet simpati gadis-gadis penontonnya dari lain dusun. Dulu ia playboy dengan banyak pacar. Masa lalu itu kini banyak mengundang sesal.

Budi juga penyayang keponakan-keponakannya, selain senang menambah atau mengganti tato pada tubuhnya. Pernah menghapus tato, dan kerap menambah tato baru sehingga sampai saat ini badannya penuh tato.

Budi Banjir: mengapa ia disapa begitu? “Nggak tahu,” katanya singkat. Pantas saja Budi enggan menjelaskannya. Menurut keluarganya, asal-usul sapaan itu, karena Budi kerap ngompol saat kanak-kanak dan sebutan itupun terbawa hingga ia dewasa.

Usai melalui masa lalu yang penuh petualangan, Budi mulai menata diri. Menikah dan punya dua anak. Keterbatasan hidup, dan warna kelam masa lalunya, tak ingin membuat anak-anaknya menderita. Dua anaknya diasuh kakaknya, Lasmiati, di Bojonegoro, Jawa Timur. Sementara Budi bekerja di Puncu, sang istri memilih bekerja di Taiwan.

Saat ACT hadir di Puncu, Budi terjun sebagai relawan. Mantan residivis ini benar-benar berupaya merevisi hidupnya. Hanya saja, dunia kelam dari masa lalunya, membuatnya tak kenal bagaimana cara shalat. Seorang ustadz pernah mencoba membimbingnya, hidayah belum terpancar. Maklum, berbilang tahun tak pernah ke masjid.

Sampai pekan lalu, tepat hari Jumat. Suara mengaji menghantar jelang adzan. “Saya mengajak Budi ke masjid. Ia manut tapi mengaku tak bisa shalat,” jelas M. Insan Nurrohman, Vice President ACT yang memimpin aksi kemanusiaan ACT untuk korban Kelud. “Sudah, Mas Budi ikut saja apa yang saya lakukan. Ayo, jumatan,” ajak Insan. Itulah Jumatan pertamanya di masjid setelah bertahun-tahun tidak shalat.

Di tengah shalat Jumat, Budi sesenggukan. Lelaki gagah penuh tato itu menangis, dalam khidmatnya shalat Jumat. “Waktu shalat saya melihat dosa-dosa saya. Saya menyesal sekali,” tuturnya. Maka ia menangis. Ia ingin menebus semua dosanya dengan berbuat baik.

“Budi, relawan ACT yang berjasa membuka jalur ke Puncu dan Satak. Bersama-sama para relawan sejak ACT hadir di desanya, ia terbawa pusaran keikhlasan bekerja. Ia tak berat diajak beribadah dan mendapat hidayah,” ujar Insan.  Ya, relawan tangguh itu, Budi, manusia baru dengan tekad menebus kelamnya masa lalu dengan banyak kebaikan. Ia akan lakoni kebaikan itu sekuat tenaganya. (ACT/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 6,86 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Sejuki

    Sub-haanallaahhh……

  • Busu Maju Putera

    Allohuakbar

Lihat Juga

Bantuan Ambulance MTT untuk Suriah