Home / Berita / Opini / Valentine’s Day, Peruntuh Moral Remaja

Valentine’s Day, Peruntuh Moral Remaja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)

dakwatuna.com“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra: 36)

Bagi kawula muda, Februari diidentikkan dengan bulan kasih sayang. Bulan yang dihiasi dengan proses pengutaraan kasih sayang kepada lawan jenis yang disertai pemberian hadiah baik berupa boneka, coklat, bunga, kartu ucapan dan lain sebagainya yang telah dihias sedemikian rupa agar terkesan cantik, indah dan menarik perhatian si target ditambah lagi moment ini diidentikkan dengan warna-warna bernuansa pink yang kata mereka agar memberi corak romantis. Kepopuleran perayaan ini di dunia barat seperti Amerika dan daerah eropa sangat luar biasa di kalangan para remajanya yang dihiasi dengan pesta pora hingga berujung free sex.

Para remaja yang berada dalam masa-masa pubertas sering menyebutnya dengan “valentine’s day” atau secara sederhana ini dapat kita artikan dengan hari kasih sayang. Dalam satu sisi sungguh menarik dan ini menjadi sebuah motivasi untuk menumbuhkan karakter saling menyayangi antar sesama dan tentunya ini sejalan dengan anjuran Islam untuk saling menyayangi sesama makhluk hidup. Namun, yang sangat disayangkan adalah dalam praktek valentine’s day ternyata sangat jauh terdistorsi dari anjuran Islam, para pemuda mengkhususkan hari ini dengan saling bertukar kasih dan berbagi sayang dengan lawan jenis mereka yang belum sah secara ikatan agama dan terbatas kepada orang tertentu saja, yang lebih parahnya dalam prakteknya lebih terkesan hanya ajang melampiaskan nafsu semata. Hal inilah yang menjadi titik ketidaksepakatan saya menyikapi perayaan event tersebut, ditambah lagi bahwa event ini bukanlah ritual wajib yang diajarkan Islam kepada umatnya.

Sejarah Valentine’s Day

Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)
Ilustrasi. (Foto: nayzak.deviantart.com)

Berdasarkan yang dikutip dari Webster’s New 20th Century Dictionary perayaan Valentine berasal dari perayaan Lupercali. Yaitu upacara ritual keagamaan yang dilakukan oleh orang-orang Romawi kuno setiap tanggal 15 Februari sebagai penghormatan kepada Lupercus dewa padang rumput yang dideskripsikan mempunyai tanduk, kaki, dan telinga seperti kambing. Pada perayaan itu nama-nama wanita dimasukkan ke dalam jambangan bunga. Setiap pria yang hadir mengambil secarik kertas. Wanita yang namanya tertera dalam kertas itu menjadi teman kencannya semalam suntuk.

Ketika Kristen masuk ke Roma, maka pada tahun 469 pihak gereja yakni Paus Gelecius merubah perayaan ini menjadi tanggal 14 Februari untuk mengenang kematian seorang pendeta yang bernama Saint Valentine yang tewas sebagai martir (martir adalah orang suci dalam ajaran katolik) dan menetapkan perayaan menjadi Saint Valentine’s Day. Dalam satu versi sejarah diceritakan bahwa Pastor Valentine ditangkap dan dipenjara karena menentang kebijakan kaisar Romawi (Cladius II) yang melarang pemuda-pemudi untuk menikah.

Sang kaisar beranggapan bahwa seorang tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di medan perang bila dibandingkan tentara yang telah menikah. Tetapi langkah sang kaisar ditentang oleh pastor valentine, yang secara diam-diam telah menikahkan sepasang muda-mudi. Hal ini diketahui oleh sang kaisar, sehingga memunculkan kemarahan yang sangat luar biasa dari sang kaisar. Akhirnya sang pastor dijatuhi hukuman gantung pada tanggal 14 Februari 269.

Perayaan valentine ini mulai semarak sejak tahun 1800 dan berkembang pesat hingga saat ini. Dan akhirnya event ini menjadi ajang bisnis yang sangat menguntungkan. Memang tidak ada yang pasti terkait sejarah valentine day ini, namun yang pasti ini adalah ritual yang bukan berasal dari Islam sehingga kita pantas dan patut untuk meninggalkan momen ini yang sebenarnya bisa menjerumuskan kita pada kekufuran bahkan kepada kesyirikan tanpa disadari.

Sisi negatif Valentine’s Day

Valentine’s Day ini memberikan warna negatif bagi kehidupan para remaja yang sedang mengalami masa-masa pubertasnya. Munculnya akhlak baru yang sangat mengkhawatirkan imbas dari Valentine’s Day ini harus menjadi perhatian serius seluruh pihak khususnya orang tua karena akan menggerogoti moral remaja secara perlahan-lahan dan akhirnya menuju titik kehancuran.

Adapun sisi negatif dari Valentine’s Day adalah Pertama, munculnya akhlak tasyabuh yaitu akhlak meniru orang lain dengan tanpa mengetahui dan mempertimbangkan sebab dilakukannya valentine’s day. Dalam hal ini Rasulullah saw mengingatkan umatnya dengan sebuah hadits: “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut,” [HR. Tirmidzi.]. Karena dengan mengikuti Valentine berarti kita sedang mengikuti tradisi yang ditradisikan oleh kaum non-muslim.

Kedua, memunculkan sifat pendusta dan lupa diri. Selalu di tanggal 14 Februari ini kalangan yang didominasi remaja menyibukkan diri untuk membeli sebuah hadiah dan membuatnya agar menjadi tampilan yang menarik. Ada yang membungkus dengan kertas kado, dibalutkan pita warna pink membubuhkan tulisan bernuansa puitis, dan lain sebagainya.

Realitasnya mereka sendiri sedang kekurangan dana namun tetap bersikukuh untuk memberikan yang terbaik kepada orang yang disebut kekasih itu. Kalau kita ingin berfikir lebih dewasa dan bersikap jujur, kenapa kita harus sangat berkorban untuk memberi hadiah itu kepada lawan jenis dengan label ”orang yang disayangi” tapi di sisi lain kita malah melupakan orang seharusnya lebih kita sayangi yaitu orangtua kita. Dengan bangga dan senangnya mereka menghadiahkan sesuatu kepada targetnya namun bersamaan dengan itu mereka mengabaikan orang tuanya yang menjadi sumber penghasilan dia untuk membeli hadiah itu. Sungguh sangat memiriskan hati melihat kondisi ini.

Ketiga, Valentine’s Day merupakan ajang bisnis yang hanya memberi keuntungan kepada pihak kapitalis dan memposisikan umat Islam khususnya para remaja sebagai konsumen semata. Mereka memproduksi barang-barang untuk kepentingan perayaan, dan pembelinya adalah umat Islam. Begitu pula dengan penyedia tempat hiburan, mereka akan berlomba-berlomba menyediakan fasilitas hingga berbau acara perayaan akan terkesan lebih meriah yang pada kenyataannya mereka hanya mencari keuntungan finansial semata.

Keempat, desakralisasi seks. Diakui ataupun tidak dalam perayaan Valentine ’s Day telah membuka ruang terjadinya pergaulan yang hura-hura, pesta pora karena pada perayaan tersebut bukan hanya sekadar mengutarakan kasih sayang, namun akan dihiasi pesta yang pada akhirnya berakhirnya dengan free sex. Menjelang perayaan Valentine’s Day penjualan kondom mengalami peningkatan yang sangat pesat. Dan ini menjadi petaka besar bagi kehidupan para remaja.

Ini merupakan kesalahan yang telah berkembang biak di kalangan masyarakat. Semoga kita mampu melepaskan diri dari cengkraman kehancuran perayaan-perayaan aneh dengan label apapun. Sungguh Islam merupakan agama yang menganjurkan kita untuk saling berkasih sayang, saling menjaga, menyenangkan orang lain setiap saat, tidak terbatas dengan dimensi dan waktu. Sehingga kita mampu mengamalkan keindahan kasih sayang ini tanpa mengotori pelaksanaannya dengan kebodohan kita. Kalaupun kita ingin memberi yang terbaik berilah kepada yang paling pantas menerimanya yaitu orangtua, sahabat kita yang selalu menyayangi kita dan kita tidak pernah berniat mengkhususkan untuk hari tertentu saja. Jadikan setiap hari menjadi hari “kasih sayang” dan berikan itu untuk semua orang. Dalam sebuah hadits Nabi saw menyampaikan kepada kita “Belum sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Wallahu a’lam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Putra Rizki Pratama
Seorang pemuda asal Aceh yang saat ini bergabung di lembaga GEMAR Aceh dan juga pegiat Lingkar Studi Kritis (LSK).

Lihat Juga

prostitusi

Remaja di Pusaran Prostitusi